<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893</id><updated>2012-02-16T09:59:32.511-08:00</updated><category term='HIKMAH'/><category term='Manajemen'/><category term='AKHLAQ'/><category term='EKONOMI'/><category term='TEKS B.INGGRIS'/><category term='Teknologi'/><category term='filsafat ilmu'/><category term='KISAH-KISAH'/><category term='ILMIAH'/><category term='ISLAM'/><category term='FILSAFAT'/><category term='AQIDAH'/><title type='text'>Ziyn's kreasi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5386820661361058266</id><published>2011-12-07T17:31:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T17:31:54.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><title type='text'>Syirik Penyebab Kerusakan Dan Bahaya Besar</title><content type='html'>Islam adalah agama yang datang untuk menegakkan tauhid, yaitu meng-Esa-kan Allah. Sebagaimana kita telah bersaksi dalam setiap harinya paling tidak dalam shalat kita. (أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا  رَسُوْلُ اللهِ), yang bermakna tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Yang mana pada kalimat (لاَ إِلَهَ) terdapat makna penafian (peniadaan) sesembahan selain Allah dan (إِلاَّ اللهُ) menetapkan sesembahan untuk Allah semata. Tetapi begitu banyak umat Islam yang tidak konsisten kepada tauhid, mereka tidak lagi menyembah kepada Allah semata.&lt;span class="fullpost"&gt;  Bahkan banyak di antara mereka yang berbuat syirik, menyembah kepada selain Allah baik langsung maupun tak langsung, baik disengaja maupun tidak. Banyak di antara mereka yang pergi ke dukun-dukun, paranormal, tukang santet, tukang ramal, mencari pengobatan alternatif, mencari penglaris, meminta jodoh dan lain sebagainya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, banyak umat Islam yang berbuat syirik tapi mereka berkeyakinan bahwa perbuatannya itu adalah suatu ibadah yang disyari’atkan dalam Islam (padahal tidak demikian). Inilah penyebab utama terjadinya musibah di negeri kita dan di negeri saudara-saudara kita, disebabkan umat tidak lagi bertauhid dan banyak berbuat syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menurunkan agama tauhid ini untuk mengangkat derajat dan martabat manusia ke tempat yang sangat tinggi dan mulia. Di akhirat kita dimasukkan ke dalam Surga dan di dunia kita akan diberikan kekuasaan. Dan Allah menurunkan agama tauhid ini untuk membebaskan manusia dari kerendahan dan kehinaan yang di akibatkan oleh perbuatan syirik. Sebagai firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan mengukuhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar(keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam   barsabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan masuk Neraka.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik adalah sebesar-besar dosa yang wajib kita jauhi, karena perbuatan syirik (menyekutukan Allah) menyebabkan kerusakan dan bahaya yang besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Di antara kerusakan dan bahaya akibat perbuatan syirik adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Syirik merendahkan eksistensi kemanusiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Syirik menghinakan kemuliaan manusia, menurunkan derajat dan martabatnya. Sebab Allah menjadikan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi. Allah memuliakannya, mengajarkan seluruh nama-nama, lalu menundukkan baginya apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. Allah telah menjadikan manusia sebagai penguasa di jagad raya ini. Tetapi kemudian ia tidak mengetahui derajat dan martabat dirinya. Ia lalu menjadikan sebagian dari makhluk Allah sebagai Tuhan dan sesembahan. Ia tunduk dan menghinakan diri kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ada sebagian dari manusia yang menyembah sapi yang sebenarnya diciptakan Allah untuk manusia agar hewan itu membantu meringankan pekerjaannya. Dan ada pula yang menginap dan tinggal di kuburan untuk meminta berbagai kebutuhan mereka. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) di buat orang. (Berhala-berhala) itu benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan”. (Al-Hajj: 20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ketempat yang jauh”. (Al-Hajj: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Syirik adalah sarang khurofat dan kebatilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan perbuatan syirik, “barang dagangan” dukun, tukang nujum, ahli nujum, ahli sihir dan yang semacamnya menjadi laku keras. Sebab mereka mendakwahkan (mengklaim) bahwa dirinya mengetahui ilmu ghaib yang sesungguhnya tak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah. Jadi dengan adanya mereka, akal kita dijadikan siap untuk menerima segala macam khurofat/takhayul serta mempercayai para pendusta  (dukun). Sehingga dalam masyarakat seperti ini akan lahir generasi yang tidak mengindahkan ikhtiar (usaha) dan mencari sebab serta meremehkan sunnatullah (ketentuan Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Syirik adalah kedholiman yang paling besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yaitu dhalim terhadap hakikat yang agung yaitu (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Adapun orang musyrik mengambil selain Allah sebagai Tuhan serta mengambil selainNya sebagai penguasa. Syirik merupakan kedhaliman dan penganiayaan terhadap diri sendiri. Sebab orang musyrik menjadikan dirinya sebagai hamba dari makhluk yang merdeka. Syirik juga merupakan kezhaliman terhadap orang lain yang ia persekutukan dengan Allah karena ia telah memberikan sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Syirik sumber dari segala ketakutan dan kecemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Orang yang akalnya menerima berbagai macam khurofat dan mempercayai kebatilan, kehidupannya selalu diliputi ketakutan. Sebab dia menyandarkan dirinya pada banyak tuhan. Padahal tuhan-tuhan itu lemah dan tak kuasa memberikan manfaat atau menolak bahaya atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Karena itu, dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan kemusyrikan, putus asa dan ketakutan tanpa sebab merupakan suatu hal yang lazim dan banyak terjadi. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang yang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak memberikan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang dhalim”. (Ali-Imran: 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima Syirik membuat orang malas melakukan pekerjaan yang bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Syirik mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mengandalkan para perantara, sehingga mereka meremehkan amal shalih. Sebaliknya mereka melakukan perbuatan dosa dengan keyakinan bahwa para perantara akan memberinya syafa’at di sisi Allah. Begitu pula orang-orang kristen melakukan berbagai kemungkaran, sebab mereka mempercayai Al-Masih telah menghapus dosa-dosa mereka ketika di salib. Sebagian umat Islam mengandalkan syafaat Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam   tapi mereka meninggalkan kewajiban dan banyak melakukan perbuatan haram. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam berkata kepada putrinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِيْنِيْ مِنْ مَالِيْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا. (رواه البخاري).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah dari hartaku sekehendakmu (tetapi) aku tidak bermanfaat sedikitpun bagimu di sisi Allah”. (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Syirik menyebabkan pelakunya kekal dalam Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Syirik menyebabkan kesia-siaan dan kehampaan di dunia, sedang di akhirat menyebabkan pelakunya kekal di dalam Neraka. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya ialah Neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang dhalim itu seorang penolongpun”. (Al-Maidah: 72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: Syirik memecah belah umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang memper-sekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (Ar Ruum: 31-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Itulah berbagai kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan perbuatan syirik. Yang jelas Syirik merupakan penyebab turunnya derajat dan martabat manusia ke tempat paling hina dan paling rendah. Karena itu Wahai hamba Allah, yang beriman ... Marilah kita bertaubat atas segala perbuatan syirik yang telah kita perbuat dan marilah kita peringatkan dan kita jauhkan masyarakat di sekitar kita, anggota keluarga kita, sanak famili kita, dari syirik kerusakan dan bahayanya. Agar kehinaan dan kerendahan yang menimpa ummat Islam segera berakhir, agar kehinaan dan kerendahan ummat Islam diganti menjadi kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dari pembahasan pada pembahasan tadi, telah jelas bagi kita bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa yang wajib kita jauhi. Kita harus bersih dari noda syirik. Harus selalu takut  kita terjerumus kedalamnya, karena ia adalah dosa yang paling besar. Disamping itu, syirik dapat menghapuskan pahala amal shalih yang kita lakukan, atau menghalangi kita masuk jannah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”  (Az-Zumar: 65) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5386820661361058266?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5386820661361058266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5386820661361058266&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5386820661361058266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5386820661361058266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2011/12/syirik-penyebab-kerusakan-dan-bahaya.html' title='Syirik Penyebab Kerusakan Dan Bahaya Besar'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8255932562798956429</id><published>2011-12-07T17:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T17:30:16.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>ALLAH Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa</title><content type='html'>kebiasaan orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt. adalah berjalan-jalan di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-8255932562798956429?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/8255932562798956429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=8255932562798956429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8255932562798956429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8255932562798956429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2011/12/allah-tidak-ridha-kepada-orang-yang.html' title='ALLAH Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-7157459719920664079</id><published>2011-12-07T17:28:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T17:28:32.979-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>Tiga Amalan Baik</title><content type='html'>Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala di puji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar yang kita singkat TIGA IS.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Istiqomah. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai asulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh &lt;/b&gt;pertimbangan dalam setiap keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.&lt;br /&gt;Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini dan bicaralah esok hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي عن جابر).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barang kali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-7157459719920664079?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/7157459719920664079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=7157459719920664079&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/7157459719920664079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/7157459719920664079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2011/12/tiga-amalan-baik.html' title='Tiga Amalan Baik'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6113892173670286964</id><published>2011-01-09T11:01:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T11:01:22.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EKONOMI'/><title type='text'>Cabai, Beras, dan BBM</title><content type='html'>Salah satu bahan makanan yang mengalami kenaikkan harga adalah cabe merah. Seperti dikutip dari situs inilah.com (4/1), Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, menyatakan bahwa harga cabai memang kerap mengalami kenaikan apabila cuaca tidak menentu, ataupun perayaan Hari Besar. Dari pernyataan tersebut dapat dilihat betapa harga cabe merah sangat berpengaruh dengan cuaca. Di beberapa kota di Indonesia harga cabe merah sudah mengalami kenaikan hingga 100%. Seperti di Bandung, harga &lt;span class="fullpost"&gt; cabe merah telah sampai kepada Rp.60 ribu per kilogram. Di  kota-kota lain harga cabe merah ada yang menembus hingga angka Rp.80 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabe merah ini masih terus berlangsung dalam dua bulan terakhir, dan berdampak kepada naiknya inflasi mejadi 0,6%.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkang sulitnya mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand menyebabkan berkurangnya pasokan beras dalam negeri. Vietnam dan Thailand sebagai negara pengekspor beras terbesar pada 2010, mulai mengetatkan kuota beras yang diekspornya, hal itu dikarenakan adanya kekawatiran bahwa mereka akan kekurangan stok beras bagi negaranya sendiri. Untuk tahun 2011 ini Thailand maupun Vietnam akan menahan ekspor beras, guna memperkuat cadangan beras lokal mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adanya pengurangan jumlah stok beras yang diimpor oleh dua negara tersebut akan berdampak kepada meningkatnya harga beras di dunia. Akan tetapi, harusnya sebagai negara yang pernah beberapa kali melakukan swasembada beras, seperti di tahun 1985, 2007 dan 2008, harga beras Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap fenomena tersebut. Sudah seharusnya untuk tahun 2011 ini, pemerintah harus menggenjot produksi beras dalam negeri, hal ini berkaitan dengan adanya potensi sulitnya impor beras. Selain itu diharapkan juga pemerintah dapat mengendalikan harga beras dalam negeri, serta mulai memanjakan petani dengan memberikan fasilitas yang memadai untuk mendukung meningkat produksi beras dalam negeri. Keadaan iklim yang tidak menentu, juga harus diperhatikan oleh banyak pihak, karena hal ini sudah pasti dapat berpengaruh terhadap produksi pangan dalam negeri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terkahir, selain harga cabe merah, dan beras, masyarakat juga khawatir oleh adanya kenaikan harga BBM di tahun 2011 ini. Harga BBM nonsubsidi di tanah air, seperti Pertamax melonjak hingga Rp. 7.500 per liter. Seperti dikutip dari VIVAnews (4/1), meningkatnya harga Pertamax tersebut dikarenakan adanya kenaikkan harga minyak dunia dalam 26 bulan terakhir, . Hal ini diprediksi akan terus naik dan dapat menembus 100 dolar AS. Tentu saja hal ini akan berdampak pada meningkatnya harga Pertamax terus menerus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti dikutip dari poskota.com (4/1), adanya kenaikan harga BBM saat ini disebabkan, “juga” karena adanya perubahan cuaca yang ekstrim di Eropa. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhannya minyak mentah di Negara-negara di benua Eropa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adanya peningkatan harga BBM di pasar internasional secara terus menerus, disertai dengan akan adanya penerapan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, akhirnya akan membuat pengguna mobil, akan beralih kepada subtitusinya yaitu motor. Karena lama kelamaan masyarakat kelas menengah akan mengalami kesulitan untuk membeli BBM dengan Pertamax atau Pertamax Plus. Selain itu, yang harus diperhatikan lagi adalah, ketika harga BBM naik maka, harga transportasi untuk proses distribusi juga akan naik, dan hal ini pada akhirnya akan berimbas kepada meningkatnya juga harga-harga produk lainnya. Terjadi atau tidak masyarakat harus sudah mulai waspada terhadap peningkatan harga ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.wartaekonomi.co.id/berita-116735126-tiga-kekhawatiran-masyarakat-cabai-beras-dan-bbm.html"&gt;Gilang Widya&lt;br /&gt;(gilang@wartaekonomi.com)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6113892173670286964?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6113892173670286964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6113892173670286964&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6113892173670286964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6113892173670286964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2011/01/cabai-beras-dan-bbm.html' title='Cabai, Beras, dan BBM'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6428206977749536412</id><published>2011-01-09T10:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T10:45:52.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Indonesia jadi anggota IWAIT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vVPcGz_TvdY/TSoCJ715nEI/AAAAAAAAAEA/EPIfNVnqQfA/s1600/44pembukaan%2BIWAIT.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="218" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_vVPcGz_TvdY/TSoCJ715nEI/AAAAAAAAAEA/EPIfNVnqQfA/s320/44pembukaan%2BIWAIT.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;International Workshop on Advanced Image Technology atau IWAIT, subuah Konferensi internasional khusus kalangan para peneliti, akademisi dan kalangan profesional di bidang teknologi citra terkini kembali digelar. Kali ini, Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah , Kenferrensi dibuka oleh Menteri Riset &amp; Teknologi RI, Suharna Surapranata . Ajang yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 7-8 Januari di Hotel Santika Premiere, Jakarta. Penyelanggaraanya dipercayakan kepada Univesitas Multimedia Nusantara (UMN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kepercayaan sebagai tuan rumah, sekaligus menandakan secara resmi masuknya Indonesia ke dalam jajaran board member IWAIT. Konferensi internasional yang pertama kali diselenggarakan di Jeju Island, Korea Selatan pada tahun 1998 ini digagas oleh Prof. Masayuki Nakajima dari Tokyo Institute of Technology, serta Prof. Sang Uk-LEE dari Seoul National University, Korea Selatan. Sampai tahun ini, tercatat sudah ada 14 negara yang tergabung sebagai anggota IWAIT. Setiap anggota berkomitmen ketersediaan makalah hasil penelitian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penyelenggaraannya tahun ini, sejumlah pembicara yang berkompeten di bidangnya akan hadir untuk memaparkan makalah dengan topik paling hangat yang sedang menjadi pembicaraan tidak hanya di Asia namun di dunia. Sebagai contoh, sebagai pembuka akan hadir Prof. Charles M.Falco dari University of Arizone, USA dengan topik “Ibn al-Haytham and The Origins of Image Technology”. Atau pada hari kedua akan hadir Masayuki Tanimoto, dari Universitas Nagoya Jepang yang akan membahas tema “Free-viewpoint TV”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.M Winarno, Director of Risearch &amp; Community Outreach, UMN selaku ketua umum penyelenggara IWAIT 2011 mengatakan, dengan penyelenggaraan IWAIT khususnya di Indonesia, diharapkan peneliti bidang teknologi citra di Indonesia dapat lebih berperan aktif dalam kegiatan IWAIT serta tidak ketinggalan isu dan perkembangan terhangat di Asia dan dunia internasional. Sekaligus juga, melalui ajang semacam ini bisa menjadi ruang sarana dan motivasi bagi peneliti Indonesia untuk bisa bertukar gagasan dan berkontribusi pada perkembangan teknologi citra di Indonesia khususnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.wartaekonomi.co.id/berita-117201361-indonesia-jadi-anggota-iwait-.html"&gt;Sufri Yuliardi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6428206977749536412?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6428206977749536412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6428206977749536412&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6428206977749536412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6428206977749536412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2011/01/indonesia-jadi-anggota-iwait.html' title='Indonesia jadi anggota IWAIT'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vVPcGz_TvdY/TSoCJ715nEI/AAAAAAAAAEA/EPIfNVnqQfA/s72-c/44pembukaan%2BIWAIT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5015215591206208040</id><published>2010-12-12T09:31:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T09:31:15.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEKS B.INGGRIS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>PLANNING INCOME AND EXPENSE EVERY MONTH</title><content type='html'>In my previous article, I said that there are several things to help your finance every month :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Plan your income and expense every month&lt;br /&gt;   2. Do the plan strictly&lt;br /&gt;   3. Have reserves fund&lt;br /&gt;   4. Take some insurances &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This article will discuss point 1 and 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Plan your income and expense every month&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Starting right now, plan when you will get your salary, how much its amount, and when you will spend your money, what the posts and how much the amount of expenses. The plan called Budget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      In example, you will receive this much on your salary on 27th, then from that amount you will use this much for this expense, that amount for that expense, and so on. So, if you make a budget first, you will detect on the first place whether there will be deficit or not in the middle of the month. If yes, you can revise the budget to avoid deficit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Composing budget is very easy. If you have already known the amount of average income and expense every month, you could also predict how much income and expense for the next coming months.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Budget function&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Many people feels uncomfortable to draw up and have budget. They think budget is the same with restrain their shopping desire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      NO. The function of a budget is to inform if your expense surpass your income or not. If yes, you ocan revise the budget so deficit can be avoided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      But, if you do not have budget, you will be difficult to know if your family expense has surpassed the income. So, if there is deficit at the end of the month, you just realize it at that time, after all has happened.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      IMPORTANT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Include saving in your budget. Usually people save their money later, after their money was spent. So, sometimes they cannot save their money because all of their money was spent for shopping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Thereby, it would be better if saving is not included later but earlier. Therefore, when you draw up a budget, insert saving as one of the posts that you must do earlier, at least after you repay your loan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Do the plan strictly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      A plan is useless if it is not done. In here, plan of income and expense as much as Rp250,000, if you strictly obey and want to do according the budget, at the end of the month the discrepancy between income and expense of your family will be certainly figured out, namely Rp250,000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Thereby, it would be easier to make another plan froward, because you have already known that every end of the month you surely have discrepancy of Rp250,000, which can be used for another purpose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      However, sometimes people, although have already made up a simple budget, is still unable to meet their budget. If he, i.e. allocated Rp500,000 per month for shopping, the figure could expand to Rp750,000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      This can be prevented with a harder system, namely 'envelope system'. If you have already drawn up a budget, you should allocate the amount right away according to each post. Each post is represented by one envelope. If the money in the envelope is empty, you don't have to try opening the other envelopes, because you have already known that budget for the related post has touched its limit. Envelope system is a little complicated, but perhaps it is the sacrifice that you should doso that you will not experience deficit. The most important, your expense now is more controllable. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: &lt;a herf='http://www.perencanakeuangan.com/files/EveryMonth.html'&gt;Safir Senduk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From IndoExchange.com&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5015215591206208040?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5015215591206208040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5015215591206208040&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5015215591206208040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5015215591206208040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2010/12/planning-income-and-expense-every-month.html' title='PLANNING INCOME AND EXPENSE EVERY MONTH'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5891251550371759289</id><published>2010-12-12T09:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T09:15:29.398-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEKS B.INGGRIS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>A SECRET OF FINANCIAL MANAGEMENT</title><content type='html'>A huge earning is usually considered for measuring the wealth of someone. However, why do so many people with huge income frequently end up running out of money in the middle or at the end of the month? What is the problem?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you have a job now, do you remember the first one you ever had? Usually, the first experience on work is the most unforgettable experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's take an example. Anto was still living with his family until he got a job at the age of 23, as a clerk in a trading company. At that time, he had just graduated. Although he had to go through a probationary period, Anto was so excited when he knew that he would get his first salary. His salary was Rp 600,000, which he would receive on the 27th.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can guess what he would want to do: he wanted to treat his family. He wanted to express his gratitude for getting a salary for the first time in his life, and he also wanted to show them that he was independent now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's see: he received the salary on the 27th. On the 29th he took his family out for a meal in an all-you-can-eat restaurant, so each of them could satisfy their appetite. The pre-tax cost for one person was Rp 22,000, and after tax was Rp 24,200 per person. All of his family members were 7, consisting of his father, mother, one big brother and 3 annoying younger brothers. All was 6, plus Anto made it 7. It means that he had to pay the dinner bill of Rp 169,400. Which means, only 2 days after he received his salary, he had already spent 28% out of his salary for that month. So, he had only Rp 430,600 left for the rest of the month.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No problem", thought Anto. "It's my own family that I treated, not other people. Besides, it's not every day I do that. Once a month is enough." Days went by. One week, 2 weeks, 3 weeks. "Hmm…that stuff in the mall looks pretty good. There is a very interesting looking shirt. Okay, it costs Rp 28,000. There's also this nice pair of trousers to wear for work. Very cheap, costs only Rp 65,000. It won't hurt to look stylish at the office". He then started buying things. "Okay", Anto thought, "one shirt and a pair of pants for this month. The rest of my salary would be used for transportation and food until the end of the month" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What happened? On the 24th of the next month, just three days before his second-month payday, he had only Rp 50,000 left.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anto started thinking. Okay...., such was because he spent most of his money to treat his family. Also this was his first time working. Within the coming months, his finance would be better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second month, he got his salary again. Still in the same amount. No raise yet. The difference was no more treating the family. Days and weeks went by. A few days before his third salary, he only had Rp 75,000 left.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three months passed by, he was finally accepted as permanent employee. He got a Rp 150,000 raise to Rp 750,000. "Not bad", Anto thought. This meant that I would be able to "breath" and save a little. But strangely, a few days before even one month period ended, his still had only little money left. The sixth month, the seventh month, the eight month, although he got a raise, but he still ran out of money and could not put any into savings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a matter of fact, Anto is not the only one, whose income is under Rp 1m, with this problem. Even people with millions per month income still have trouble saving money.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is really happening? Many people think that by getting a raise, they will not run out of money in the middle of the month and they can save for sure. Every month they hope that they will get a raise the next months. But after they really get a raise, they still run out of money.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is clear that the solution here lies not on how big your income is. The amount of your income does not guarantee that you will not run out of money in the middle of the month. The size of your income does not guarantee that you will be able to save. The key here is not how much money you make, but how you manage your income so that it can be stretched in a one-month period.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no fixed way on the right method to manage your finance. However, based from experiences, there are several things that can help you manage your finance well each month:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Plan your income and outcome every month.&lt;br /&gt;   2. Carry out the plan strictly.&lt;br /&gt;   3. Have reserved fund.&lt;br /&gt;   4. Join insurance plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the next number, we will discuss each of the approaches.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a herf='http://http://www.perencanakeuangan.com/files/Secret.html'&gt;&lt;br /&gt;By: Safir Senduk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a herf='http://indoexchange.com'&gt;&lt;br /&gt;From IndoExchange.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5891251550371759289?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5891251550371759289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5891251550371759289&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5891251550371759289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5891251550371759289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2010/12/secret-of-financial-management.html' title='A SECRET OF FINANCIAL MANAGEMENT'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-7032390484630613812</id><published>2010-11-28T11:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-07T13:17:08.381-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat ilmu'/><title type='text'>PARADIGMA</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pengertian Paradigma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa inggris, berasal dari kata paradigm. Dari bahasa yunani, berasal dari kata para diegma, para (disamping, disebelah) dan dekynai (memperlihatkan yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal).&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Beberapa pengertian Paradigma menurut Kamus Filsafat (2005:779):&lt;br /&gt;1. Cara memandang sesuatu.&lt;br /&gt;2. Dalam ilmu pengetahuan: model, pola, ideal. Dari model-model inilah fenomen yang dipandang dijelaskan.&lt;br /&gt;3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Dan ini melekat didalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.&lt;br /&gt;4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.&lt;br /&gt;Paradigm adlah pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;Menurut Kuhn, paradigma sebagai seperangkat kayakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita, baik dalam tindakan keseharian ataupun dalam tindakan ilmiah. Kuhn juga beranggapan bahwa teori-teori ilmiah dibangun sekitar paradigm-paradigma dasar, misalnya model tata surya untuk atom, dan perubahan-perubahan dalam teori ilmiah menurut paradigm-paradigma baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pandangan Kuhn Tentang Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran Kuhn tentang cara ilmu berkembang dapat diringkaskan dalam suatu skema yang Open-ended, artinya sebuah akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Skemanya adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;Pra ilmu - ilmu biasa - krisis - revolusi - ilmu biasa baru - krisis baru &lt;br /&gt;Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi yang mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan terarah pada saat suatu paradigma tunggal telah dianut suatu masyarakat ilmiah. Para pekerja pada suatu paradigma mempraktekkan natural sciene (ilmu biasa, menurut Kuhn). Para ilmuwan biasa akan menjelaskan dan mengembangkan paradigma dalam usaha untuk mempertanggungjawabkan dan menjabarkan prilaku beberapa aspek yang relevan dengan dunia nyata ini, sebagaimana diungkapkan lewat hasil-hasil eksperimen. Dalam melakukan ini, mereka tidak akan terelakan dari mengalami kesulitan dan menjumpai falsifikasi-falsifikasi. Apabila telah bebas dari kesulitan tersebut, maka berkembanglah keadaan krisis. Krisis teratasi apabila lahir paradigma yang baru sepenuhnya dan menarik makin banyaknya ilmuwan sampai akhirnya paradigma orisinal yang telah menimbulkan masalah itu dilepaskan. Perubahan terus-menerus dan terputus-putus itu merupakan revolusi ilmiah. Paradigma yang baru, yang penuh dengan janji tidak terkurung dari kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diatasi, sekarang lantas membimbing aktivitas ilmiah yang baru dan biasa sampai pada akhirnya ia pun jatuh pada kesukaran yang serius dan timbullah krisis baru yang diikuti oleh suatu revolusi baru.&lt;br /&gt;Paradigm ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia, yakni bagaimana, apa, dan untuk apa. Tiga pertanyaan dasar itu kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi, yaitu: dimensi ontologism, dimensi epistemologis, dimensi axiologis, dimensi retorik, dimensi metodologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-7032390484630613812?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/7032390484630613812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=7032390484630613812&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/7032390484630613812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/7032390484630613812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2010/11/paradigma.html' title='PARADIGMA'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8748499181680588428</id><published>2009-10-01T19:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T19:50:18.207-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>Siksaan Demi Siksaan</title><content type='html'>Abu Thalib enggan menyerahkan Muhammad. Ketegangan di Mekah pun kian sengit. Saad bin Abu Waqas telah dipukuli Abu Jahal dan kawan-kawan. Bilal telah dipaksa oleh tuannya, Umayah, untuk meninggalkan Islam. Ia dicambuki dan diikat telentang di tengah terik padang pasir dengan batu besar menindih perut dan dadanya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahad...ahad, (Yang Esa..Yang Esa)," desis Bilal yang enggan menyerah, sampai kemudian Abu Bakar datang membeli dan membebaskannya. Abu Bakar juga menyelamatkan budak perempuan Umar bin Khattab. Umar saat itu masih memusuhi Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tak luput dari gangguan. Abu Jahal melemparinya dengan isi perut kambing yang baru disembelih. Istri Abu Jahal, ikut melemparkan kotoran binatang ke depan rumah Muhammad. Abu Jahal terus memaki-maki dan mengganggu Muhammad. Ini didengar oleh Hamzah -paman yang juga saudara susu Muhammad. Sepulang dari berburu, ia segera menemui Abu Jahal yang berada di Ka'bah dan menghantamkan busurnya. Hamzah kemudian menemui Muhammad dan menyatakan masuk Islam. Keberadaan Hamzah -yang secara fisik dianggap jagoan-membuat gentar musuh-musuh Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Qurais lalu minta Uthba bin Rabi'ah , seorang yang disegani di sana, membujuk Muhammad. Ia menawarkan apapun yang Muhammad hendak minta asalkan bersedia kembali pada tradisi. Muhammad menyambut Uthba' dengan membacakan surat As-Sajadah (Surat 32). Bacaan yang justru membuat Uthba' terpesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan terhadap pengikut Muhammad kian mengeras. Bahkan ada yang disiksa sampai meninggal meskipun tak ada riwayat yang menyebut pasti nama mereka yang telah mati syahid. Untuk melindungi pengikutnya, Muhammad menyarankan sebagian mereka pindah ke Habsyi -Mesir. Raja Najasyi (Negus) dikenal sebagai seorang Nasrani yang bijak. Sebelas laki-laki dan empat perempuan berangkat dengan berpencar. Menyangka keadaan telah aman, mereka pun pulang. Namun tekanan yang tak kunjung henti, membuat kaum muslimin kembali Hijrah ke Habsyi. Pada gelombang kedua ini, sebanyak 80 laki-laki -tanpa perempuan dan anak-anak-yang berhijrah. Mereka terus tinggal di sana sampai Muhammad hijrah ke Yatsrib atau Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Qurais Mekah mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabia menemui Raja Najasyi. Keduanya minta agar pendatang dari Mekah itu diusir. Sebelum mengambil keputusan, raja meminta orang-orang Islam menjelaskan sikapnya. Dengan penjelasan yang sangat baik, Ja'far bin Abu Thalib berhasil meyakinkan pandangannya. Ja'far juga mengutip ayat-ayat Surat Maryam yang membuat Raja Najasyi semakin percaya pada mereka. Ia berjanji akan tetap melindungi orang-orang Islam. "Antara agama Anda dan agama kami tidak lebih dari garis ini," kata Najasyi sambil menggoreskan tongkat di tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mekah satu peristiwa terjadi. Muhammad, Hamzah, Abu Bakar, Ali dan beberapa sahabat tengah berkumpul di rumah Arqam, dekat bukit Shafa. Umar bin Khattab -seorang temperamental dan tukang berkelahi di lingkungan Qurais- menuju ke sana. Ia menghunus pedang dan mengaku hendak membunuh Muhammad. Nu'aim bin Abdullah yang berpapasan dengan Umar mengatakan bahwa Bani Abdul Manaf akan menuntut balas bila Muhammad sampai tewas. Mengapa Umar tak mengurus keluarganya sendiri? Ketika itu, Fatimah adik Umar beserta suaminya, Said bin Zaid telah masuk Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar lalu berbalik, dan menerjang rumah Fatimah. Ia memukul muka Said hingga berdarah. Sedangkan Fatimah tengah membaca Quran. Namun timbul rasa ibanya pada Said. Ayat-ayat Quran yang dibaca Fatimah menyentuh hatinya. Maka Umar bergegas menemui Muhammad dan mengucap "syahadat". Sejak itu, Umar bersama Hamzah menjadi pilar yang melindungi Muhammad dari musuh-musuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad terus berdakwah. Ia sering terlihat berdiskusi dengan Jabir, seorang budak Nasrani, di Marwa. Ia dituding menyebarkan ajaran yang dibawa Jabir. Atau sebagai seorang ahli retorika dan pendongeng yang lihai memukau pendengarnya. Orang-orang Qurais mencoba mengimbanginya melalui Nadzer bin Harith. Hal demikian menimbulkan rasa penasaran Tufail ad-Dausi -seorang intelektual setempat-untuk membuntuti Muhammad. Ujungnya, ia masuk Islam. Tufail tahu syair atau gubahan terbaik manusia. Ayat-ayat Quran bukan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak pemuka Qurais yang tertarik mendengar ajaran yang disampaikan Muhammad. Abu Sufyan, Abu Jahal dan Akhnas bin Syariq pernah dipergoki diam-diam mendengarkan Muhammad membaca ayat-ayat Quran. Namun mereka merasa kehilangan harga diri bila mengikuti seruan Muhammad. Muhammad pun mencoba merangkul para pemuka Qurais. Di antaranya adalah dengan mendekati Walid bin Mughirah. Pada saat berbicara dengan Walid itulah terbukti bahwa Muhammad juga seorang manusia biasa seperti kita: dapat berbuat keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, seorang tuna netra Ibnu Ummu Maktum menemuinya untuk bertanya soal Islam. Muhammad yang tengah sibuk bicara dengan Walid mengabaikannya. Allah pun menegur perilaku Muhammad itu dengan Surat Abasa: "Ia masam dan membuang muka. Ketika seorang buta mendatanginya ....." Allah mengingatkan bahwa Ibnu Ummu Maktum datang dengan lebih tulus. Sedangkan Walid -menurut riwayat-adalah orang yang iri mengapa Quran tidak turun pada pemuka masyarakat sepertinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-8748499181680588428?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/8748499181680588428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=8748499181680588428&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8748499181680588428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8748499181680588428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/10/siksaan-demi-siksaan.html' title='Siksaan Demi Siksaan'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-2011816488628710186</id><published>2009-10-01T19:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T19:42:46.539-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>KUNCI KE DUA KEMAMPUAN BEKAL KEHIDUPAN</title><content type='html'>“Orang bijak adalah orang yang menganggap bahwa kesehatan merupakan nikmat yang paling besar bagi manusia.”  Hipocrates&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda dalam semangat yang tinggi, maka kemampuan Anda semakin bertambah. Bukankah begitu? Itu terjadi karena adanya dorongan &lt;span class="fullpost"&gt;yang  memberikan kemampuan pada Anda. Oleh karena itu, Anda selalu membutuhkan dorongan-dorongan tersebut untuk memaksimalkan kemampuan Anda. Dalam bab ini saya akan menunjukkan pada Anda sarana-sarana yang paling besar untuk meningkatkan kemampuan Anda dengan metode yang aktif mencapai tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu lebih dari tiga puluh tahun, saya telah mempelajar dan meneliti tentang pengaruh pola makan, pernapasan, dan olahraga terhadap kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang legenda tennis meja Mesir dalam kurung waktu yang cukup lama. Saya mewakili negarsaya dalam pertandingan melawan atlet Negara lain sewaktu kejuaraan dunia di Jerman pada tahun 1969 M. karena olahraga ini memiliki persaingan yang ketat, saya selalu diawasi langsung oleh dokter klub dan pelatih. Mereka selalu memberiku nasehat-nasehat yang baik. Dari situ, terbentuklah kebiasan-kebiasan yang sehat dalam diriku. Meskipun saya sering keluar negri, dan hidup dengan masyarakat barat, saya tidak pernah minum minuman keras, juga merokok, dan juga tidak bergadang. Bahkan teh, kopi, dan minuman yang bergas pun tidak pernah mempunyai tempat dalam hatiku. Bagiku, hidup sehat adalah segala-segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, manusia dapat dibagi dalam tiga kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama: orang-orang yang berhasil di semua aspek kehidupan. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan kecerdasan. Mereka makan dengan cara yang sehat. Mereka berolahraga secara teratur. Mereka selalu memberi waktu khusus untuk diri mereka sendiri dan keluarganya. Dan mereka bisa hidup dengan pola hidup yang sehat dan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua: Orang-orang yang konsentrasi/fokus terhadap kesuksesan mereka  dalam bekerja. Mereka punya tujuan pokok dalam hidup, yang terlihat dalam kesungguhan ketelitian mereka dalam bekerja,… dan jumlah harta mereka. Sesungguhnya mereka berhasil secara materi. Akan tetapi, meski mereka berhasil dalam ini, mereka ‘gagal’ dalam aspek yang lain dalam kehidupan mereka. Contohnya, pola makan mereka tidak teratur, merokok, ketagihan/terbiasa mimum teh dan kopi dalam jumlah yang banyak. Dan mungkin, mereka biasa minum minuman keras, sangat jarang meluangkan waktu untuk olahraga. Mereka selalu mengeluh bahwasanya mereka tidak mempunyai waktu untuk kegiatan selain bekerja dan sibuk karena keharusan mereka untuk bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ketiga: Golongan ini, orang-orang yang hidup dengan kekosongan. Mereka membentuk kelompok yang memulai hari-harinya dengan sebatang rokok dan secangkir kopi. Setelah itu, baru mereka pergi untuk berangkat kerja. Lalu pulang ke rumah pada siang hari, untuk sesegera mungkin untuk makan, tanpa melihat kualitas dari makanan tersebut. Lalu menonton tv sampai ketiduran, atau merokok dan minum kopi sepanjang hari. Mereka sangat jarang memikirkan olahraga. Pada akhirnya, mereka meratapi nasib jeleknya, tentang kemampuannya yang lemah dan kesehatannya yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga golongan manusia ini terdapat di setiap tempat di dunia. Penting untuk diketahui, bahwa sebagian peneliti di Amerika menemukan fakta bahwa satu di antara dua orang Amerika mati dengan membawa penyakit hati. Peneliti juga menemukan bahwa satu di antara tiga orang Amerika mati karena kanker, dan orang-orang terjebak dalam persaingan untuk meningkatkan derajat hidup mereka sebagai ganti hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Bornesto berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akal yang sehat terletak pada jiwa yang sehat, maka Anda harus memperbaiki standar keduanya agar hidup Anda sehat selalu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu seminar saya tentang hidup sehat, saya bertanya pada hadirin: “Siapa diantara kalian yang memelihara anjing atau kucing?” maka diantara hadirin ada yang angkat tangan, dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia punya anjing. Maka saya bertanya lagi: “Apakah Anda selalu menemani anjingmu untuk jalan-jalan pagi setiap hari?” Orang itu menjawab: “Pasti! Bahkan untuk satu jam penuh.” Dia bertanya lagi: “Apakah Anda memberinya rokok atau minuman keras, atau memberinya makanan apa saja?” orang itu menjawab: “Tentunya tidak.” Saya bertanya lagi; “Berapa harga anjing itu?” orang itu menjawab “Lima ratus dolar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi: “Bagaimana pola makan Anda setiap hari?” Orang itu menjawab: “Saya tidak mengharuskan diri saya untuk makan pagi, tetapi cukup dengan minum kopi yang banyak. Siang hari, saya makan sandwitch dengan tergesa-gesa karena saya sangat sibuk bekerja. Sedang untuk makan malam saya makan apa yang ada di rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi: “Apakah Anda berolah raga atau tidak sama sekali?” orang itu menjawab: “Tidak, saya tidak punya waktu untuk itu.” Lalu, pertanyaan terakhir yang saya ajukan padanya adalah: “Apakah Anda seorang perokok?” orang itu menjawab dengan semangat. “Ya, saya merokok satu pak/bungkus penuh setiap hari.” Saya katakan padanya: “Mari kita pecahkan masalah orang ini. Anda memberikan untuk anjingmu makanan khusus dengan pola makan yang dibutuhkan olehnya, dan mengharuskannya untuk jalan-jalan tiap hari, dan tidak memperbolehkannya untuk makan ……………. Atau minum khamr. Semua itu untuk menjaga kesehatannya. Sedang untuk diri Anda sendiri, Anda merokok satu bungkus penuh setiap hari, tidak berolahraga, makan apa saja tanpa pola makan yang teratur, banyak minum kopi, padahal dirimu ini sebanding dengan milyaran dolar.”…… maka tertawa orang itu, dan berkata: “Karena itu, saya yakin akan mati sebelum anjing saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG MENGHILANGKAN KEMAMPUAN&lt;br /&gt;PERTAMA: BURUKNYA PENCERNAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda pernah merasakan bangun pagi, setelah tidur enam jam atau delapan jam atau bahkan sepuluh jam, tetapi Anda tetap merasa lelah/capek? Jika Anda pernah merasakannya, salah satu penyebab utamanya adalah buruknya pencernaan…Kadang-kadang setelah makan yang kenyang (pada malam hari), Anda langsung tidur. Dalam keadaan seperti ini, diri Anda sibuk mencerna makanan tadi. Hal itulah yang membuat diri Anda capek. Hal yang sama terjadi ketika pagi hari, saat Anda sarapan yang terlalu banyak. 80 % dari darah mengalir menuju lambung untuk membantunya mencerna makanan. Apabila Anda tidak makan dalam jangka empat jam, maka Anda. Memaksakan dirimu lebih dari yang seharusnya itulah yang menyebabkan berkurangnya kemampuan dalam dirimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA: KEGELISAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda tidak merasa aman/tentram tentang sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan atau berkaitan dengan masyarakat, maka Anda pasti terus memikirkan hal itu. Yang terjadi selanjutnya adalah ……………&lt;br /&gt;………………………………………………………………..&lt;br /&gt;…………………………………………………………..&lt;br /&gt;……………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA: TERLALU MEMAKSAKAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda terlalu memaksakan diri lebih dari yang seharusnya, maka tentunya Anda akan merasa lelah/capek. Anda juga akan merasa kemampuamu berkurang. Selama kamampuan itu tonggak hidup kita, maka kita harus fokus terhadap kemampuan kita dan selalu bertanya: Apa ya, kira-kira yang bisa meningkatkan kemampuan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup, ada tiga macam kemampuan pokok, yaitu: jasmani, akal, dan perasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMAMPUAN JASMANI (FISIK)&lt;br /&gt;Berbicara tentang kemampuan fisik, tidak akan keluar dari pernapasan, pola makan, dan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Pernapasan&lt;br /&gt;Pernapasan hal yang pertama dan yang paling penting untuk menghasilkan kemampuan yang besar. Sehatnya tubuh bergantung terhadap sehatnya ………………yang meliputinya. Anda masih mungkin masih dapat hidup tanpa makan apapun selama satu minggu, dan tanpa minum apapun selama 48 jam, tetapi Anda tidak akan dapat bertahan hidup tanpa bernapas lebih dari lima menit. Banyak dari manusia yang tidak tahu cara bernapas yang baik. Mayoritas manusia hanya menggunakan sepertiga kemampuan paru-paru untuk bernapas, padahal kita tahu bahwa udara itu gratis. ……………………………………………. Kegiatan-kegiatan untuk melatih akal dan badan, seperti yoga, ……, karate, dan renang, semuanya memusatkan kemampuan bernapas. Cara bernapas yang baik membersihkan …….. tubuh 15 kali lebih banyak dari cara bernapas biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. webber, seorang peraih nobel untuk ilmu………………, mengatakan: “Sesungguhnya oksigen sangat penting untuk menghasilkan sel tubuh yang sehat., karena sesungguhnya kualitas hidupmu ditentukan oleh kuliatas sel tubuhmu.”&lt;br /&gt;Karena itu, Anda harus memenuhi tubuhmu dengan sebanyak mungkin oksigen agar hidup sehat dan menghasilkan kemampuan yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai pernapasan rasanya tak sempurna jika tidak menyebutkan dua macam pernapasan.&lt;br /&gt;Pertama: bernapas &lt;br /&gt;Metode bernapas tersebut untuk membersihkan darah dari timbunan apa saja yang membuat darah tersumbat. Untuk bernapas dengan pernapasan tersebut Anda harus melsayakan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;- Ambillah napas dari hidung, sekitar 4 hitungan/detik. Lalu, penuhilah paru-paru Anda dengan udara.&lt;br /&gt;- Tahanlah udara tadi dalam tubuh kita sampai 10 hitungan/detik.&lt;br /&gt;- Kelurakanlah udara tadi dari mulut dengan perlahan-lahan, sekitar 5 hitungan/detik.&lt;br /&gt;- Ulangilah cara-cara diatas, dengan menahan udara dalam tubuh kita lebih lama dari sebelumnya. Hendaknya Anda mengeluarkan udara setengah waktu daripada Anda menahannya dalam tubuh. Contoh, misalnya Anda menahan udara dalam tubuh sekitar 12 hitungan/detik, maka hendaklah Anda mengeluarkannya dalam jangka waktu 6 hitungan/detik. Atau, jika Anda kuat menahan udara sampai 16 hitungan/detik, maka hendaklah Anda mengeluarkannya dalam jangka waktu 8 hitungan/detik. Dan untuk selanjutnya, Anda harus menambah hitungan waktu secara bertahap dan perlahan-lahan. Ingatlah selalu bahwa tidak ada batas hitungan kecuali yang telah Anda tentukan bagi diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;Kedua: pernapasan untuk menghasilkan kekuatan.&lt;br /&gt;- Hiruplah udara dari hitung sekitar 4 hitungan/detik. &lt;br /&gt;- Keluarkanlah udara tadi dari mulut dengan perlahan-lahan, sekitar 4 hitungan/detik, seolah-olah And meniup lilin.&lt;br /&gt;- Latihlah cara diatas sepuluh kali.&lt;br /&gt;- Anda hendaknya melatih diri dengan melsayakan pernapasan ………. Dan juga pernapasan yang menghasilkan kekuatan dia atas 3 kali setiap hari. Pagi, siang, dan pada sore hari. Hingga menjadi kegiatan rutin dalam kehidupanmu. Dan perhatikanlah peningkatan kemampuanmu………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..&lt;br /&gt;Kedua: Pola Makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda pernah menerapkan pola makan tertentu untuk mengurangi atau menambah brat badan? Apabila jawabannya “ya”, apakah Anda berhasil dengan pola makan tersebut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti di universitas Harvard menemukan bahwa 99,9 % tidak memberikan hasil yang baik. Bahkan, orang-orang yang menerapkan pola makan tertentu untuk menurangi berat badan kadang-kadang kembali ke ukuran berat badan semula, bahkan kadang-kadang tambah berat dari ukuran sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola makan seperti diatas dalam bahasa inggris dikatakan “Diet”. Kalau kita bagi kata tersebut, kita akan mendapati bahwa kata tersebut terdiri dari dua kata, yaitu “die or eat”. Artinya “matilah atau makanlah”. Jika Anda menerapkan pola makan tertentu (diet), maka tubuh dan pikiranmu akan tsayat kelaparan. Karena itu, mereka bersatu untuk melawan Anda. Karena itu pula, Anda akan merasa lapar lebih cepat. Jika Anda diet untuk menurunkan berat badan, sulit untuk mencapai tujuan tesebut. Sebenarnya, yang Anda butuhkan, untuk menurunkan berat badan, adalah pola hidup yang sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moler………. Berkata: “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”. Banyak orang-orang yang hadir pada seminarsaya tentang kesehatan mengatakan bahwa mereka senang makan. ………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;Saya katakan pada mereka perkataannya Bernasto yaitu: “tidak ada orang yang mencintai teman sebagai ia mencintai makanan, dan kita menggali kuburan kita dengan gigi kita tiap hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa 80 % dari dunia ini adalah air, dan juga kita tahu bahwa lebih 80 % dari tubuh kita ini adalah air. Maka menurut Anda, hal apa yang paling penting dari pola makan/diet Anda? “Air tentunya….Bukannya begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, makanan yang sehat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, mengandung kandungan air yang banyak…... Saya, sebagai contoh, banyak makan buah-buahan dan jus yang terbuat dari 8 ………… dan dua buah. Sedang untuk makan siang, saya makan bermacam-macam sayuran. Begitu juga untuk makan malam …… itulah pola hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Anda harus memiliki pola makan yang sehat sendiri. Contohnya, makan buah-buahan yang banyak ketika perut sedang kosong dari makanan. Anda juga bisa menambah sambal pada makanan Anda. Juga, kalau Anda mau makan makanan lain, lebih itu makanan itu itu berupa sayur-sayuran atau buah-buahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair mengatakan: “Makan buah tiap hari menjauhkanmu dari penyakit dan dari kunjungan dokter.” Dan saya belum menemukan penyair yang mengatakan: “&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG HARUS KITA PERHATIKAN:&lt;br /&gt;- Standar hidup manusia akan merosot/memberut, jika tidak mengkomsumsi buah-buah(yang mengandung air) dalam jumlah yang cukup. Dan buah-buahan jenis ini yang paling baik adalah air.&lt;br /&gt;- Kebiasaan tidur setelah duhur dan kurangnya konsentrasi biasanya menjadi sebab kebosanan/kekeringan. &lt;br /&gt;- Minumlah jus buah yang segar, dan minumlah air dalam porsi yang banyak selama kira-kira dua hari. Janganlah menunggu sampai haus, karena haus itu tanda-tanda kekeringan. Lebih baik lagi, jika segelas air selalu tersedia di dekat Anda, hingga Anda bisa meminumnya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA: OLAHRAGA&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengaitkan antara olahraga dengan rasa sakit, otot keseleo, dan gangguan pada otot. Padahal kita harus menyisakan waktu senggang kita untuk berolahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat aneh sekali, sewaktu dalam seminar tentang pola hidup, ada seseorang yang mengatakan: “Saya mau mengerjakan apa pun, kecuali olahraga. Terakhir saya olahraga adalah sewaktu saya lari dari mobil ke dalam rumah. Itu pun terjadi karenan anjing tetangga mengejar saya dari belakang.”!!!&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG PERLU ANDA PERHATIKAN KETIKA BEROLAHRAGA&lt;br /&gt;- Bergabunglah dengan klub olahraga yang memperhatikan kesehatan. Disitu, Anda akan berkenalan dengan orang-orang yang membuatmua semangat. Mereka akan berbicara terus mengenai olah raga. Karena itu, And akan hidup sehat selalu. Dan itu akan membantumu untuk meningkatkan kemampuanmu.&lt;br /&gt;- Renang dan berjalan merupakan olahraga yang sangat baik.&lt;br /&gt;- Mulailah hari-harimu dengan berlatih pernapasan sebagaimana yang telah saya terangkan sebelumnya. Setelah itu, latihlah otot Anda. Lalu jalanlah di tempat. Dan terakhir, lari di tempat dengan pelan-pelan.&lt;br /&gt;- lsayalanlah latihan untuk menguatkan otot perut, dada, dan lengan Anda.&lt;br /&gt;- Jadikanlah jalan-jalan sebagai bagian dari pola hidup Anda sehari-sehari. Itu membutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit. Kalau mungkin, gunakanlah jalan umum atau di tempat tertutup jika cuaca sedang buruk.&lt;br /&gt;- Belilah peralatan olahraga seperti alat mendayung, alat untuk lari di tempat, dan ……………..&lt;br /&gt;- And bisa ……………………… hingga depan televise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus berkonsultasi dengan dokter tentang olahraga yang cocok dengan keadaan Anda, jika ada keluhan tentang kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah memperhatikan kesehatanmu dari sekarang. Dan Anda akan mendapatkan meningkatnya kemampuan Anda setiap hari dan sepanjang hidup Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMAMPUAN AKAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda mempunyai sebuah cita-cita yang harus Anda capai, tentu akan semangat. Itu akan memunculkan kemampuan yang dahsyat dalam dirimu. Maka, menentukan cita-cita, dan kemauan untuk mencapainya, merupakan pokok yang penting bagi akal (pikiran). Mulailah menulis cita-citamu dari sekarang. Lalu yakinkanlah pada diri Anda, bahwa Anda mampu mencapainya. Dengan cara tersebut, kemampuan akal Anda akan meningkat dengan sendirinya. Anda harus menulis semua cita-cita Anda, dan membacanya setiap hari. Maka kemampuan Anda akan meningkat sesuai dengan apa yang Anda targetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMAMPUAN PERASAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan jasmani rohani seperti yoga, meditasi, dan tai chi merupakan cara yang sangat baik untuk meningkatkan kemampuan peraanmu. Anda akan mendapatkan manfaat-manfaat, seperti yang telah dicontohkan dari kegiatan diatas,  tanpa kesulitan. Anda hanya harus duduk di tempat yang tenang/sepi. Lalu ambil napas dengan tenang, rasakanlah cara bernapas seperti tersebut. Pikirkanlah Anda sedang terbang ke atas ke bawah di udara, sesuai dengan pernpasan Anda. Ketika pikirkanlah orang yang Anda cintai. Anda akan merasakan ketenangan dan kemampuan perasaan Anda akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG ANDA KETAHUI AGAR MENCAPAI KEMAMPUAN MAKSIMAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNAPASAN&lt;br /&gt;- latihlah pernapasan&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt; tiga kali setiap hari. Setiap latihan harus mencapai 10 hitungan/detik.&lt;br /&gt;- Latihlah pernapasan yang menghasilkan kemampuan tiga kali setiap hari. Setiap latihan harus mencapai 10 hitungan/detik.&lt;br /&gt;OLAH RAGA&lt;br /&gt;- Renggangkanlah otot Anda sekitar dua menit.&lt;br /&gt;- Berjalan di tempat sekitar 5 menit.&lt;br /&gt;- Lari di tempat pelan-pelan sampai dua puluh kali.&lt;br /&gt;- Tekuklah lutut Anda sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt;- Lsayakan latihan untuk menguatkan otot perut Anda sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt;- Push-up lah sebanyak tiga kali untuk menguatkan otot lengan dan dada Anda. &lt;br /&gt;Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan  dokter sebelum anda mengikuti kegiatan olahraga. Dan hendaknya Anda berinvestasi dengan membeli peralatan olahraga. Itu merupakan investasi sepanjang hidup. Berlatihlah selama 20 menit sebanyak tiga kali sehari. Dan kalau memungkinkan, bergabunglah dengan klub-klub olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metode-metode/cara-cara diatas, kesehatan akan selalu membaik dari waktu ke waktu. Juga, Anda akan selalu mendapati orang-orang yang mengeluh tentang kesehatannya. Anda akan kenal dengan mereka dan mengikuti tujuan-tujuan positif mereka, juga Anda akan mempunyai umur panjang seperti mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. POLA MAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak satu aturan makan yang cocok untuk semua orang. Maka bagimu harus menemukan pola makan yang seimbang dan cocok bagimu yang terdiri atas makanan-makanan. Dalam hal ini, Anda hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;- mulailah hari-hari Anda dengan memakan buah-buahan.&lt;br /&gt;- Hindarilah makanan-makanan yang berat dan keras.&lt;br /&gt;- Iringilah makanan pokok Anda dengan sayur-mayur.&lt;br /&gt;- Jadikanlah makan buah-buahan dan sayaur-sayur sebagai pokok untuk menghilangkan lapar diantara makanan pokok.&lt;br /&gt;4. MENGHINDARI HAUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- hendaknya selalu berada di dekat Anda segelas air dan minumlah setiap saat.&lt;br /&gt;- Minumlah air sebelum rasa haus datang, karena haus tanda kekeringan.&lt;br /&gt;- Minumlah jus buah yang segar.&lt;br /&gt;- Makanlah macam-macam makanan yang mengandung banyak air, seperti sayur-mayur dan buah-buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. PENEGASAN&lt;br /&gt;Ulangilah penegasan Anda berkali-kali dalam sehari dan katakan pada diri Anda:&lt;br /&gt;- saya dalam keadaan baik dan saya menikmatinya.&lt;br /&gt;- Saya kuat dan percaya diri.&lt;br /&gt;- Saya mampu dan rela dengan kemampuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindarilah pergaulan dengan orang-orang yang akan menguras kekuatan Anda. Mereka selalu mengeluh, karena mereka akan menurunkan motivasi Anda. Mereka akan mencuri kekuatan Anda dan akan membuat Anda frustasi. Anda akan mendapati diri Anda dalam keadaan menurun yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;Hindarilah pola hidup negative seperti merokok, candu kopi, teh, dan minuman keras. Karena semua itu akan mencuri kekuatan Anda. Bergaullah dengan orang-orang yang selalu optimis, yang mempunyai kemampuan, karena mereka akan memberikan kemapuan juga pada diri Anda. Tidurlah setengah jam sebelum waktunya, dan bangunlah setengah sebelum waktunya, untuk berolahraga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau Anda tidak menjaga diri Anda, maka siapa yang akan menjaganya. Untuk mencapai kemampuan yang maksimal dengan metode diatas, Anda akan menuju jalan kesuksesan, kebahagiaan tanpa batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-2011816488628710186?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/2011816488628710186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=2011816488628710186&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/2011816488628710186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/2011816488628710186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/10/kunci-ke-dua-kemampuan-bekal-kehidupan.html' title='KUNCI KE DUA KEMAMPUAN BEKAL KEHIDUPAN'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-2801555371361021193</id><published>2009-10-01T19:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T19:37:01.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>ADA APA DI BALIK GEMPA TSUNAMI?</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan dan bertaubat kepada-Nya. &lt;br /&gt;Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan kejelekan amalan kita. &lt;br /&gt;Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.  &lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya. &lt;br /&gt;Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, yang Dia percayai untuk menyampaikan wahyu dan syariat-Nya kepada umat manusia. &lt;br /&gt;Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada beliau, serta semua keluarga dan sahabatnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kaum  mukminin dan para hamba Allah, ...&lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepadaNya akan dijaga dan dibimbing oleh-Nya kepada kebaikan urusan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini dunia seisinya membicarakan sebuah peristiwa besar, yaitu gempa dahsyat yang karenanya bumi tergoncang  hebat, dia berasal dari satu pulau di Indonesia.  Akibatnya bumipun bergoncang dahsyat kemudian timbul setelahnya badai besar Tsunami dan angin topan yang melumat berbagai kota dan banyak desa. Bahkan sebagian tenggelam tertutup air sama sekali,  seketika itu-lah meninggal ratusan bahkan ribuan jiwa. Data terakhir menyebutkan bahwa korban mencapai 120 ribu jiwa. Mereka meninggal dalam satu waktu akibat tenggelam oleh air yang menerjang rumah, sawah, dan berbagai sarana hidup mereka!. Data ini bukanlah data final. Sebab diprediksi bahwa jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah ini. Di samping  itu, puluhan ribu orang luka-luka, serta jutaan yang lain kehilangan harta benda dan tempat tinggal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini adalah sebuah peristiwa besar yang  semestinya menggerakkan hati kita. Karenanya, dunia seisinya membicarakannya dan mengikuti berita serta perkembangannya. Seorang  mukmin yang dikaruniai taufiq oleh Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , dalam kejadian dan musibah besar seperti ini, harus melakukan berbagai renungan keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan kedekatannya kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , juga menambah rasa takutnya untuk   bertemu dan berhadapan dengan-Nya. Selain itu ia juga akan mengambil hikmah dan pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- . &lt;br /&gt;Sebab itu, setelah peristiwa besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang harus senantiasa diingat dan disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama: Peristiwa ini dan semisalnya akan membimbing seorang muslim pada suatu perkara –yang telah dia yakini- yaitu bertambahnya keimanan dia akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , serta meyakini bahwa Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Ia inginkan. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  berfirman: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ) الأنعام: 65 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya: "Katakanlah: "Dia Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)". (QS. Al An'am: 65).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut adalah seperti  petir, halilintar yang menghancurkan, dan angin topan. Adapun makna "azab dari bawah" adalah seperti gempa dan tanah longsor. &lt;br /&gt;Jabir bin Abdillah --Radhiallahu anhu-- , berkata:  Ketika Rasulullah --Shallallahu alaihi wa Sallam--   membaca ayat: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ)&lt;br /&gt;beliau bersabda:  "Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia". Dan ketika membaca:  &lt;br /&gt; (أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ)&lt;br /&gt;beliau berkata: "Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia". Dan ketika membaca: &lt;br /&gt; (يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ) &lt;br /&gt;beliau berkata: "Ini lebih ringan". (HR Bukhari).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian renungkanlah firman Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesungguhnya beraneka-ragamnya  tanda-tanda kekuasaan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  menuntun kita kepada pemahaman, keimanan dan kembali kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُون)            &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yakni: agar mereka memahami  tujuan yang harus diwujudkan dari penciptaan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua: Peristiwa ini betul-betul salah satu tanda-tanda agung kekuasaan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya. Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--   berfirman: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وما نرسل بالآيات إلا تخويفا) الإسراء: 59)&lt;br /&gt;Artinya: "Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda itu kecuali untuk menakuti". (QS. ِِِِAl Isra: 59). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maksudnya; Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  menumbuhkankan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung itu. Berkata Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat dan  kembali (kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- )".   Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam  kejahiliyahan. Maka hendaknya seorang mu'min takut, merenung dan mengambil pelajaran; bahwasanya Yang telah menimpakan musibah kepada saudara-saudaranya, Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka.  Jatuh korban 120.000 jiwa atau lebih dalam satu waktu!. Adakah di antara kita yang mengambil hikmah dan pelajaran?. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga: Setelah kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  berupa menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَار) غافر:64&lt;br /&gt;Artinya: "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tetap".  QS Ghafir: 64. Maksudnya: tidak bergoncang-goncang atau bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang bumi ini, sehingga dia menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang.  Bayangkan  bagaimana jika bumi yang kita berjalan di atas permukaannya selalu bergoncang dan bergetar, bisakah kita hidup di atasnya?, bisakah kita tidur?, bisakah kita bekerja? (tentu jawabnya adalah: tidak -pent). Jadi Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita berupa ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka hendaknya kita mengambil pelajaran dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan gempa yang diciptakan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  dari waktu ke waktu; hingga kita bisa mengambil kesimpulan: betapa besar karunia ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang  dalam sekejap saja, telah memakan korban 120 ribu jiwa, bagaimana jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan  manusia di permukaannya???.&lt;br /&gt;Karunia Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  lainnya adalah tidak meluapnya lautan hingga menenggelamkan semua daratan. Padahal kita tahu  bahwa luas lautan di muka bumi ini dua pertiga luas daratan. Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menahan air laut hingga tidak meluap ke daratan, padahal Dia mampu untuk menenggelamkan seluruh daratan!. Kita bisa ambil pelajaran dari sejarah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ) الحاقة:11&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera" QS Al Haqqah: 11. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak perlu jauh-jauh, bencana yang baru saja terjadi bisa menggambarkan bagi kita hal itu; air telah menenggelamkan berbagai daerah secara total, hingga semua yang berada di atasnya mati, tidak tersisa seorangpun jua.&lt;br /&gt;Dua karunia ini; menetapnya bumi dan tidak meluapnya lautan ke daratan haruslah kita syukuri, sembari kita panjatkan puji kepada-Nya atas segala curahan nikmat-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat: Bumi adalah milik Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , Dia-lah yang telah menciptakannya dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia dia atasnya. Maka Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. Perhatikanlah sebagian perbuatan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  terhadap bumi-Nya dalam ayat:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ) الرعد:41 &lt;br /&gt;Artinya: "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya".  QS Ar-Ra'd: 41. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya"  adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi -pent), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya.&lt;br /&gt;Jika kita telah sadar bahwa bumi ini adalah milik Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , dan yang berhak untuk bertindak di dalam-Nya adalah Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  juga; maka mari kita sama-sama merenungi apa hikmah di balik penciptaan kita di muka bumi ini?. Tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka menegakkan kalimat tauhid Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , mentaati perintah-Nya, mengikuti syari'at-Nya,  merendahkan diri di hadapan-Nya, patuh terhadap perintah-Nya dan perintah rasul-Nya --Shallallahu alaihi wa Sallam-- . Kita wajib beriman terhadap ayat-ayat yang jelas, hujjah-hujjah yang tinggi serta dalil-dalil agung yang menjelaskan kesempurnaan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  dan kewajiban untuk taat kepada-Nya lantas mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Hingga kita dapat menjalankan tujuan penciptaan kita dengan sempurna; yaitu menjalankan perintah-Nya dan mengikuti rasul-Nya --Shallallahu alaihi wa Sallam-- .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelima: Seharusnya seorang muslim bersikap tenang dalam menghadapi musibah yang menimpanya atau menimpa saudaranya; yakni dengan mendekatkan diri kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , yakin dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya musibah itu  akan membuahkan bertambahnya iman seorang mu'min, bertambah baiknya hubungan dia dengan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , serta semakin sempurna kedekatan dia dengan-Nya. Oleh karena itu Rasulullah --Shallallahu alaihi wa Sallam--  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(عجبا لأمر المؤمن إنّ أمره كله خير؛ إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له, وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له) رواه مسلم.&lt;br /&gt;Artinya: "Alangkah mengagumkan kondisi seorang mu'min; seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan nikmat, bersyukur, dan itu adalah merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa musibah, bersabar, itupun merupakan kebaikan baginya". HR Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal ini tidak akan ada kecuali dalam diri seorang mu'min. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keenam: Sesungguhnya seorang yang beriman akan sadar bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan gara-gara perbuatan dosa, dan malapetaka itu tidak akan dicabut (oleh Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- ) kecuali dengan taubat. Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  telah menjelaskan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (فَكُلّاً أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ) العنكبوت:40&lt;br /&gt;Artinya: "Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya". QS. Al-'Ankabut: 40.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat inilah  seharusnya seorang mu'min mendekat kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  dengan membawa taubat dan berserah diri kepada-Nya, sehingga dia dapat memetik pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. "Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dapat memetik pelajaran dari (apa yang menimpa) saudaranya, kebalikannya orang yang merugi adalah jika saudaranyalah yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa dirinya".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketujuh: Terakhir,  kita memiliki beberapa kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah besar ini, di antaranya; &lt;br /&gt;- Berdo'a agar Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  meringankan penderitaan mereka, serta menjadikan musibah ini sebagai titik tolak bagi mereka untuk kembali kepada kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga memohon agar Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  menenangkan ketakutan mereka, menutupi aurat mereka dan memberi rizki orang-orang yang ditimpa kelaparan.&lt;br /&gt;- Juga kita berkewajiban untuk mengulurkan tangan membantu mereka semampu kita. Saat ini  ribuan orang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal, rumah, makanan dan minuman. Sedangkan kita hidup dalam kenikmatan. Bersyukurlah kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  atas nikmat dan karunia-Nya, kemudian bantulah saudara-saudara kita semampunya!.&lt;br /&gt;Kami tutup khutbah ini dengan sebuah doa agung dan berbarakah,  yang selalu dibaca oleh Rasulullah --Shallallahu alaihi wa Sallam--  setiap malam sebelum merebahkan tubuhnya di peraduan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وكفانا وآوانا, فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي) رواه مسلم من حديث أنس.&lt;br /&gt;Artinya: "Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta memberi dia tempat tinggal". HR Muslim dari Anas bin Malik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin 3X, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami.&lt;br /&gt;Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di manapun mereka berada, kuatkanlah mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. &lt;br /&gt;Ya Allah, tenangkanlah rasa takut mereka,  obatilah kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.&lt;br /&gt;Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufik untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman dan mengikuti rasul-Mu --Shallallahu alaihi wa Sallam-- , juga karuniailah kami -wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah- taufik untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang terlihat.&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.&lt;br /&gt;Hanya ini yang dapat kami sampaikan, kami mohon ampunan kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--  untuk kita dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa, mintalah ampun kepada-Nya, niscaya Dia akan ampuni. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-2801555371361021193?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/2801555371361021193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=2801555371361021193&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/2801555371361021193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/2801555371361021193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/10/ada-apa-di-balik-gempa-tsunami.html' title='ADA APA DI BALIK GEMPA TSUNAMI?'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-1298900927780640772</id><published>2009-10-01T19:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T19:32:00.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEKS B.INGGRIS'/><title type='text'>al-hajj</title><content type='html'>The Author &lt;br /&gt;Shaikh Muhammad Naasir-ud-Deen Al-Albaani was born in the Ashkodera, capital of Albania in 1914 C.E. While he was young his parents migrated with him to Damascus, Syria. From an early age he became fascinated by the sciences of Hadith and thereafter spent his time devoted to seeking the knowledge. In later life he was given professorship of Hadith at the Islamic University of Madinah. He is well known to students and scholars for his knowledge and writings.&lt;span class="fullpost"&gt; He has many well-known students and has visited places throughout the MiddleeEast and Europe. He was forced to migrate to Syria to Jordan, then to Syria, then to Lebanon, then to the Emirates, then finally back to Jordan. He has been of enormous service to the Prophetic Hadith, taking great pains to check and sort out the authentic from the weak and fabricated narrations. He has produced many pamphlets and books, some of them running into many volumes - on topics of great importance to Muslims - and has fully checked many of the famous books of Hadith - the Sunan of Tirmidhee, Aboo Daawood, An-Nasaa'ee and Ibn Maajah, along with Suyootis huge 'Jaami su-Sugheer' and Mishkat ul-Masaabeeh'. He is the foremost scholar of Hadith and related science of this age. &lt;br /&gt;Text of Translation &lt;br /&gt;Verily all praise is for Allaah, we praise Him and seek His aid, and we ask for His forgiveness, and we seek refuge in Allaah from the evils of our own selves and from our evil deeds. Whomsoever Allaah has guided, none can misguide him, and whomsoever Allaah has mis- guided, none can guide him, and I testify that none has the right to be worshipped except Allaah, without any partner, and I testify that Muhammad is His servant and Messenger. &lt;br /&gt;To proceed, &lt;br /&gt;Verily the desire to make Knowledge easily accessible to the public has called me to explain the rites of Hajj and to do that by extracting these from my original book: "the Hajj of the Prophet as narrated by Jaabir  " - in the same way that I produced an abridgement of my book on th Prophet's manner of Prayer - except that I have herein included many important additions not found in the original - and I have been careful to record their source and authenticity - along with other additions with I have added in accordance with the method used in my other books as regards quoting the standard Hadith along with its source - in abridged form - while usually referring the reader to my other books - some of which have been published and some of which have not. As for what is to be found in my original book on Hajj, then I have not quoted the sources in full herein - regarding it as sufficient that reader should refer back to the original as it is widely available to the honourable readers - so anyone who wishes to check on such a point will find it easy to refer back to and I will refer to it as 'The Original'. And to add to the usefulness of the book I have ended it with a brief mention of the innovations connected with Hajj and visiting Madinah. &lt;br /&gt;And I have called it "The Rites of Hajj and 'Umrah" from the Book and the Sunnah and Narrations from the Pious Predecessors. &lt;br /&gt;I ask Allaah the Blessed and Most High to make all my work good and sincerely for His Face and that should be no sharer in that with Him. &lt;br /&gt;Muhammad Naasir-ud-Deen Al-Albaani &lt;br /&gt;Damascus, 21st Sha'baan 1395 &lt;br /&gt;Advice for those about to perform Hajj &lt;br /&gt;These are some pieces of advice and useful points which I offer to our brothers about to make Hajj. &lt;br /&gt;Firstly. The pilgrim must fear his lord by obedience to Him, and must be very careful not to fall into that which Allaah has forbidden as Allaah ta'la says: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;quot;For Hajj are the months well-known. If anyone undertaken that duty therin, let there be no obscenity nor wrangling in the Hajj."[Surat-al-Baqarah ayah 197] &lt;br /&gt;And the prophet said: "He who performs Hajj and does not speak obscenely or commit evil then he returns from his sins just as the day his mother gave birth to him", and if he did so then his Hajj would be accepted and Rasoolullaah said: "The accepted Hajj - there is no less a reward for it than Paradise.(1) So he must be aware of what many are affected by because of their ignorance or misguidance: &lt;br /&gt;(A) Directing any form of worship to other than Allaah (shirk). And we have seen many of the people falling into shirk - like praying fro the removal of distress or aid from the Prophets and the pious instead of from Allaah alone, and their taking oath by them in veneration of them - so by their actions they completely nullify their Hajj. As Allaah ta'ala says:(Soorat-ul-Zumar ayah 65) &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"If you were to join gods with Allaah, truly fruitless will be you work (in life)." &lt;br /&gt;B) Some men shaving off their beards - as it is a sinful deed - and doing it involves four seprate sins - as I have explained in 'The Original'. &lt;br /&gt;(C) The wearing of gold rings by men - and this is Haraam - even more so those which are known as wedding-rings as that includes the further sin of imitating the Christians. &lt;br /&gt;Secondly.Everyone who intends to make Hajj and has not brought the sacrificial animal (Hadee) with him(2)then he should intend to perform Hajj of Tamattu' [see the Glossary] - as the Prophet ordered his companions to do in the end, and as he became angry when some did not immediately carry out this order to change the intention from Hajj to an 'Umrah and he  said: "I have entered the `Umarah into the Hajj until the Day of Resurrection", and when some of the Companions asked whether he had done that only for that year or forever, the Prophet joined his fingers together and said: "I have entered the 'Umrah into the Hajj until the Day of Resurrection, not just for a time, rather forever.(3)And because of this he ordered Fatimah and also all his wives - may Allah be pleased with them all - to leave the state of iHraam after finishing the 'Umrah, and therefore Ibn 'Abaas  used to say: Whomsoever makes tawaaf of the House - then he has left iHraam - the Sunnah of your Prophet - even if you are averse to it.(4) So everyone who has not brought the sacrificial animal with him, should call out that he is going to make 'Umrah - in the three months of Hajj, and he who has declared his intention to do Hajj Mufrad (Hajj on its own) or Hajj Qaarin then hears of the Prophet to change it 'Umrah - then he should quickly obey even after reaching Makkah and Sa'ee between Safaa and Marwah - then he should leave the state of iHraam - then declare the intention for Hajj on the Day of Tarwiyyah - the 8th of Dhul Hijjah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O you who believe! Give you response to Allaah and His Messenger, when He calls you to that which will give you life..."[Soorat-ul-Anfal ayah 24]. &lt;br /&gt;Thirdly. You must not leave off staying the night at Mina on the night before 'Arafah as it is obligatory (waajib) - the Prophet did it and ordered it with his saying: "Take from me your rites of pilgrimage." And you must also stay the night at Muzdalifah until you pray Fajr prayer, and if you miss this staying then you must at least pray Fajr there - as that is even more obligatory - rather it is one of the rukn (pillar) of Hajj according to the most correct saying according to the scholars - except upon the woman and the weak - for it has been allowed for them to leave after half of the night has passed. &lt;br /&gt;Fourthly. And be very careful not to walk directly in front of anyone praying in the Haraam mosque, not to speak of other mosques and prying places as the Prophet said: "If the one walking between the hands of one praying knew what were upon him then it would be better for him to stand still for forty (...) than that he should walk between his hands. [Maalik, al-Bukhaaree, Muslim, the 4 Sunan of Abu Juhaim]. And this is a general text covering everyone walking in front, and everyone praying - and there is no authentic Hadith to make any exception for the one doing so in the Haraam Masjid - and you should pray therein like any other place towards a sutrah - according to the general nature of the Hadith regarding that - and there are also some narrations from the Companions particularly about the Masjid-ul-Haraam - which I have mentioned in 'The Original'. &lt;br /&gt;Fifthly. The people of knowledge should teach the pilgrims the rites of Hajj and its commands according to the Book and the Sunnah whenever meeting with them, and that should not stop them from calling to Tawheed which is the essence of Islaam and was the reason for sending of the Prophets, and the sending down of revealed books, as most of the people whom we have met - even some of those who are supposed to be seeking knowledge - we have found to be in complete ignorance of the real meaning of oblivious to the necessity of the return of the Muslims - upon their differing madhabs (schools of thoughts) and various parties - to unification and joining ranks upon the basis of the Book and the Sunnah, - in belief (Aqeedah) and Regulations (AHkaam) and transactions, and behaviour, and politics and economic affairs and all other aspects of life. And they must remember that any voice raised or any movement made to reform which is based upon any foundation other than this firm splitting and weakening of the Muslims - and will increase their shamefulness and humiliation - and the present state of affairs is the greatest proof of that - and Allaah is the One Whose help is sought. &lt;br /&gt;And there is nothing wrong with debating in the best way - when required, as the kind of argumentation that is forbidden in Hajj is useless argument which is also forbidden outside Hajj, just like the eveil-doing that is forbidden in Hajj - for that is not the debating which is commanded in Allaah ta'ala's saying [Soorat-un-Nahi aya 125]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Invite (all) to the way of your Lord with wisdom and beautiful preaching, and argue with them in ways that are best and most gracious..." &lt;br /&gt;However, it should be noticed that if it appears that there is no benefit in the discussion because of the other persons blindly sticking to his madhab or own opinion - and if he were to continue then there is fear of going into that which is not permissible - then it is better to leave that argument with him as the Prophet said: "I am a claimant for a house in the outskirts of Paradise for one who leaves off arguing even if he is in the right...(6) &lt;br /&gt;No Difficulty &lt;br /&gt;And the one who is inviting to the truth should always make things easy for the people in general and the pilgrims in particular as this making things easy is one of the principles of the kind of Sharee'ah - as is known - as long as there is no text against the point, for when there is a specific text then it is not permissible to make things easy by opinion. And this is the just and middle way which it is binding for every caller to the truth to adopt. And there is no need to take any notice to the people's objecting after that and saying: He is too strict, he is too lenient. &lt;br /&gt;And there are various actions which are permissible for the pilgrims which they have become used to avoiding due to some people's fatawa going against the aforementioned principle. So I decided to make note of those: &lt;br /&gt;1. Bathing, without need to because of (e.g.) wet dreams (iHtilaam), even if it involves rubbing the head - as it is authentically reported from the Prophet in Bukhaaree and Muslim and others from the narration of Aboo Ayyoob (RH).(7) &lt;br /&gt;2. Scratching the head, even if some hair falls out as shown by the preceding hadith of Aboo Ayyoob - and it is the saying of Shaikhul-Islaam Taimiyya (RH). &lt;br /&gt;3. Cupping/Blood-letting (iHtijaam) even if some of the hair is shaved off in the place required, as the Prophet had it done on the center of his head while in iHraam - and that is not possible without shaving some fo the hair. And this is also the saying of Ibn Taymiyyah - and the Hanbali scholars also - however, they say that he must make a sacrifice to make up for it, and they have no proof of this. Rather that is rejected by the Prophet's cupping - and had he made a sacrifice because of having done that then the narrator would have reported that - and his not having done so shows that it did not happen - so the correct position is the saying of Ibn Taymiyyah (RH).&lt;br /&gt;4. Smelling sweet smelling plants and pulling off broken nails - and there is narrations about that mentioned in 'The Original'. &lt;br /&gt;5. Taking the shade of a tent, or upheld garment - as this is proven from the Prophet, and in the same way using the camel-litter in the old days or an umbrella or car - even sitting inside - these days. And making it obligatory to make up for that with a sacrifice is a harshness for which there is no proof, rather there is no difference between seeking the shade of a tent which is proven from the Sunnah and seeking shade from the camel-litter - and its like, and this is a narration from Imaam AHmad as occurs in 'Manaar us-Sabeel' (1/2460). And what some people do regarding removing the roofs of their cars is entering into religion something that the Lord of the worlds has not allowed. &lt;br /&gt;6. Wearing a belt around the izaar and tying it when necessary, and wearing rings - as occurs in some narrations. And like it is wearing a watch or spectacles and money-pouch around the neck. &lt;br /&gt;All of those things fall under the aforementioned principle - furthermore some of them also being supported by hadith from the Prophet, or by narrations from the Companions - and Allaah ta'ala says: [Soorat-ul-Baqarah ayah 185]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He (Allah) intends every facility for you, He does not want to put you into difficulties." &lt;br /&gt;And all praise is for Allaah Lord of the worlds. &lt;br /&gt;Assuming Iharaam &lt;br /&gt;(Ihraam is the state entered into at the Meeqat in which certain acts and types of clothing are forbidden).&lt;br /&gt;1. It is mustaHabb for anyone going for Hajj or 'Umrah to take a ghusl (bath) for iHraam - even if a woman is in her period or in after-birth confinement. &lt;br /&gt;2. Then the men may wear whatever clothes he wishes that are not made in the shape of the body - and these clothes are called by the fuqahaa (religious scholars) "ghair al mukheet (unstitched)". So he wears a ridaa (upper garment) and izaar (lower garment) or whatever, and sandals or any footwear that does not cover the ankle-bone. &lt;br /&gt;3. He does not wear a hat or an 'imaamah (turban) or anything like that which fits onto and covers the head - this referring only to men. As for the women - she does not remove anything of the clothes that are prescribed for her in the Shari'ah, except that she should not tie on the niqaab(8)(face-veil) or the burqa' or the lithaam (lower face cover, up to the eyes) or handkerchief and she should not wear gloves(9). And the Prophet  said : "The muHrim should not wear the shirt, or the 'imaamah, or the hooded cloak, or trousers, or garment touched by wars (dyes with saffron) or saffron; or leather socks - unless he cannot find sandals) then in that case he may wear leather socks),(10)" and the Prophet said: "The woman muHrim should not affix a face veil and should not wear gloves(11). And it is permissible to for the women to cover her face - even if it touches her face according to the correct opinion - however, she should not tie it on, as Ibn Taymiyyah says. &lt;br /&gt;4. He may put on the clothing of iHraam before the meeqat even in his own house as the Prophet and his Companions did. And this makes it easier for those making Hajj by aeroplane for whom it is not possible to put on iHramm at the meeqat - so it is permissible for them to embark on the plane in iHraam, but they do not make the intention of iHramm until very shortly before the meeqat - in order that they do not go past the meeqat without iHraam. &lt;br /&gt;5. He may use body_oil and perfume himself with any perfume he please which was has odor but not color, however, women use that which has color not but no odor - and all this to be before he makes intention of iHraam at the meeqat - after that is Haraam. &lt;br /&gt;Ihraam and Niyya (intention) &lt;br /&gt;6. So when he comes t the meeqat it becomes waajib (obligatory) for him to assume iHraam - and the mere wish and intention to perform Hajj is not sufficient as that has been with him since leaving his own land - rather he must perform by word and action what will cause him to be muhrim. So when he recites `talbiyyah' intending to enter into iHraam then his iHraam is concluded - as agreed upon by the scholars. &lt;br /&gt;7. And he does not say anything more than the talbiyyah such as their saying: "O Allah, I intend to make Hajj or `Umrah so make it easy for me and accept it from me..." as none of this is reported from the Prophet - just like speaking with the intention for wudoo and salaat and Fasting - all of this being from the newly invented matters and is well-known the Prophet said: "...for every newly invented matter is an innovation, and every innovation is a going astray and every going astray is in Hell_Fire." [Tirmidhee - saHeeh] &lt;br /&gt;The Meeqaats&lt;br /&gt;. The meeqaats (places for assuming iHraam) are five: Dhul Hulaifah, Al-Juhfah, Qarn-ul manaazil, Yalamlam and Dhaatu `Irq. They are for those who live there and those who pass by them intending Hajj or 'Umrah. And he whose house is nearer than them to Makkah then he makes iHraam from his house, the people of Makkah making iHraam from Makkah. &lt;br /&gt;DHUL HULAIFAH is the place for the people of Madinah and is a village six or seven miles away - and it is the furthest meeqaat from Makkah - being ten riding stations away - or less depending on the route, there being many routes from there to Makkah as Ibn Taimiyyah points out. And it is called ((waadi ul `Aqeeq,)) and its masjid is called ((Masjid-ush-shajarah)) (mosque of the Tree), and there is spring there called `the spring of `Ali' by the ignorant masses - believing that `Ali : killed a jinn there - and that is a lie. &lt;br /&gt;And AL-JUHFAH is a village between Madinah and Makkah - about three travel stages away. It is the meeqat for the people of Madinah if they come by this route. Ibn Taimiyyah said: "It is the meeqaat for those who make Hajj from the direction of the west, like the people of Shaam (Greater Syria) and Egypt and the rest of the West. And it is today ruined and deserted, therefore the people now go into iHraam before it in the place called "Raabigh". &lt;br /&gt;And Qarn UL MANAAZIL - which is also called "Qarn-uth-Tha'aalib" is near Makkah - being a day and night's journey away - and is the meeqaat for the people of Najd. &lt;br /&gt;And YALAMLAM is a place two nights distant from Makkah, thirty miles away and is the meeqaat for the people of Yemen. &lt;br /&gt;And DHAATU TRQ is a place out in the desert, marking the border between Najd and Tihaamah, being forty-two miles from Makkah. It is the meeqaat for the people of Iraq. &lt;br /&gt;The Prophet's order to perform Hajj UT-TAMATTU &lt;br /&gt;9. So when he wishes to make iHraam and is making Hajj-ul-Qirran, having brought the sacrificial animal with him, he should say: labbaikallaahumma bi-hajjah wa umrah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Here I am O Allah making Hajj and `Umraah). So if he hasn't brought the sacrificial animal - and that is better - then he says talbiyyah for `Umrah only and that he must do, saying labbaikallaahumma bi-`umrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;So if he has already made talbiyyah for Hajj only, he cancels that and makes it into an `Umrah - as the Prophet ordered that and also said: "I have entered the Hajj until the Day of Judgment" and he joined his fingers together (as in the Hadith that has preceded). &lt;br /&gt;He also said: "O family of Muhammad - whoever from you makes Hajj, then let him say talbiyyah of an 'Umrah in Hajj(12)" and this is At-Tamattu' of `Umrah with Hajj. &lt;br /&gt;Making condition &lt;br /&gt;10. And if he wishes when making talbiyyah he may state a condition to Allah fearing that which may prevent him (from completion of the Hajj) whether illness or fear - saying as the Prophet taught: allaahumma mahillee haithu habastanee &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(O Allah my place is wherever you prevent me).(13) So if he does that and is then prevented or becomes ill - then he may leave iHraam of the Hajj or `Umrah - and there is no recompensatory sacrifice due upon him and he does not have to do the Hajj again, except and unless it was his first Hajj - then he has to repeat it. &lt;br /&gt;11. There is no special prayer for iHraam, however if it is time for prayer before iHraam, then he should pray and then put on iHraam following the example of the Rasoolullah who put on iHraam after prying zuhr. &lt;br /&gt;Prayer in waadee ul'aqeeq &lt;br /&gt;12. However he whose meeqaat is Dhul Hulaifah - then it is mustahabb for him to pray there, not for iHraam, but because of the place and its being blessed. As al-Bukhaari has narrated from Umar - may Allah be pleased with him - who said : "I heard the Rasoolullah say in waadi ul 'Aqeeq:" "Someone came to me this night from my Lord and said: Pray in this blessed valley, and say `Umrah with Hajj(14)" And Ibn 'Umar narrates from the Prophet: "...that he saw, when alighting for sleep at the end of the night in Dhul Hulaifah in the center of the valley, one saying to him: you are in the blessed stony ground."(15) &lt;br /&gt;Talbiyyah and raising the voice &lt;br /&gt;13. then he said he should stand(16) facing the Qiblah, and say talbiyyah for `Umrah or Hajj as has preceded, and say: allaahumma haadhihi hajjah, laariyaa'a feehaa wa laa sum'ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(O Allah this is a Hajj, there being no ostentation in it or hypocrisy).(17)&lt;br /&gt;14. And he should say the talbiyyah of the Prophet: &lt;br /&gt;(i) labbaikallaahumma labbaika labbaika laa shareeka laka labbaika-innal hamda wan na'mata laka wal mulka-la shareeka laka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Here I am O Allah, here I am, there is no partner for You, here I am, Verily all praise for You, and every bounty is from You, and all dominion is Yours - You have no partner.) &lt;br /&gt;(ii) And he also said: labbaika ilaahal haqq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Here I am O God of Truth.) &lt;br /&gt;15. And it is better to stick to the talbiyyah of the Prophet, even though it is permissible to increase upon it - as the Prophet approved of those who did so, saying: "labbaika dhal ma'aarij, labbaika dhal fawaadil". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(of the Ways of Ascent, Here I am Owner of Excellence.) And Ibn `Umar used to also say: "labbaika wa sa'daika wal khairu biyadaika war-raghabaa'u ilaika wal `amalu" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Here I am and blessed by You, and all good is in Your Hands, and desire and action are directed towards You.)(18) &lt;br /&gt;16. And the one saying the talbiyyah is ORDERED to raise his voice with it, as the Prophet said: "Jibreel came to me and ordered me to ordered my companions and those with me to raise their voices with talbiyyah."(19)and he said: "the best Hajj is shouting out and spilling blood.(20) &lt;br /&gt;Therefore the companions of the Prophet when they entered into iHraam, by the time they reached `arRauhaa' their voices had tired out.(21) &lt;br /&gt;And the Prophet said: "It is as if I am looking at Musa, upon whom be peace, descending from the mountain pass raising his voice with talbiyyah..."(22) &lt;br /&gt;17. And women, as regards the talbiyyah, are like men - as the two preceding hadith are general - so they should raise their voices as long as their is no fear of fitnah. And `Aa'ishah used to raise her voice until the men could hear her. Abu `Atiyyah said: "I heard `Aa'ishah saying: Verily I know how was the talbiyyah of Rasoolullah, then I heard her after that saying: Labbaikallaahumma labbaika..."(23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;And Qaasim ibn Muhammad said: Mu'aawiyyah went out at night and heard the voice of someone making talbiyyah, so he said: `Who is that?" It was said: "`Aa'ishah, Mother of the Believers, making `Umrah from at-Tan'eem." So that was mentioned to `Aa'ishah so she said: "If he had asked me I would have told him."(24) &lt;br /&gt;18. And he continually repeats the talbiyyah as it is "from the signs of Hajj"(25)and because of the Prophet's saying: There is no one who makes talbiyyah except that whatever is on his right and left - trees and stones also make talbiyyah until the earth resounds from here and here - meaning - on his right and left."(26) &lt;br /&gt;Especially whenever he ascends a high place or descends a valley - according to the hadith which has preceded: "It is as if I am looking at Musa - upon whom be peace - coming down from the mountain pass....loudly reciting talbiyyah" and in the other hadith: "It is if I am looking towards him when he descends in the valley reciting talbiyyah".(27) &lt;br /&gt;19. And he may also recite along with it "La ilaaha illallaah" and talbiyyah according to the saying of Ibn Mas'ood may Allaah be pleased with him - "I went out Rasoolullah and he did not leave off the talbiyyah until he stoned Jamrat-ul' Aqabah - except when he mixed it with reciting talbiyyah? or "La ilaaha illallaah".(28) &lt;br /&gt;20. So when he reaches the haram of Makkah and sees the houses of Makkah he leaves off the talbiyyah to concentrate on the following actions:(29) &lt;br /&gt;Taking Ghusl for entring Makkah &lt;br /&gt;21. And whoever can talk a ghusl (bath) before entering Makkah then he should do so. And he should enter Makkah in the day following the example of Rasoolullah.(30) &lt;br /&gt;22. And he should enter from the upper part of Makkah which today has Bab ul Mi'laah as the Prophet entered from the upper pass (Kadaa')(31) above the graveyard, and he entered the masjid from Bab Bani Shaibah as that was the nearest way to the Black Stone (Al-Hajrul-Aswad). &lt;br /&gt;23. And he is allowed to enter by any path as the Prophet said: All of the mountain passes of Makkah are a pathway and place for slaughter and in another hadith, All of Makkah is a pathway. He enters from here and leaves from here.(32) &lt;br /&gt;24. So if you enter the masjid do not forget to enter by the right foot,(33)and say:(34) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;allallhumma salli `alaa muhammadin wa sallim - allaahumma aftah lee abwaaba rahmatika or a'oodhu billaahil `azeemi wa biwajhihil kareem wa sultaanihil qadeemi minash shaitaanir rajeem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;25. And when he sees the Ka'bah he raises his hands if he wants to - as it is established from Ibn `Abbaas.(35) &lt;br /&gt;26. And there is no du'aa established from the Prophet at this point. So he may make du'aa with Whatever he can if he wishes with the du'aa which is established from `Umar:(36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;allaahumma anta salaamu wa minkas salaamu fahayyinaa rabbanaa bissalaam &lt;br /&gt;Tawaaf of Quadoom (arrival) &lt;br /&gt;27. Then he should go straight to the Black Stone and facing it make takbeer. And he may say `Bismillah' before it - as it is authentically reported from Ibn `Umar, although not from the Prophet. &lt;br /&gt;28. Then he touches the Black Stone with his hand and kisses it also, and makes sajda upon it also - as Rasoolullah did that, and `Umar, and Ibn `Abbaas.(37) &lt;br /&gt;29. If he is not able to kiss it then he touches it with his hand then kisses his hand. &lt;br /&gt;30. Then if he cannot touch it he should make a sign towards it with his hand. &lt;br /&gt;31. And he does that in every circuit. &lt;br /&gt;32. And he should not push and crowd to get to it according to the Prophet's saying: O`Umar, you are a strong man, so do not harm the weak, and when you wish to touch it, then when it become free then touch it, and if not then face it and say takbeer.(38) &lt;br /&gt;33. And there is in touching the Black Stone a great excellence as the Prophet said: "Allaah will raise up the Stone on the Day of Judgement, and will have two eyes with which it will see, and a tongue which it talks with, and it will give witness in favor of everyone who touched it in truth."(39)And he said: "Touching the Black Stone and the Yemeni corner removes sins."(40)"The Black Stone is from Paradise, and it used to be whiter that snow, but the sins of the idolaters turned it black."(41) &lt;br /&gt;34. Then he should begin making tawaaf around the Ka'bah - it being to his left - and he goes around past the Stone seven times - from the Stone to the Stone being one, wearing the iHraam under his right armpit and over the left (called al-idtibaa')(42) throughout the tawaaf. And walking quickly and with boldness (ramal - a strong walk in which the shoulders are thrust forwards) in the first three, from the Stone to the Stone - then he walks normally in the rest. &lt;br /&gt;35. And he touches the Yemeni corner with his hand each time he passes and does not kiss it, and if he is not able to touch it then he should not make any sign towards it with his hand at all. &lt;br /&gt;36. And he should say between the two corners: "O Allaah gives us good in this life, and good in the Hereafter and save us from the Punishment of the Fire."(43) &lt;br /&gt;Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa feel aakhirati hasanatan wa qinaa 'adhaaban naar [Soorat-ul-Baqarah ayah 201] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Our Lord! Give us good in this world and good in the Hereafter, and defend us from the torment of the Fire.) &lt;br /&gt;37. And he does not touch the two shaami corners at all following the sunnah of the Prophet.(44) &lt;br /&gt;Iltizaam Between The Corner And The Door &lt;br /&gt;38. And he may cling to the place between the corner and the Door - placing his chest and face and forearms upon this place.(45) &lt;br /&gt;39. And there is no particular dhikr for tawaaf - so he may read Qur'an or say any dhikr he pleases, according to the Prophet's saying : Tawaaf around the House is prayer, except that Allah has allowed speech in it, so he who speaks then let him not say except, good things and in a narration : so let him limit his talk in it."(46) &lt;br /&gt;40. And it is forbidden for a naked person or a mentruating woman to make tawaaf of the House, as he said : A naked person may not make tawaaf of the House."(47)And his saying to 'Aa'ishah when she came to make 'Umrah in the final Hajj : Do as anyone making Hajj does, except do not make tawaaf of the House (and do not pray) until you become clean.(48)&lt;br /&gt;41. So when he finished the seventh round he covers his right shoulder and moves to the Place of Ibrahim and recites: &lt;br /&gt;Wattakhidhoo min-maqaami ibraaheema musalla [Soorat-ul-Baqarah ayah 125] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(And take ye the Station of Abraham as a place of prayer.) &lt;br /&gt;42. And he places the Maqaami Ibraheem (Place of Abraham) between himself and the Ka'bah and then prays two rak'ahs. &lt;br /&gt;43. And he recites therein Surat-ul-Kaafiroon and Surat-Qul Huwallaahu Ahad. &lt;br /&gt;44. And he should not walk between the hands of any praying person there, nor allow anyone to walk in front of him while he is praying - as the ahadith forbidding that are general - and there is no established exception for the Haram Masjid, let alone the rest of Mukkah.(49) &lt;br /&gt;45. Then after praying he goes to Zamzam and drinks thereof,and pours some of the water onto his head, as he said : "Zamzam water is for what it drunk for"(50)and he said "It is blessed and it is a food and a cure for illness"(51)and he said : The best water upon the face of the earth is Zamzam water, in it is nourishment and a cure from illness.(52) &lt;br /&gt;46. Then he returned to the Black Stone, says takbeer and touches it - as before. &lt;br /&gt;Sa'ee Between Safaa And Marwah &lt;br /&gt;47. The he goes off for sa'ee between Safaa and Marwah (two small hills). And when he reaches the foot of Safaa he reads Allaah ta'ala's saying: &lt;br /&gt;Innas-safaa wal marwata min sha'aa'irillaahi faman hajjal baita 'awi`tamara falaa janaaha 'alaihi an yattawwafa bihimaa wa man tatawwa'a khiran fa'innallaaha shaakirun 'aleemun [Soorat-ul-Baqarah ayah 158] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Behold! Safa and Marwa are among the Symbols of Allah. So if those who visit the House in the Season or at other times should compass them round, it is no sin in them, and if any one obeys his own impulse to good, be sure that Allaah is He Who recognises and knows.) &lt;br /&gt;and says: Nabda'u bimaa bada'allaahu bihi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(We begin with what Allaah began with.) &lt;br /&gt;48. Then he begins with as-Safaa - climbing upon it until he can see the Ka'bah.(53) &lt;br /&gt;49. Then he faces the Ka'bah - and makes tauheed of Allaah and takbeer, saying :(54) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar - laa illaaha illallahu wahdau laa shareekalahu - lahul mul ku wa lahul hamdu - yuheeu wa yumeetu wa huwa 'alaa kulli shai'in qadeer - laa ilaaha illallahu wahdahu laa shareekalahu - anjaza wa'dahu wa nasara ' abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu &lt;br /&gt;Saying that three times and making du'aa after each time.(55) &lt;br /&gt;50. Then he descends for sa'ee between Safaa and Marwah, as Rasoolullah said : Make sa'ee as Allah has prescribed sa'ee for you.(56) &lt;br /&gt;51. So he walks till he reaches the green sign-post - on the right and left - then runs quickly till he reaches the next sign-post. And this place was in the time of the Prophet a dried river bed covered with small stones, and the Prophet said:(57)(The river bed is not crossed except with vigour.) Then he walks up to Marwah and ascends it and does upon it as he did upon as-Safaa - facing the Qiblah, saying takbeer and tahleel and making du'aa(58) and that forms one complete circuit. &lt;br /&gt;52. Then he returns till he ascends as-Safaa - walking in the place for walking, and running in the place for running - and that is a second circuit. &lt;br /&gt;53. Then he returns to Marwah - and so on till he completes seven circuits finishing upon Marwah. &lt;br /&gt;54. And it is permissible for him to go between Safaa and Marwah While riding. However the Prophet preferred to walk.(59) &lt;br /&gt;55. And if he makes du'aa in sa'ee, saying : Rabbighfir warham innaka antal a'azzul akram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(O lord forgive and have mercy,verily You are the Most Mighty, Most Noble) then there is no harm as it is authentically reported from a group of the Salaf.(60) &lt;br /&gt;56. Then when he finishes from the seventh circuit upon al-Marwah he shortens the hair of his head(61) thus ending the 'Umrah - and everything that became forbidden to him upon entering iHraam now becomes permissible again - and he remains in the state of hill (being out of iHraam) until Yaum ut-Tarwiyyah (8th Dhul-Hijjah). &lt;br /&gt;57. And he who made iHraam not intending to make 'Umrah before the Hajj - and not having brought the hadi (sacrificial animal) from outside sacred precincts then should also leave the state of iHraam in obedience to the Prophet's order and in avoidance of his anger. Those, however, who have bought the sacrificial animal with them remain in iHraam and do not leave that state until after the stoning on the Day of Sacrifice (Yaum-un-Nahr) (10th Dhul-Hijjah). &lt;br /&gt;Ihlaal (Calling Aloud With Tal-Biyyah) For Hajj On Yaum Ut-Tarwiyyah &lt;br /&gt;58. So when it is Yaum ut-Tarwiyyah and that is the 8th of Dhul Hijjah - he puts on iHraam and calls out with the talbiyyah of Hajj, and does as he did when assuming iHraam for 'Umrah which he did from the meeqaat - as regards bathing and putting on perfume, and wearing the ridaa and izaar (upper and lower garments) and reciting talbiyyah - which he does not cease to do until he has stoned Jamrat ul-Aqaha (on 10th Dhul-Hijjah). &lt;br /&gt;59. And he assumes iHraam form the place he is resident in - the people resident in Makkah doing so from Makkah. &lt;br /&gt;60. Then he goes off to Minaa and prays there the Zuhr prayer and remains there, spending the night there and praying the rest of the five daily prayers - shortening them (to two ra'kahs) but without combining them. &lt;br /&gt;Proceeding To 'Arafah &lt;br /&gt;61. So after the sun rises on the Day of 'Arafah (10th Dhul-Hijjah) - he moves off towards 'Arafah (a large plain to the south-east of Makkah), while reciting talbiyyah of takbeer - as both of these were practised by the Companions of the Prophet while making Hajj with him - and he did not critize either (those reciting tal-biyyah of those reciting takbeer.)(62) &lt;br /&gt;62. Then he stops at Namirah(63) - and it is a place near to 'Arafah but not forming part of it - and he remains there until noon. &lt;br /&gt;63. So When the sun passes its zenith he moves to 'Uranah and settles there,(64) and it is next to 'Arafah - and here the Imaam should give an appropriate Khutbah to the people. &lt;br /&gt;64. Then he prays with the people Zuhr and 'Asr shortening and combining them in the time of the Zuhr prayer. &lt;br /&gt;65. And one adhaan is given and two iqaamahs. &lt;br /&gt;66. And he does not pray anything between the two prayers.(65) &lt;br /&gt;67. And he who is not able to pray along with the Imaam - then he prays them in the same way on his own - or with those in similar situation around him.(66) &lt;br /&gt;Standing In 'Arafah &lt;br /&gt;68. Then he goes off to 'Arafah and if able stands upon the rocks beneath the Mount of Mercy (Jabal ur-Rahmah) and if not then all of 'Arafah is place of standing. &lt;br /&gt;69. And he stands facing the Qiblah, raising his hands making du'aa and reciting talbiyyah. &lt;br /&gt;70. And he recites much 'La ilaha illallaah' as it is the best du'aa on the Day of 'Arafah as the Prophet said: The best thing that I and the Prophets have said on the evening of 'Arafah is Laa ilaha illallaahu wahdahu laa shareeka lahu lahul mulk wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli shay'in qadeer.6(67) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;71. And if he adds in the talbiyyah occasionally (all good is the good of the Hereafter) then that is permissible.(68) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innamaal Khairu Khairul Aakhirati &lt;br /&gt;72. And it is sunnah for the one standing in 'Arafah not to fast that day. &lt;br /&gt;73. And he remains in that state, remembering Allaah reciting talbiyyah, making du'aa as he wishes - hoping from Allaah that He will make him one of those whom He boasts of (those whom He frees from Fire) to the Angels as occurs in the hadith :"There is no day on which Allaah frees more of His slaves from Fire than the Day of 'Arafah, and He verily draws near then boasts of them before the angles, saying :'What do they seek?' "(69)and in another hadith : "Verily Allaah boasts of the people of 'Arafah before the people of heaven (the angels), saying : 'Look to my servants who have come to Me dishevelled and dusty.'"(70) and he remains in that state until the sun sets. &lt;br /&gt;Leaving 'Arafah &lt;br /&gt;74. So when the sun has set he leaves 'Arafah for Muzdalifah - going with calmness and tranquility, not jostling or pushing the people with himself or his riding beast or his vehicle, rather whenever he finds room then he goes faster. &lt;br /&gt;75. And when reaching Muzdalifah he gives adhaan and iqaamah then prays the three ra'kahs of Maghrib, then gives iqaamah and prays 'Ishaa - shortening it - and joining the two prayers. &lt;br /&gt;76. And if he separates the two prayers for some necessity then there is no harm in that.(71) &lt;br /&gt;77. And he does not pray anything between them or after 'Ishaa.(72) &lt;br /&gt;78. Then he sleeps until Fajr. &lt;br /&gt;79. Then when the dawn first appears he prays Fajr in the first part of its time with adhaan and iqaamah. &lt;br /&gt;Fajr Prayer In Muzdalifah &lt;br /&gt;80. And all of the pilgrims pray Fajr prayer in Muzdalifah (a place between 'Arafah and Minaa) except the weak and the women - it being permissible for them to leave after half of the night has passed for fear of the crush of people. &lt;br /&gt;81. Then he comes to the Mash'ar al-Haraam (a small mountain in Muzdalifah) and climbs upon it and faces the Qiblah - then recites tahweed,takbeer, tahleel - and declares Allaah's Unity and makes du'aa until the sky becomes very bright. &lt;br /&gt;82. And all Muzdalifah is a place of standing - so wherever he stands then it is permissible. &lt;br /&gt;83. Then he leaves for Minaa before the sun rises, calmly while reciting talbiyyah. &lt;br /&gt;84. So when he comes to the river valley of Mu-Hassir he hurries if possible - and it is a part of Minaa. &lt;br /&gt;85. Then he takes the middle road which takes him to the Jamrat ul Aqabah. &lt;br /&gt;The Stoning (Ar-Ramee) &lt;br /&gt;86. And he picks up in Minaa stones with which he intends to do the stoning of Jamrat-ul-'Aqabah - and it is the last of the Jamraat and the nearest one to Makkah. &lt;br /&gt;87. And he faces the Pillar (Jamrah), having Makkah to his left and Minaa to his right. &lt;br /&gt;88. Then he stones it with seven small stones, like the Stones of Khadhf - which are slightly longer than the chick-pea. &lt;br /&gt;89. And he recites takbeer while throwing each stone.(73) &lt;br /&gt;90. And he ceases reciting talbiyyah when throwing the last stone.7(74) &lt;br /&gt;91. And he he does not perform this stoning until after sunrise, even the women or weak who were allowed to leave Muzdalifah after half the night, as this is one thing and the stoning is something else.(75) &lt;br /&gt;92. And he may perform this stoning after noon even up to the night if he finds difficulty in performing this stoning before noon as is established in the hadith. &lt;br /&gt;93. So when he has stoned the Jamrah everything becomes lawful for him again except women, even if he has not sacrificed or shaved his head - so he may wear his clothes and use perfume. &lt;br /&gt;94. However he should perform Tawaaf-ul-Ifaada on the same day (before Maghrib) if he wishes to continue in his state of having left iHraam - otherwise, if he has not made Tawaaf before the evening (before Maghrib) then he returns to the state of iHraam as he was before the stoning - so he should remove his clothes and put on iHraam according to the Prophet's saying: "Verily on this day has been allowed for you, when you have stoned the Jamrah, that was prohibited for you except women (sexual intercourse). Verily on this day everything that you were prohibited from (by iHraam) has been allowed for you, when you have stoned the Jamrah, except the women (sexual intercourse) - so if evening comes upon you before you have made Tawaaf of this House then you revert to the state of iHraam as you were before stoning the Jamrah - until you make the Tawaaf.(76) &lt;br /&gt;The Sacrifice &lt;br /&gt;95. Then he comes to the place of sacrifice in Minna and sacrifices his animal - and that is the Sunnah. &lt;br /&gt;96. However, it is permisible for him to slaughter in any other part of Minna or Makkah as the Prophet said: I have slaughtered here and all of Minna is a place for salughtering, and all of the mountain pass approaches, so slaughter on your place of stopping.(77) &lt;br /&gt;97. And the Sunnah is to do the dhabh (slaughter by a horizontal cut through the throat) or Nahr (slaughter by a vertical movement of the spear to the lower part of the throat) with own hand if possible, and if not, then to depute someone else to do it. &lt;br /&gt;98. And he should make the animal face the Qiblah when slaughtering(78), making it lie down on its left side and putting his right foot upon its right side.(79) &lt;br /&gt;99. As for the camel then he should slaughter it by means of Nahr..while it is standing having its left leg tied, standing on its others(80)with its face towards the Qiblah.(81) &lt;br /&gt;100. And he says when slaughtering: Bismillaahi Wallaahu Akbar Al-Laahumma Inna Hadha Minka Wa Laka(82) Al Lahumma Taqabbal Minnee(83) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(In the name of Allah and Allah is greater. O Allah this is from You and for You. O Allah accept it from me.) &lt;br /&gt;101. And the time for slaughter is the four days of 'Eid - Yaum-un-Nahr, and that is called 'Yaum ul-Jajj-ul-Akbar' (Day of the greatest Hajj)(84)and the three days of Tashreeq, as the Prophet said: "Allthe days of Tashreeq are for sacrifice.(85) &lt;br /&gt;102. And he may eat from the meat of his sacrificial animal and take some back with him to his land as the Prophet did. &lt;br /&gt;103. And he should give some it to feed the poor and the needy as Allah ta'ala says:(86) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(The sacrificial camels We have made for you as among the Symbols from Allah: in them is (much) good for you: then pronounce the name of Allah over them as they line up (for sacrifice): when they are down on their side (after slaughter), eat ye thereof, and feed such as (beg not you) live in contentment and such as beg with due humility.)[Soorat-ul-Hajj ayah 36] &lt;br /&gt;104. And seven people may share in one camel or cow. &lt;br /&gt;105. And he who cannot afford a sacrificial animal should fast three days in Hajj and seven when he returns to his family. &lt;br /&gt;106. And he may fast the three days of Tashreeq according to the hadith of 'Aa'ishah and Ibn 'Umar - may Allah be pleased with them - who said: "No permission was given for us to fast the days of Tashreeq except for those who could not afford a sacrificial animal.(87) &lt;br /&gt;107. Then he shaves all of his hair off or shortens it. - and the first is better as the Prophet said: "O Allah have mercy on those who save their heads. They (the people) said 'And those who shorten their O Rasoolullah.' He said: O Allah have mercy on those who save their heads. They said: 'And those who shorten their hair O Rasoolullah' He added on the fourth time: And those who shorten their hair"(88) &lt;br /&gt;108. And the Sunnah is for the barber to begin with the right side of the head as occurs in the hadith of Anas.(89) &lt;br /&gt;109. And shaving the hair is just the for men and not for the women - they have to shorten only as the Prophet said: "There is no shaving of the hair for women, verily upon women is shortening of the hair.(90)." So she should together her hair and shorten it by the length of a finger-joint.(91) &lt;br /&gt;110. And it is Sunnah for the Imaam to give a khutbah on the Day of Sacrifice in Minaa(92)between the Jamaraat(93)in the forenoon(94)to teach the people to rites of Hajj.(95) &lt;br /&gt;Tawaaf Ul Ifaadah &lt;br /&gt;111. The he goes off that day to the House and makes Tawaaf - seven times around - as has preceeded in the Tawaaf of arrival - except that he does not wear iHraam under his right shoulder - nor does he perform raml in this Tawaaf. &lt;br /&gt;112. And it is from the Sunnah to pray two ra'kahs behind the Station of Ibrahim - as Az-Zuhree(96)said, and Ibn 'Umar did so(97), and said: "For every seven times around there are two ra'kahs."(98) &lt;br /&gt;113. Then he walks and runs between Safaa and Marwah as before - except for one doing Hajj of Qiraan or Ifraad - the first sa'ee being enough for them. &lt;br /&gt;114. And after this tawaaf everything again becomes lawful for him that became unlawful due to iHraam - even the woman (sexual intercourse). &lt;br /&gt;115. And he prays Zuhr at Makkah, and Ibn 'Umar says: At Minaa.(99) &lt;br /&gt;116. And he comes to Zamzam and drinks from it. &lt;br /&gt;Staying Overnight At Minaa &lt;br /&gt;117. Then he returns to Minaa and remians there for the days of Tashreeq and their nights. &lt;br /&gt;118. And he stones the three Jamaraat with seven small stones in each of those days, after noon, as has preceeded concerning the stoning on the Day of Sacrifice. &lt;br /&gt;119. He begins with the first Jamrah, which is the nearest to Masjid - al-Khaif, and after stoning it he moves onward and stands facing the Qiblah for a long while making du'aa while raising his hands.(100) &lt;br /&gt;120. Then he comes to the second Jamarah and stones it in the same way, then he moves to the left and stands for a long while facing the Qiblah making du'aa while raising his hands.(101) &lt;br /&gt;121. The he comes to the third Jamarah and it is Jamrat al-Aqabah - and he stones it in the same way - standing so that Ka'bah is to his left and Minaa to his right and does not stand there (making du'aa) afterwards.(102) &lt;br /&gt;122. Then on the second day he repeats this stoning and on the third day. &lt;br /&gt;123. An if he leaves after stoning on the second day not remaining for the third day's stoning, then that is permissible as Allaah ta'ala says: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Celebrate the praises of Allah during the Appointed Days, but if anyone hastens to leave in two days, there is no blame on him, and if anyone stays on, these is no blame on him if his aim is to do right,) However remaining for the third day's stoning is better as it is the Sunnah.(103) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;124. And the Sunnah is to do the previous actions of Hajj in order: the stoning, then slaughter, then shaving the head, then Tawaaf of Ifaadah, the Sa'ee for the one doing Hajj at-Tamattu'; however if he brings something forward in the order or delays something in the order (doing things out of order) then that is permissible as the Prophet said: "There is no harm, there is no harm." &lt;br /&gt;125. And regarding stoning, the following is allowed to those who have a valid excuse:&lt;br /&gt;(a) The permission not to have to spend the night in Minaa according to the hadith of Ibn 'Umar: "Al 'Abbaas sought permission of Rasoolullah to spend the night of Minaa in Makkah as he was responsible for supplying Zamzam water there, so he gave him the permission."(104)&lt;br /&gt;(b) To combine two days' stoning in one day, according to the hadith of 'Aasim ibn 'Adiyy who said: "Rasoolullah made concession for the camel drivers in Bairootah that they could stone on the Day of Sacrifice, the combine two days' stoning after that - performing it in one of the two days."(105)&lt;br /&gt;(c) To perform the stoning at night as the Prophet said: The shephered may stone at night, then look after his flock in the daytime.(106) &lt;br /&gt;126. And it is lawful for him to visit the Ka'bah and make Tawaaf during each of the nights of Minaa as the Prophet did so.(107) &lt;br /&gt;127. And the pilgrim during the Days of Minaa must take care to pray the five daily prayers with the congregation - and it is best to pray the Masjid of Khaif if he is able to, as the Prophet said: Seventy Prophets have prayed in the Masjid of Khaif.(108) &lt;br /&gt;128. So after completing the stoning on the second day or third day of the days of Tashreeq - then he has completed the rites of Hajj and therefore returns to Makkah - and remans there for as long as Allaah has written for him to remain - and he should take care to perform the prayer with the congregation - especially in the Masjid-ul-Haraam, and a single prayer in the Masjid-ul-Haraam is better than a hundred thousand prayers in other mosques.(109) &lt;br /&gt;129. And he should perform much of prayer and Tawaaf at any time he pleases of the day or night as the Prophet said about the two corners - the Black Stone and Yemeni corner: "Touching them takes away sins, and he who performs Tawaaf does not raise or lower his foot (while walking) except that Allaah writes it for him as a good deed, and wipes off bad deed for him, and writes for him an extra rank and whoever does it even times round [check Sharh of at-Tirmidhee] it is as if he had freed a slave."(110)And the Prophet said: ""O tribe of 'Abd Manaaf! Do not prevent anyone from making Tawaaf of this house or from prayer at any hour of the day or night he pleases.""(111) &lt;br /&gt;The Farewell Tawaaf (Tawaaf Ul Wadaa) &lt;br /&gt;130. So when he has finished all that he has to do and has decided to travel then he has to make a farewell Tawaaf of the house, as Ibn 'Abbas narrated: 'The people used to head off in every direction ans so the Prophet said: "None of you should depart until he makes as his last act Tawaaf of the House."(112) &lt;br /&gt;131. And the menstruating woman was at first ordered to wait until she became clean of it in order to make Tawaaf ul Wadaa'(113)then it was permitted for her to leave without waiting according to the hadith of Ibn 'Abbas: "That the Prophet gave concession for the menstruating women that she should depart before (Farewell) Tawaaf as long as she had made Tawaaf of Ifaadah."(114) &lt;br /&gt;132. And he may carry away with him whatever he can of Zamzam water because of the blessing therein, as: "Rasoolullah used to carry it with him in water skins and containers - and he used to pour (it) upon the sick and give it to them to drink."(115)Further: "Before Makkah was conquered he used to send the message to Suhail ibn 'Amr: that he should bring Zamzam water for us and not leave it - so he would send to him two large bag fulls."(116) &lt;br /&gt;133. So when he finishes the Tawaaf he leaves the mosque like the rest of the people - not walking backwards - and he leaves putting out his left foot first(117), saying: Allaahuma salli 'alla muhammadin wa sallim - allaahumma innee 'as'aluka min fadhlika &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(O Allaah send blessings and peace upon Muhammad. O Allaah I ask You for Your bounty.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-1298900927780640772?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/1298900927780640772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=1298900927780640772&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/1298900927780640772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/1298900927780640772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/10/al-hajj.html' title='al-hajj'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6775302578154048101</id><published>2009-09-26T03:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T03:02:31.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><title type='text'>40 Kewajiban Seorang Aktivis Dakwah</title><content type='html'>Ada 40 Kewajiban yang senantiasa diperintahkan oleh seorang mursyid kepada kita. Tentu hal ini bukanlah hadist karena ia merupakan hasil ijtihad seorang mujtahid besar dalam kurun ini. Bacalah dan laksanakanlah, kelak engkau akan merasakan betapa syumulnya Islam ini&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah (Al Qur’an) yang tidak kurang dari satu juz. Berusahalah dengan sungguh - sungguh untuk mengkhatamkan Al Quran dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaklah engkau membaca Al Qur’an dan memperbaiki bacaannya, mendengarkannya, memperhatikannya dengan seksama dan merenungkan (men -tadabburi) makna (arti) ayat-ayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaklah engkau mengkaji Shirah Nabawiyah yang suci dan sejarah para pendahulu (salafus shalih) sesuai dengan waktu yang tersedia untukmu. Buku yang dirasa mencukupi kebutuhan ini minimal adalah ‘Hummatul Islam’ (Pembela-pembela Islam). Hendaklah engkau juga banyak membaca haditsAl Arba’in An-Nawawiyah. Hendaklah engkau mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang dalam bidang fiqih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hendaklah engkau bersegera melakukan pemeriksaan menyeluruh (general check-up) secara berkala, segera mengobati penyakit yang ada padamu. Disamping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor yang mengganggu kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hendaklah engkau menghindari sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan minuman perangsang sejenisnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan terpaksa (darurat) dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hendaklah engkau memperhatikan masalah kebersihan dalam segala hal, menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, tempat makan, badan dan tempat kerja, karena agama ini dibangun diatas dasar kebersihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hendaklah engkau menjadi orang yang selalu jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hendaklah engkau menjadi orang yang selau setia (menepati) janji dan ucapan. Janganlah mengingkarinya bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hendaklah engkau menjadi seorang pemberani yang tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah sikap terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan menguasai diri ketika marah sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hendaklah engkau menjadi orang yang memiliki wibawa (kharisma) yang lebih mengutamakan keseriusan. Namun hendaknya kewibawaan yang serius tersebut tidak menghalangimu dari canda yang benar (tidak melampaui batas), senyum dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Hendaklah engkau menjadi orang yang memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang halus (sensitif), dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakani berbahagia untuk yang pertama (kebaikan) dan merasa tersiksa untuk yang kedua (keburukan). Hendaklah engkau menjadi orang yang rendah hati (tawadhu’) tanpa harus menghinakan diri, renda h, lemah dan mengambil muka. Tidak bersikap taklid dan tidak terlalu berlunak hati. Dan hendaklah engkau menuntut (posisi) yang lebih rendah dari martabatmu agar engkau dapat mencapai martabat sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dala m memutuskan hukum dalam suatu perkara pada setiap keadaan / situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari berbuat kebaikan, janganlah mata keredhoanmu buta dari melihat keburukan, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik (orang lain). Dan hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu, atau meskipun itu pahit rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras (dengan banyak aktivitas) dan terlatih memberikan pelayanan-pelayanan sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia ketika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar menjenguk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah, meskipun hanya (menghibur) dengan ucapan-ucapan yang baik. Hendaklah engkau senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Hendaklah engkau berhati lembut (belas kasihan), dermawan, lapang dada (toleran), pemaaf, lemah lembut kepada sesama manusia maupun hewan. Juga baik dalam pergaulan dengan semua orang, berakhlak mulia dan menjaga etika-etika Islam dalam berinteraksi, mengasihi yang kecil dan menghormati yang tua, memberi tempat pada orang lain dalam majelis, tidak memata -matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, tidak berteriak-teriak, meminta izin ketika mendatangi suatu tempat/rumah atau meninggalkannya, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Hendaklah engkau meningkatkan kemampuan membaca dan pandai menulis, memperbanyak bacaan risalah-risalah Ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau berusaha memiliki perpustakaan pribadi, seberapapun ukurannya, walau sangat sederhana. Bila engkau seorang spesialis, hendaklah engkau memperdalam (menekuni) spesifikasi keilmuan dan keahlianmu. Dan hendaklah engkau benar-benar mengenal (menguasai) masalah-masalah keislaman secara umum, sehingga memiliki gambaran tentangnya dan dapat menentukan hukumya yang sejalan dengan tuntutan-tuntutan fikrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun kayanya engkau. Utamakanlah proyek -proyek yang mandiri, tidak mengekang serta mengikat (wiraswasta), meskipun sangat kecil dan sederhana. Dan terjunlah dibidang ini bagaimanapun bakat ilmiahmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Janganlah engkau terlalu berharap / berambisi menjadi pegawai negeri. Anggaplah itu sebagai sesempit-sempit pintu rezeki. Namun jangan menolak bila diberi peluang untuk itu. Dan janganlah engkau meninggalkannya kecuali jika benar-benar bertentangan dengan tugas -tugas da’wahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Hendaklah engkau benar - benar memperhatikan penunaian tugasmu, dalam hal kualitas, kecermatan, kejujuran (tidak menipu) dan ketepatan waktu yang telah disepakati (disiplin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Hendaklah engkau baik-baik dalam menuntut hakmu, dan tunaikanlah hak orang lain dengan sempurna tanpa diminta. Tidak dikurangi atau dilebihkan. Dan janganlah sekali-kali menunda –nunda (penunaian hak tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari perjudian dan segala jenisnya, apapun motif dibelakangnya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang  dapat segera diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitas (bidang mu’amalat) dan sucikanlah dirimu dan hartamu dari riba secara total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Hendaklah engkau membantu dan memelihara sumber kekayaan (umat) Islam secara umum dengan mendorong pendirian dan berkembangnya perusahaan, lembaga perekonomian Islam, pabrik dan proyek. Hendaklah engkau menjaga setiap keping mata uang agar tidak jatuh ke tangan orang non Islam dalam kondisi bagaimanapun. Juga jangan memakai (pakaian) dan mengkonsumsi (makanan) kecuali hasil produksi negeri Islammu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Hendaklaah engkau berpartisipasi dalam da’wah dengan memberikan sebagian hartamu. Tunaikanlah kewajiban zakat hartamu, dan sisihkanlah sebagian yang jelas dari hartamu untuk orang yang meminta, dan orang yang kekurangan, betapapun kecilnya penghasilanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Hendaklah engkau menabung sebagian dari penghasilanmu, sekecil apapun untuk persediaan masa -masa sulit. Janganlah sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan (kebutuhan tersier)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Hendaklah engkau bekerja semampunya untuk menghidupkan tradisi-tradisi Islam dan menghilangkan tradisi-tradisi asing dalam setiap aspek kehidupan. Misalnya ucapan salam penghormatan, bahasa, sejarah, kalender (penanggalan), pakaian, perabot rumah tangga, jadwal dan cara kerja juga istirahat, makan, minum, cara datang dan pergi, gaya dan ekspresi pelampiasan kesedihan dan kegembiraan, dan lain sebagainya. Hendaklah engkau menjaga sunnah yang suci dalam aktivitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Hendaklah egkau memboikot peradilan-peradilan swasta setempat atau seluruh hukum peradilan yang tidak Islami. Demikian juga klub-klub, gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah dan lembaga yang jelas-jelas menentang fikrohmu yang Islami. Boikotlah semua itu dengan  sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, menempuh fase demi fase menuju keridhoan Allah SWT dengan tekad kuat dan semangat membaja, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah, seperti shalat malam, puasa tiga hari – minimal – setiap bulan, memperbanyak dzikir dengan lisan dan hati, dan berusaha sekuat tenaga mengamalkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah pada setiap kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Hendaklah engkau memperbaiki thaharah (bersuci) dengan baik dan usahakan selalu dalam keadaan "prajurit yang berada di barak dan sedang menunggu instruksi komandan"berwudlu (suci) di sebgaian besar waktumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Hendaklah engkau meningkatkan kualitas shalatmu dengan baik, biasakan tepat waktu dan lakukanlah berjamaah di masjid tepat waktu bila mungkin dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Hendaklah engkau berpuasa dibulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah bila mampu, dan berusahalah untuk menunaikannya bila sekarang mampu melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Hendaklah engkau senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan mencintai mati syahid. Persiapkanlah dirimu untuk itu kapan saja bila kesempatan itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui taubat dan istighfarmu. Jaga diri dan berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar. Sediakanlah untuk dirimu waktu khusus sebelum tidur untuk mengintrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah kamu lakukan, yang baik maupun yang buruk. Bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan dan memelihara waktu, karena waktu adalah kehidupan. Janganlah engkau gunakan – sedikitpun – waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan waspadalah (jangan ceroboh) terhadap hal-hal yang syubhat, agar tidak tercebur ke dalam&lt;br /&gt;kubangan yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau bersungguh-sungguh memerangi nafsumu, agar dapat dengan mudah mengendalikannya. Hendaklah engkau menundukkan pandangan, mengendalikan emosi, dan memerangi selera-selera rendah dari dorongan naluri-jiwa(insting). Dan selalu mengarahkannya kepada yang halal lagi baik, serta membentenginya dari hal yang haram dan tercela, dalam keadaan bagaimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. Hendaklah engkau menghindari sejauh-jauhnya dari arak (khamar), dan segala makanan dan minuman yang memabukkan, segala yang melemahkan sejauh-jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan orang jahat, persahabatan yang rusak dan tidak bermoral, dan jauhilah tempat-tempat maksiat serta dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Hendaklah engkau memerangi tempat-tempat iseng (hiburan) yang sia -sia dan haram, jangan sekalikali mendekatinya, serta jauhilah segala gaya hidup glamour (mewah) atau bersantai-santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Hendaklah engkau mengenali atau mengetahui anggota katibahmu satu per satu dengan sempurna (pengetahuan yang lengkap), dan kenalkan juga dirimu pada mereka dengan selengkapnya.  Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya, hak kecintaan dan kasih sayang,  penghargaan, pertolongan dan itsar. Hendaklah senantiasa engkau menghadiri majelis (pertemuan) mereka, dan tidak absen kecuali udzur darurat yang tidak dapat dielakkan. Dan hendaklah engkau berpegang teguh sikap itsar dan memprioritaskan mereka dalam pergaulanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Hendaklah engkau menghidari hubungan dengan organisasi atau jamaah manapun, bila hubungan tersebut tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Hendaklah engkau menyebarkan da’wahmu disemua tempat, dimanapun, dan memberikan informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya (pimpinan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Hendaklah engkau senantiasa menjalin hubungan baik, kontak ruhani dan operasional (‘amali) dengan pimpinan dan Jamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6775302578154048101?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6775302578154048101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6775302578154048101&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6775302578154048101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6775302578154048101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/40-kewajiban-seorang-aktivis-dakwah.html' title='40 Kewajiban Seorang Aktivis Dakwah'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5814374716247474592</id><published>2009-09-26T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T03:01:40.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><title type='text'>Sepuluh Hal yang Harus Ada Pada Sebuah Pergerakan</title><content type='html'>Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-FAHM : Wahai saudaraku yang tulus, yang saya maksud dengan fahm (pemahaman) adalah engkau yakin bahwa ‘fikrah kita adalah fikrah Islamiyah yang bersih’. Hendaknya engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushulul ‘isyirin (20 prinsip pergerakan)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKHLAS: Yang kami kehendaki dengan sikap ikhlas adalah bahwa akhul muslim dalam setiap kata, aktivitas dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha dan pahala -Nya tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah karena Allah Tuhan Semesta Alam. Tidak ada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan.” (QS Al An’am:162 -163) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu pahamlah akhul muslim mekna slogan abadinya: “Allah tujuan kami, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMAL: Yang saya maksud dengan amal (aktivitas) adalah buah dari ilmu dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ’Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah amu kerjakan.”(QS At Taubah:105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan amal yang dituntut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Perbaikan diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pembentukan keluarga muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pembimbingan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing (non-Islam) baik secara politik, ekonomi, maupun moral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Perbaikan keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintahan Islam yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Usaha persiapan seluruh aset negeri di dunia untuk kemaslahatan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seluruh negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIHAD: Yang saya maksud dengan jihad adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Barangsiapa mati, sedangkan ia belum pernah berperang atau berniat untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah “ (Al Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat pertama jihad adalah pengingkaran dengan hati dan peringkat terakhirnya adalah berperang dijalan Allah. Diantara keduanya terdapat jihad dengan pena, tangan, dan lisan berupa kata -kata yang benar dihadapan penguasa yang zhalim.. Tidaklah dakwah menjadi hidup kecuali dengan jihad. Kadar ketinggian dakwah dengan keluasan bentangan ufuknya adalah penentu bagi sejauh mana keagungan jihad dijalan-Nya dan sejauh mana pula harga yang harus ditebus untuk mendukungnya. Keagungan pahala yang diberikan kepada mujahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad ” (QS Al Hajj: 78) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian engkau telah mengerti slogan abadimu: Jihad adalah jalan kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGORBANAN: Yang saya maksud dengan tadhhiyah (pengorbanan) adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan didunia ini kecuali harus disertai dengan tadhiyah. Demi fikroh kita, janganlah engkau mempersempit pengorbanan, karena sungguh ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah. Barangsiapa yang bersantai-santai saja ketika bersama kami maka ia berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari dari kaum mukmin, diri dan harta mereka” (At Taubah:111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jika engkau semua taat, niscaya Allah akan memberimu balasan yang baik” Dengan demikian engkau telah mengetahui makna slogan abadimu: “Gugur dijalan Allah adalah setingi –tinggi cita-cita kami”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAAT: Yang saya maksudkan dengan taat adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, saat bersemangat maupun malas. Hal demikian karena tahapan dakwah ada tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ta’rif: ketaatan yang tanpa reserve tidaklah dituntut, bahkan tidak lazim. Seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem den prinsip jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Takwin: tahapan khusus hanya dengan kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang lama masanya dan berat tantangannya. Slogan utama dalam persiapan ini: “totalitas ketaatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanfidz: Sikap menerima dengan kesetiaan kepada bai’at ini. Tunaikan tanggung jawab yang telah dipikulkan kepadamu dan siapkan dirimu untuk setia kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TSABAT: Yang saya maksud dengan tsabat (teguh pendirian) adalah bahwa seorang akh hendaknya sentiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang menghantarkan kepada tujuan, betapapun jauh jangkauannya, dan lama masanya hingga bertemu Allah dalam keadaan yang tetap demikian. Dengan demikian ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu menang atau syahid di jalan-Nya. “Sebagian dari orang-orang yang beriman ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelepan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAJARRUD:Yang saya maksud dengan tajjarud (totalitas) adalah bahwa engkau harus membersihkan pola pikir dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena ia adalah setinggitinggi dan selengkap-lengkap fikrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Itulah) celupan Allah. Celupan siapakah yang lebih baik daripada celupan Allah” (QS Al Baqarah:138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, dalam pandangan akh yang tulus, adalah salah satu dari enam golongan, yakni muslim yang pejuang, muslim yang duduk-duduk, muslim pendosa, dzimmi / mu’ahid (orang kafir yang terikat oleh perjanjian damai), muhayid (orang kafir yang dilindungi), atau muharib (orang kafir yang memerangi). Masing-masing dari mereka memiliki hukum sendiri dalam timbangan Islam. Dalam batas inilah individu atau lembaga ditimbang, berhak-ah ia mendapat loyalitas atau sebaliknya: Permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UKHUWWAH: Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh dan semulia-mulianya ikatan. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri). Akh yang tulus melihat saudara-saudara lainnya lebih utama daripada diri sendiri, karena jika tidak bersama mereka, ia tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan orang lain. Sesungguhnya serigala hanya memakan domba yang terlepas secara sendirian. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuang bangunan, yang satu mengokohkan yang lainnya. “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan,  sebagian mereka mejadi pelindung bagi lainnya (QS At Taubah:71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TSIQOH: Yang saya maksud dengan tsiqoh (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Pemimpin adalah unsur penting dalam dakwah; tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan – yang timbal balik – antara pemimpin dan pasukan menjadi neraca yang menentukan sejauh mana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khithah-nya, keberhasilannya mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi berbagai tantangan. Kepemimpinan – dalam dakwah ikhwan – menduduki posisi guru dalam hal fungsi kepengajaran; posisi syaikh dalam aspek kependidikan ruhani; dan posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kami menghimpun pengertian ini secara keseluruhan, dan tsiqah kepada pemimpin adalah segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5814374716247474592?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5814374716247474592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5814374716247474592&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5814374716247474592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5814374716247474592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/sepuluh-hal-yang-harus-ada-pada-sebuah.html' title='Sepuluh Hal yang Harus Ada Pada Sebuah Pergerakan'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-346384099359489470</id><published>2009-09-26T02:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T03:00:32.821-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>20 Prinsip Pergerakan Kita</title><content type='html'>1. Islam adalah sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan, Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan ummat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al Qur’an yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf 1) (memaksakan diri) dan ta’asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya kenikmatan yang ditanamkan Allah dalam hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia bisa juga dianggap sebagai dalil dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya merupakan sebuah kemungaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Al Qur’an atau ada riwayat dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum bias diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istidadat) maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata -katanya, kecuali Al-Ma’shum (Rasulullah) SAW. Setiap yang datang dari kalangan salaf ra. dan sesuai dengan Kitab dan Sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya lebih utama untu duiikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang - oleh sebab sesuatu yang diperselisihkan dengannya - kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja kepada niat mereka dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan mengikutinya ini - ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalildalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Hendaknya ia juga menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan, jika ia termasuk orang yang pandai, hingga mencapai derajat penelaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Khilaf dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Setiap masalah yang amal tidak dibangun diatasnya, sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu, adalah kegiatan yang dilarang syar’i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al Qur’an yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi diantara para sahabat, padahal masing -masing dari mereka memiliki keutamaan sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya. Dengan ta’wil (menafsiri baik perilaku para sahabat) kita terlepas dari pesoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ma’rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa ta’wil dan ta’thil, tidak juga memperuncing perbedaan yang terjadi diantara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya mencukupan diri dengannya. “ Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami’” (QS Ali Imran:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan sarana yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah 2), bid’ah tarkiyah 3), dan iltizam terhadap ibadah mutlaqah (yang tidak ditetapkan, baik cara maupn waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri. Namun jika tidak mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakekatnya dengan dalil dan bukti-bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Cinta kepada orang-orang shalih, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar’inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka - semoga Allah meridhai mereka - tidak memiliki mudharat dan manfaat bagi dirinya - baik ketika masih hidup maupun setelah mati - apalagi bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ziarah kubur, kubur siapapun, adalah sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur, siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat, - baik dari dekat maupun dari kejauhan, bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan barakah), bersumpah dengan selain Allah, dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar yang wajib diperangi. Jangan pula mencari ta’wil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Doa apabila diiringi dengan tawasul kepada Allah dengan dalah satu makhluk -Nya adalah perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Istilah - keliru - yang sudah mentradisi tidak akan mengubah hakekat hukum syar’inya. Akan tetapi ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu dan kita berpatokan dengannya. Disamping itu kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah menipu 6) yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. Ibrah itu ada pada esensi (dibalik) suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Aqidah adalah pondasi segala aktivitas (aktivitas hati lebih penting dari ativitas fisik). Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntunan syari’at, meskipun kadar tuntunan masing - masingnya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, serta menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin. Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayah masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut/mutlak). Hakekat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanniy (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanniy, maka pandangan yang syar’i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya atau gugur sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata -kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan Al Qur’an secara terang - terangan, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-346384099359489470?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/346384099359489470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=346384099359489470&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/346384099359489470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/346384099359489470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/20-prinsip-pergerakan-kita.html' title='20 Prinsip Pergerakan Kita'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-3089600367182961372</id><published>2009-09-25T02:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:26:47.049-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EKONOMI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISLAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FILSAFAT'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>Keberadaan Allah</title><content type='html'>Al-Qur`an menginformasikan kepada kita tentang kebenaran sifat-sifat Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (ath-Thalaaq: 12)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, banyak orang yang tidak menerima keberadaan Allah swt. seperti yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut. Mereka tidak memahami kekuasaan dan kebesaran-Nya yang abadi. Mereka memercayai kebohongan bahwa merekalah yang mengatur diri mereka sendiri dan berpikir bahwa Allah berada di suatu tempat yang jauh di alam semesta dan jarang mencampuri “perkara keduniaan”. Pemahaman terbatas orang-orang ini disebutkan dalam Al-Qur`an, “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahakuasa.” (al-Hajj: 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami kekuasaan Allah swt. dengan baik merupakan ikatan awal dalam rantai keimanan. Sesungguhnya, seorang mukmin akan meninggalkan pandangan masyarakat yang menyimpang tentang kekuasaan Allah swt. dan menolak keyakinan sesat dengan mengatakan, “Dan bahwasanya Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (al-Jin: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin memercayai Allah swt. sesuai dengan penjelasan Al-Qur`an. Mereka melihat tanda-tanda keberadaan Allah pada dunia nyata dan alam gaib, kemudian mulai memercayai keagungan seni dan kekuasaan Allah.&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika umat berpaling dari Allah serta gagal bertafakur kepada Allah dan ciptaan-Nya, mereka akan mudah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang menyesatkan pada saat ditimpa kesusahan. Allah menyebutnya sebagai bahaya yang potensial, dalam surah Ali Imran: 154, mengenai umat yang menyerah dalam berperang, “... sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah....”&lt;br /&gt;Seorang muslim seharusnya tidak melakukan kesalahan seperti itu. Karena itu, dia harus membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang dapat memunculkan sangkaan jahiliah dan menerima keimanan yang nyata dengan segenap jiwa sebagaimana penjelasan dalam Al-Qur`a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa kepada Allah Sesuai Kesanggupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertaqwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketaqwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Al-Qur`an memberikan contoh beberapa rasul yang dapat kita bandingkan dengan diri kita sehingga paham bahwa kita dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt..&lt;br /&gt;Allah swt. menginginkan manusia agar bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Berbagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada Yang Mahakuasa dapat dilakukan, sebagai contoh: berjalan di jalan Allah, melakukan perbuatan baik, mengikuti contoh-contoh yang diberikan para rasul, menaati serta memperhatikan ajaran-ajaran Allah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (at-Taghaabun: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an, “... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….” (ar-Ra’d: 2) Dalam ayat lain dikatakan, “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59) Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia pulalah yang menentukan setiap gerakan bintang-bintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum mukminin seharusnya menyadari kenyataan yang agung ini. Sebagai konsekuensinya, sudah seharusnya mereka tidak berbuat kebodohan seperti orang-orang yang menolak kenyataan dalam hidupnya. Dengan memahami bahwa hidup itu hanya ”mengikuti takdir”, mereka tidak akan pernah kecewa atau merasa takut terhadap apa pun. Mereka menjadi yakin dan tenang seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. yang bersabda kepada sahabatnya, “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (at-Taubah: 40) ketika sahabatnya itu merasa khawatir ditemukan para pemuja berhala yang bermaksud membunuh mereka ketika bersembunyi di dalam gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah adalah pembuat keputusan, setiap kejadian merupakan anugerah bagi makhluk-Nya: segala sesuatu telah direncanakan untuk kebaikan agama dan untuk kehidupan orang yang beriman di akhirat kelak. Kaum mukminin dapat merujuk pada pengalaman mereka untuk melihat bahwa ada sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka pada akhir sebuah kejadian. Untuk alasan tersebut, kita harus selalu memercayai Allah. &lt;br /&gt;Dialah Yang Maha Esa dan Maha Melindungi. Seorang mukmin harus bersikap sebagaimana yang Allah inginkan: memenuhi tanggung jawabnya kemudian berserah diri pada Allah dengan hasilnya. Ayat berikut mengungkapkan misteri ini, yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaaq: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (at-Taubah: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang seharusnya seorang muslim katakan kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah swt., juga tercantum dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang bertawakal itu berserah diri.” (Ibrahim: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakal.” (Ali Imran: 160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bertafakur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Qur`an dijelaskan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah swt. adalah orang yang tidak mengenal ataupun menyadari adanya tanda-tanda Allah. Yang membedakan seorang muslim dengannya adalah kemampuannya untuk melihat tanda-tanda tersebut dan bukti-buktinya. Dia tahu bahwa semua ini tidak diciptakan dengan sia-sia dan dia pun dapat menyadari kekuatan serta keagungan seni Allah di mana pun dan mengetahui cara memuja-Nya. Dialah yang termasuk orang yang berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa ayat Al-Qur`an, ungkapan seperti “tidakkah kamu perhatikan?”, ”terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” menekankan pentingnya bertafakur melihat tanda-tanda keberadaan Allah. Allah menciptakan banyak hal yang tiada putus untuk direnungi. Setiap yang di langit dan di bumi serta di antara keduanya adalah ciptaan Allah swt. dan yang demikian itu menjadi renungan untuk orang yang berpikir. Salah satu ayat memberikan contoh tentang ketuhanan Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (an-Nahl: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat merenungi sejenak tentang ayat di atas, yaitu tentang pohon kurma. Kurma tumbuh dari biji yang sangat kecil (ukuran biji tidak lebih dari 1 cm3). Dari biji ini tumbuh sebatang pohon dengan panjang mencapai 4-5 m dan beratnya bisa mencapai ratusan kilo gram. Satu hal yang diperlukan biji tersebut untuk dapat mengangkat beban yang berat ini adalah tanah di mana ia tumbuh.&lt;br /&gt;Bagaimana sebutir biji mengetahui cara membentuk sebuah pohon? Bagaimana biji tersebut “berpikir” untuk melebur dengan senyawa tertentu di dalam tanah untuk menciptakan kayu? Bagaimana dia meramalkan bentuk dan struktur yang dibutuhkan? Pertanyaan terakhir ini sangat penting karena ia bukanlah sebatang pohon sederhana yang keluar dari sebutir biji. Dia adalah organisme hidup yang kompleks dengan akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah, dengan urat dan cabang-cabang yang diatur dengan sempurna. Seorang manusia akan menemui kesulitan untuk menggambarkan dengan tepat sebuah bentuk pohon, ketika secara kontras sebutir biji yang sederhana dapat menghasilkan sebuah benda yang kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.&lt;br /&gt;Pengamatan ini menyimpulkan bahwa biji tersebut sangat pandai dan bijaksana, bahkan melebihi kita, atau lebih tepatnya, ada kepandaian yang menakjubkan pada sebutir biji. Akan tetapi, apa sumber kepandaian tersebut? Bagaimana mungkin sebutir biji memiliki kepandaian dan ingatan sedemikian rupa?&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki jawaban yang sederhana: biji tersebut diciptakan dan diberi kemampuan membentuk sebuah pohon dengan program untuk proses selanjutnya. Setiap biji di bumi diarahkan oleh Allah swt. dan tumbuh dengan ilmu-Nya. Pada salah satu ayat dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’aam: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan membuatnya bersemi menjadi sebuah tanaman baru. Dalam ayat lain dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (al-An’aam: 95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji-bijian ini merupakan salah satu dari sejumlah tanda-tanda ciptaan Allah swt. di alam ini. Jika manusia mulai berpikir tidak hanya dengan akal mereka, tetapi juga dengan hati mereka dan bertanya sendiri, “mengapa dan bagaimana”, mereka akan mampu memahami bahwa semua yang ada di alam ini merupakan bukti keberadaan dan kekuasaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan alam ini dengan disertai tanda-tanda penciptaan-Nya. Akan tetapi, orang yang mengingkari-Nya tidak dapat memahami kenyataan tersebut karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk “melihat” tujuan penciptaan ini. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an, “... mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)....” (al-A’raaf: 179) Secara kasat mata, mereka tidak memiliki kearifan dan pemahaman untuk menanggapi kenyataan yang ada ini.&lt;br /&gt;Orang-orang beriman tidak termasuk kategori “buta” ini. Mereka menyadari dan menerima kenyataan bahwa seluruh alam ini diciptakan Allah swt. dengan tujuan dan maksud tertentu. Keyakinan ini marupakan langkah awal dari keimanan seseorang. Seiring dengan meningkatnya keyakinan dan kearifan, kita akan dapat mengenali setiap detail ciptaan Allah.&lt;br /&gt;Dalam tradisi Islam, ada tiga langkah pemacu keimanan: Ilmul-yaqin (mendapatkan informasi), Ainul-Yaqin (melihat), dan Haqqul-Yaqin (mengalami/merasakan).&lt;br /&gt;Hujan dapat dijadikan contoh dari ketiga langkah ini. Ada tiga tahapan dalam mengetahui tentang turunnya hujan. &lt;br /&gt;Tahap pertama (Ilmul-Yaqin), ketika seorang duduk di dalam rumah yang jendelanya tertutup, kemudian ada yang datang dari luar memberitahukan padanya bahwa hujan turun dan dia memercayainya.&lt;br /&gt;Tahap kedua (Ainul-Yaqin) adalah tahap kesaksian. Orang tersebut menuju jendela, membuka tirai, dan melihat hujan turun. &lt;br /&gt;Tahap ketiga (Haqqul-Yaqin). Dia membuka pintu, keluar rumah, dan berada “di bawah” siraman air hujan.&lt;br /&gt;Berhati-hati adalah bentuk tindakan dari do’a untuk beralih dari tingkatan Ilmul-Yaqin menuju tingkatan Ainul-Yaqin, bahkan lebih.&lt;br /&gt;Upaya melihat tanda-tanda keberadaan Allah dan tidak menjadi “buta” seperti orang yang ingkar, membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Di dalam Al-Qur`an, orang beriman diseru untuk mengamati dan memperhatikan tanda-tanda keberadaan Allah di sekitar mereka dan ini hanya mungkin bisa dilakukan bila dilakukan dengan berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (al-Waaqi’ah: 63-64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?” (al-Waaqi’ah: 68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun menyatakan dalam ayat yang lain bahwa buta tidak sama dengan melihat, kemudian Dia bertanya, “Maka apakah kamu tidak memperhatikan(nya)?” (al-An’aam: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus melatih diri untuk mengenal tanda-tanda keberadaan Allah dan selalu mengingat-Nya. Bila tidak, pikiran kita akan menyimpang, melompat dari masalah yang satu ke yang lainnya, menghabiskan waktu memikirkan hal yang tidak berguna. Ini merupakan salah satu jenis ketidaksadaran. Kita akan kehilangan kendali pikiran kita ketika kita kehilangan konsentrasi kepada Allah. Kita tidak dapat terpusat pada satu hal, kemudian kita tidak dapat memahami kebenaran di balik materi, kita pun tidak memiliki kemampuan memahami akibat dari tanda-tanda tersebut. Sebaliknya, pikiran kita diarahkan kepada kesesatan. Kita akan mengalami kebingungan sepanjang waktu. Yang demikian itu tidak terjadi pada seorang muslim yang selalu mengingat-Nya, tetapi terjadi pada orang yang ingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (al-Hajj: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, orang beriman adalah mereka yang mengarahkan pikirannya lebih baik dalam merasakan keberadaan Allah dan mereka yang berusaha lebih baik dalam menjalankan agamanya. Mereka membebaskan pikirannya dari pemikiran yang sia-sia dan selalu waspada terhadap godaan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seorang muslim harus menjaga pikiran dari memikirkan hal-hal yang tidak berguna, tidak pernah kehilangan arah dengan kejadian-kejadian di sekitarnya, dan harus selalu menjaga pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan pada Semua Peristiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu diciptakan dengan maksud dan tujuan tersembunyi. Bersama-sama dengan tujuan tersembunyi ini ada beberapa keuntungan bagi seorang mukmin di dalam semua peristiwa. Hal ini dikarenakan Allah berada di sisi orang-orang yang beriman dan tidak pernah mengecewakan mereka. &lt;br /&gt;Pada awalnya, perjuangan hidup tampak tidak menyenangkan. Akan tetapi, seorang muslim harus mengerti bahwa kejadian yang tampaknya menakutkan, contohnya, persekongkolan orang kafir melawan orang beriman, akan berakhir dengan kemenangan bagi orang beriman. Cepat atau lambat, Allah akan memberikan kemurahan hati-Nya, sehingga orang beriman harus yakin bahwa terdapat hikmah pada semua kejadian.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, terdapat banyak contoh yang tercantum dalam Al-Qur`an; kehidupan Nabi Yusuf a.s. adalah salah satu di antara yang luar biasa. Pada masa kecilnya, Nabi Yusuf a.s. dibuang ke dasar sumur oleh saudara-saudaranya. Selanjutnya, ia diselamatkan, kemudian difitnah dan dipenjara walaupun ia tidak bersalah. Bagi orang yang tidak beriman, semua peristiwa itu disangka kemalangan yang paling besar. Akan tetapi, Yusuf a.s. selalu berpikir bahwa hal ini dapat terjadi hanya dengan kehendak Allah swt. dan semua itu pasti akan berubah menjadi lebih baik. Ternyata terbukti, Allah mengubah “bencana” menjadi kebahagiaan. Nabi Yusuf a.s. berhasil lolos dari penjara dan pada saat yang bersamaan menjadi gubernur di tempat tersebut.&lt;br /&gt;Cerita Nabi Yunus a.s. tidak berbeda. Ia melarikan diri ke kapal barang, di mana untuk mempertahankan tempatnya, ia bertaruh banyak. Ketika taruhannya terbukti tidak menguntungkan, ia dilemparkan ke laut dan ditelan ikan raksasa. Dijelaskan dalam Al-Qur`an bahwa ia lalu diselamatkan dan dikirim ke “bangsa seratus ribu orang atau lebih” hanya karena ia memuji Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (ash-Shaaffat: 143-148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua contoh ini tertulis dalam Al-Qur`an, sebagai pelajaran bagi kita bahwa peristiwa yang tampaknya “menyedihkan” itu tidak demikian bagi orang yang beriman. Jika orang memercayai keberadaan Allah, mencari perlindungan hanya kepada-Nya, dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya, maka tidak ada sesuatu yang menjadi penyesalan baginya. Allah menciptakan berbagai kesulitan, namun semua kesulitan itu hanya untuk menguji dan menguatkan kesetiaan dan keimanan orang beriman.&lt;br /&gt;Yang demikian itu tidak terjadi pada orang-orang yang ingkar. Tidak ada satu pun dalam hidup ini kebaikan bagi mereka. Sesuatu yang menipu mereka sebagai kegemaran atau kesenangan merupakan sebenar-benarnya kemalangan dan hal ini akan menambah kesengsaraan mereka di hari kemudian. Segala sesuatu yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Itu Dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kaum yang mementingkan duniawi adalah bodoh, ceroboh, dan dangkal pikirannya. Hidup mereka tidak berdasarkan logika, tetapi mereka hidup dengan kesesatan dan keyakinan yang salah serta mengikuti sangkaan yang berakhir dengan kekeliruan. Salah satu kekeliruan ini adalah keyakinan mereka tentang kematian. Mereka percaya bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.&lt;br /&gt;Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah lari dari kenyataan dengan cara mengabaikan kematian. Tanpa memikirkannya, mereka percaya bahwa mereka dapat menghindari peristiwa itu. Akan tetapi, hal ini seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir untuk mengindari bahaya. Mengabaikan bahaya tidak membuat bahaya itu hilang. Sebaliknya, orang tersebut berisiko menghadapi bahaya dengan tanpa memiliki persiapan. Akibatnya, ia akan menerima kejutan yang lebih besar lagi. Tidak seperti halnya orang beriman yang mentafakuri kematian dan menyiapkan dirinya terhadap kenyataan yang sangat penting ini, kebenaran yang akan dialami semua manusia yang hidup. Allah memperingatkan orang kafir dalam ayat-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (al-Jumu’ah: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian bukanlah “bencana” yang harus dilupakan, melainkan pelajaran penting yang mengajarkan kepada manusia arti hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kematian seharusnya menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Seorang muslim akan benar-benar merenungi kenyataan penting ini dengan kesungguhan dan kearifan. Mengapa semua manusia hidup pada masa tertentu dan kemudian mati? Semua makhluk hidup tidak kekal. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu menandingi Kekuasaan Allah. Allahlah satu-satunya Pemilik kehidupan; semua makhluk hidup dengan kehendak Allah dan akan mati dengan kehendak-Nya pula, seperti dinyatakan, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahmaan: 26-27)&lt;br /&gt;Setiap orang akan mati, namun tak seorang pun dapat memperkirakan di mana dan kapan kematian akan menghampiri. Tidak seorang pun dapat menjamin ia akan hidup pada saat berikutnya. Karena itu, seorang muslim harus bertindak seolah-olah mereka sebentar lagi akan didatangi kematian. Berpikir tentang kematian akan membantu seseorang meningkatkan keikhlasan dan rasa takut kepada Allah, dan mereka akan selalu menyadari akan apa yang sedang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa’: 34-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Pernah Berhenti Melawan Iblis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat sujud di hadapannya, mereka semua sujud kecuali iblis. Iblis kemudian dikutuk. Tanggapan iblis adalah meminta Allah menangguhkan hukuman sampai tiba hari dihidupkan kembali. Dengan demikian, ia memiliki kesempatan untuk membuat manusia berbuat dosa dan menyimpang dari batasan yang ada. Dengan penangguhan dari Allah, ia berjanji akan melakukan hal-hal yang dapat menggelincirkan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (al-A’raaf: 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa`: 119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak berhati-hati terhadap tipu daya iblis dan tidak dapat melindungi dirinya dari bujuk rayu iblis, ia akan mudah dikalahkan oleh iblis. Karena itu, seorang mukmin harus mewaspadai keberadaan iblis, sebagaimana dijelaskan, “Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir: 6)&lt;br /&gt;Orang-orang beriman harus selalu berhati-hati terhadap keberadaan iblis karena dialah yang menjadi sasaran utamanya. Setan tidak berkeinginan untuk membuat orang-orang kafir melampaui batas karena mereka sudah berpaling dan menjadi sekutunya. Dia berusaha keras membanting tulang untuk melemahkan orang-orang yang beriman sehingga menghalangi mereka untuk menyembah Allah. Itulah sebabnya mengapa orang-orang beriman diingatkan berulang-ulang untuk melawan setan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nuur: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur`an, orang yang beriman dengan sebenar-benarnya itu tidak akan terpengaruh oleh bujuk rayu iblis. Akan tetapi, siapa yang lemah dan tidak berbuat kebaikan bisa dengan mudah terpengaruh oleh bisikannya. Janganlah lupa bahwa iblis akan terus-menerus berusaha keras menyebarkan kejahatannya. Orang-orang beriman harus selalu bersama-sama saling mengingatkan untuk selalu mengingat Allah swt. di mana pun dan kapan pun kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa yang Condong kepada Kejahatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh lain yang harus kita perangi adalah diri kita sendiri. Allah mengilhami manusia dengan kebaikan dan keburukan. Keburukan dalam diri kita selalu bekerja untuk setan. Al-Qur`an menjelaskan kedua sisi jiwa kita tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus waspada terhadap sisi keburukan yang ada dalam diri kita sendiri dan selalu menjaga hati dalam menentang bahaya. Mengabaikan sisi keburukan jiwa kita tidak akan menolong kita lepas dari keburukannya. Akan tetapi, kita harus menyucikan jiwa seperti yang diajarkan dalam Al-Qur`an.&lt;br /&gt;Dengan demikian, kaum mukminin tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka suci, tetapi tetap berhati-hati terhadap hasutan dan kesia-siaan jiwa mereka. Pengakuan Yusuf a.s., “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,“ (Yusuf: 53) harus selalu diingat sebagai contoh yang baik untuk bersikap dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia seharusnya mengawasi kelemahan jiwanya dan berbuat kebaikan serta mengekang nafsu, sebagaimana sebuah ayat tegaskan, “... manusia itu menurut tabiatnya kikir....” (an-Nisaa`: 128) Ke arah mana keserakahan mengarahkan manusia, juga tercatat dalam Al-Qur`an. Hawa nafsu adalah yang mendorong salah satu anak Adam membunuh saudaranya, “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (al-Maa`idah: 30) Kecenderungan yang sama yang menyebabkan Samiri menyesatkan pengikut Musa ketika beliau tidak ada. Samiri berkata, “… dan demikianlah nafsuku membujukku.” (Thaahaa: 96)&lt;br /&gt;Satu-satunya cara mencapai keselamatan adalah dengan mengekang nafsu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (an-Naazi’aat: 40-41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan melawan hawa nafsu adalah pertempuran yang terbesar bagi seorang muslim. Mereka harus membatasi emosi dan keinginannya, yang mana yang dapat diterima dan yang mana yang tidak dapat diterima. Ia harus melawan dorongan nafsu dalam jiwanya, seperti keegoisan, iri hati, sombong, dan serakah.&lt;br /&gt;Jiwa kita mempunyai kecenderungan untuk menyenangi hasrat dan keinginan yang sia-sia. Mereka membisikkan kepada kita bahwa kita akan merasa puas ketika kita memperoleh harta lebih dan mendapatkan status yang lebih tinggi dalam masyarakat. Walaupun demikian, semua kesenangan ini tidak pernah memuaskan orang-orang yang beriman dalam arti yang sebenarnya. Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin besar keinginan untuk memiliki yang lebih banyak lagi. Dengan beragam cara, jiwa kita mengarahkan kita agar berbuat seperti halnya binatang buas yang tidak pernah merasa puas.&lt;br /&gt;Jiwa kita akan merasa puas jika menyerahkan diri kita sepenuhnya hanya kepada Allah, tidak kepada hawa nafsu yang rendah. Kita diciptakan untuk menyembah Allah, “ … Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati kita menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28) Tidak ada lagi yang dapat memberikan ketenangan dan kepuasan pada diri setiap muslim selain itu. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya, orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya memiliki kepuasan jiwa. Hal ini terjadi karena mereka menjauhkan diri dari kejahatan, melawan nafsu jiwa mereka, dan membaktikan diri hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (al-Fajr: 27-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menentukan bentuk fisik kita saja tidak bisa, apalagi menentukan takdir kita. Hanya Allahlah yang berhak menentukan kelahiran manusia, lingkungannya, keluarganya, serta pengalaman yang akan ia dapatkan dalam hidupnya. Allah pulalah yang mengilhami kita kebijakan dan kebaikan.&lt;br /&gt;Iman kita bahkan tidak bergantung pada karakter kita sendiri. Allah pulalah Yang Maha Esa yang memberikan kita keimanan. Dialah yang mengarahkan, mengajarkan, dan melatih, sebagaimana jawaban Musa a.s. atas pertanyaan Firaun, “Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (Thaahaa: 50)&lt;br /&gt;Karena itu, orang beriman adalah orang-orang yang dipilih oleh kemurahan Allah, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka....” (al-Qashash: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang masuk neraka adalah mereka yang pantas menerimanya karena mereka menentang Allah Yang telah menciptakan diri mereka. Dengan kemurkaan Alah, mereka menerima apa yang pantas bagi mereka. Hal ini sebagaimana orang-orang yang mengharapkan surga, dengan disertai usaha-usaha untuk mensyukuri rahmat dan karunia-Nya, Allah swt. melimpahkan kemurahan dan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;Orang-orang beriman harus bersyukur telah dipilih Allah dan harus berterima kasih serta memuji Allah dengan segenap jiwa untuk semua yang telah Dia berikan kepada mereka dengan kemurahan-Nya. Mereka harus menghargai karena mereka terpilih di antara jutaan orang dan karena mereka adalah hamba-hamba yang dirahmati Allah, dipilih dan dijauhkan dari kaum yang menghadapi kehancuran. Semua tingkah laku orang beriman harus mencerminkan penghormatan terhadap hak istimewa ini. Allah menggambarkan orang-orang yang menghadapi keruntuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi masa. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah penghormatan yang lebih tinggi daripada diselamatkan dan dimuliakan oleh Tuhan seluruh alam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdo’a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan dalam sebuah ayat tentang pentingnya ibadah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu....’” (al-Furqaan: 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdo’a merupakan cara berdialog dengan Allah; juga merupakan ciri utama yang membedakan orang yang beriman dari orang musyrik. Berdo’a bisa dijadikan sebagai alat ukur keimanan seseorang kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;Kebanyakan orang berpikir bahwa tidak ada yang mengatur alam semesta ini dan segala sesuatu berinteraksi dengan sendirinya. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi tunduk kepada-Nya, tidak ada makhluk yang takdirnya tidak diatur oleh Allah dan tidak patuh kepada-Nya. Bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) mengatakan kepadanya, “… Jadilah…,” lalu jadilah ia. (al-Baqarah: 117)&lt;br /&gt;Orang musyrik tidak memahami kenyataan penting ini dan mereka menghabiskan seluruh hidupnya untuk menggunakan alam ini dalam mengejar impian semu. Orang beriman, dengan cara yang lain, mempelajari keagungan misteri ini dari Al-Qur`an. Mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai yang mereka inginkan adalah dengan memohon kepada Yang mengawasi mereka. Mereka mengetahui bahwa Allahlah Sang Pencipta dan Pengatur segala sesuatu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, haruslah dipahami bahwa Allah tidak harus mengabulkan semua yang diinginkan dari-Nya. Bagi orang-orang yang jahil, “Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa`: 11) Dengan demikian, Allah menjawab semua do’a kita, namun terkadang mengabulkan, terkadang tidak bila ternyata akan menimbulkan “keburukan” yang nyata.&lt;br /&gt;Cara berdo’a juga dijelaskan dalam Al-Qur`an: dengan kerendahan hati dan suara yang lembut, keihlasan, dalam hati kita berharap, namun takut pada Allah, serta dengan kesungguhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut... berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raaf: 55-56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dikatakan, “Hanya milik Allah asma`ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma`ul husna itu....” (al-A’raaf: 180)&lt;br /&gt;Sebenarnya, do’a-do’a kita merupakan pengakuan atas kelemahan kita dengan menunjukkan rasa terima kasih kepada Allah. Tanpa berdo’a berarti menunjukkan kesombongan dan pembangkangan kepada Allah. Allah menyatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (al-Mu’min: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdo’a pada Allah adalah ibadah dan juga rahmat yang besar. Tindak permohonan yang mudah ini merupakan kunci untuk mencapai tujuan, baik dunia maupun akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan dan Memohon Ampun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sifat Allah yang paling sering diulang dalam Al-Qur`an adalah “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Allah benar-benar menyayangi hamba-hamba-Nya dan tidak menghukum mereka secara langsung atas dosa-dosa mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (an-Nahl: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menangguhkan hukuman, Dia memberi waktu kepada orang yang berbuat salah untuk memohon ampun dan bertobat. Tidak peduli betapa besar dosa yang ia lakukan, ia selalu mendapat kesempatan untuk dimaafkan jika bertobat dan berbuat kebaikan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, ‘Salaamun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (al-An’aam: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tobat juga berarti permohonan dukungan dan kekuatan dari Allah untuk membantu orang yang bersalah agar tidak mengulangi perbuatan salah yang sama. Bentuk Tobat yang diterima Allah adalah yang diikuti dengan perbuatan-perbuatan baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (al-Furqaan: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang seseorang bisa saja melakukan dosa yang sama karena bujukan nafsunya, bahkan setelah bertobat. Akan tetapi, hal ini bukanlah alasan baginya untuk tidak bertobat. Dia bisa bertobat karena kesalahan-kesalahan sepanjang hidupnya. Harus diingat pula bahwa tobat seseorang tidak akan diterima ketika kematian telah datang menjemput dan ia mulai melihat nasibnya di hari kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisaa`: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya, saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (an-Nisaa`: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang lain menyeru orang-orang beriman kepada keselamatan, “… Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar Hingga Tiba Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan dengan disertai sifat tidak sabar dan karenanya ia banyak berbuat kesalahan. Akan tetapi, agama meminta setiap orang agar bersabar karena Allah. Orang beriman, terutama, harus sabar menunggu keselamatan yang besar yang Allah janjikan. Inilah perintah di dalam Al-Qur`an, “Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (al-Muddatstsir: 7) Sabar merupakan salah satu sifat penting untuk mencapai ridha Allah; itulah kebaikan yang harus diusahakan agar lebih dekat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat jahiliah, arti sabar bercampur dengan ketahanan diri. Akan tetapi, ketahanan diri memiliki makna yang berbeda, yaitu menahan sakit atau kesusahan. Makna sabar yang sebenarnya dijelaskan dalam Al-Qur`an. Perbedaan ini hanya dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Ketekunan orang-orang beriman bertujuan untuk mencapai ridha Allah. Dengan demikian, sabar memberikan penerangan bagi orang beriman, sedangkan “ketahanan diri” hanya memberikan kejengkelan dan kesusahan bagi orang-orang yang tidak beriman. Al-Qur`an menyatakan hal ini, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (al-Baqarah: 45)&lt;br /&gt;Ayat lain dari surah yang sama menekankan bahwa kegembiraan diberikan kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi rintangan atau kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.’” (al-Baqarah: 155-156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar merupakan sifat mulia yang dapat meningkatkan kekuatan orang-orang beriman. Allah menyatakan pada ayat berikut, betapa kekuatan sabar ini bisa mengalahkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfaal: 66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, sekali lagi, merupakan sifat yang tergolong positif yang diterangkan dalam Al-Qur`an. Seseorang bisa saja rendah hati, sederhana, baik budi, taat atau patuh; namun semua kebaikan ini hanya akan berharga ketika kita menggabungkannya dengan kesabaran. Kesabaranlah yang diperlihatkan dalam berdo’a dan merupakan sifat orang beriman, yang membuat do’a-do’a kita dapat diterima.&lt;br /&gt;Sabar meliputi seluruh kehidupan orang beriman, yang patuh pada ketentuan, “Sabarlah untuk tuhanmu.” Akhirnya, Allah mengambil jiwa mereka dan memberi mereka penghargaan dengan surga-Nya. Malaikat yang berjaga di pintu-pintu menyebut orang yang benar dengan perkataan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Sambil mengucapkan), ‘Salamun `alaikum bi ma shabartum.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Ra’d: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunitas masyarakat yang ingkar kepada Allah swt., mereka membangun sifat-sifat mereka menurut kekuatan atau status yang mereka miliki. Agar seseorang memiliki rasa percaya diri, ia harus kaya atau terkenal, atau cantik, tampan. Menjadi anak dari orang yang “dihormati” juga menjadi alasan penting agar mendapat rasa percaya diri pada masyarakat yang benar-benar ingkar.&lt;br /&gt;Akan tetapi, berbeda dengan orang yang beriman. Ini dikarenakan orang-orang beriman berlomba-lomba untuk tidak mendapatkan simpati siapa pun kecuali Allah, tidak terpengaruh oleh kriteria-kriteria duniawi yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat.&lt;br /&gt;Allah selalu menolong orang-orang beriman. Dia tidak pernah mengecewakan mereka dalam menghadapi perlawanan orang-orang yang ingkar, “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang...,” (al-Mujaadilah: 21) sehingga para utusan dan para pengikut mereka akan mendapatkan kejayaan dengan dukungan yang besar ini. Allah menjamin, “Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (al-Anfaal: 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa bahwa hanya Allahlah yang memperkuat dan memperbaiki orang-orang beriman serta mampu membuat mereka berjaya. Tidak hanya cukup dengan bertumpu pada kekuatan fisik beserta pengaruhnya. Semua itu tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan berdo’a memohon kepada-Nya. Do’a yang diucapkan lebih besar manfaatnya. Sebagai balasannya, Allah mengabulkan keinginan yang dimaksud. Itulah sebabnya mengapa orang beriman harus bersandar pada pertolongan Allah.&lt;br /&gt;Hasilnya, mereka menjadi sedemikian berani dan percaya diri ketika menghadapi dunia. Mereka menjadi sedemikian kuat untuk dipengaruhi oleh tindakan atau pikiran negatif. Musa a.s., yang tidak kehilangan akal ketika penganutnya melampaui batas, berkata, “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Ibrahim: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musa a.s. percaya diri dan tidak takut karena ia yakin bahwa Allah dan pertolongan-Nya selalu bersama dengan orang-orang beriman. Allah kemudian berfirman kepadanya, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).” (Thaahaa: 68)&lt;br /&gt;Sikap Musa a.s. harus menjadi contoh bagi orang-orang beriman. Ini karena Allah telah menjanjikan perlindungan dan dukungan tidak hanya kepada Musa a.s. serta para rasul, tetapi juga kepada setiap orang yang memerangi kemungkaran dan membawa mereka kepada kejayaan. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur`an, “... Allah sekali-sekali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (an-Nisaa`: 141)&lt;br /&gt;Orang beriman bertanggung jawab mempertahankan ketaatan mereka kepada Allah dan menjadi hamba-hamba-Nya yang taat. Ketika hal ini terjadi, mereka tidak akan merasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Maa`idah: 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir tidak dapat mencelakakan orang-orang yang beriman. Semua rencana dan makar melawan orang-orang beriman akan tidak berguna. Pada ayat berikut, hal ini dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allahlah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (Ibrahim: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang-orang kafir berencana melawan orang-orang beriman, Allah akan “... menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (al-A’raaf: 182) Mereka yakin bahwa mereka lebih tangguh dari orang-orang beriman dan dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Akan tetapi, Allah swt. akan selalu bersama orang-orang beriman; dan kekuatan, kemuliaan, serta kebesaran-Nya menjelma pada diri mereka. Al-Qur`an menjelaskan kebenaran ini, yang tidak dapat dipahami orang-orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).’ Padahal kepunyaan Allahlah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya, jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.’” (al-Munaafiquun: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan perintah yang tidak dapat diubah. Orang-orang beriman menurut ayat, “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu...,” (an-Nisaa`: 71) harus selalu berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang kafir, namun merasa tenang dengan perintah Allah yang tersebut di atas.&lt;br /&gt;Allah menjelaskan perintah yang sama dalam ayat yang lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada Keputusasaan bagi Orang Beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis keputusasaan. Pertama, muncul ketika berhadapan dengan kesulitan atau rintangan. Yang demikian itu tidak terdapat pada diri orang beriman. Ia harus selalu ingat bahwa Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang beriman. Al-Qur`an menyatakan bahwa cukuplah hanya Allah bagi orang-orang beriman dan Dia menguatkan orang-orang beriman dengan bantuan-Nya.&lt;br /&gt;Kedua, merupakan jenis keputusasaan yang lebih berbahaya, yaitu berputusasaan dari pengampunan Allah setelah berbuat salah atau dosa. Keputusasaan ini lebih berbahaya karena akan mengarah pada pikiran bahwa Allah tidak akan memaafkan dosa seseorang dan ia akan masuk neraka. Pikiran ini bertentangan dengan apa yang kita pelajari dalam Al-Qur`an. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa orang-orang yang menyesali perbuatannya. Tidak pernah ada kata “terlambat” dalam mencari pengampunan-Nya. Allah menegur hamba-hambanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus asa adalah godaan setan. Setan mencoba memengaruhi orang-orang beriman dengan membuat mereka bingung dan kemudian menjerumuskan mereka untuk berbuat kesalahan yang lebih serius. Tujuannya adalah agar orang-orang beriman tidak merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan mereka, membuat mereka merasa “tertipu”. Jika seseorang jatuh ke dalam perangkap ini, ia akan kehilangan keyakinan dan akibatnya akan mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar dari kesalahan sebelumnya.&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, orang beriman harus segera meminta ampunan Allah, berpikir seperti yang Al-Qur`an ajarkan dan segera membentuk pola pikir yang baru. Al-Qur`an menjelaskan apa yang harus dilakukan orang beriman dalam kondisi itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-A’raaf: 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang ikhlas dalam keimanannya kepada Allah, Allah akan mengampuni dosanya jika ia berbuat salah atau dosa. Bahkan jika ia berpaling dalam waktu yang lama, ia masih mendapatkan kesempatan untuk bertobat. Perbuatan setanlah yang menyebabkannya berputus asa. Allahlah satu-satunya yang dapat memberikan ampunan dan keadilan yang abadi dan yang menjanjikan kemenangan dan surga-Nya kepada orang-orang beriman. Saran dari Nabi Ya’qub harus menjadi panduan bagi semua orang beriman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Yusuf: 87)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilai Segala Sesuatu dengan Cara Pandang Al-Qur`an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman bertujuan menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya. Manusia tidak diciptakan untuk memenuhi keserakahan atau menuruti hawa nafsunya; satu-satunya alasan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Allah.&lt;br /&gt;Jalan untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menjadikan Al-Qur`an sebagi panduan hidup kita. Kita harus mencurahkan segala perhatian untuk mengamalkan setiap ketentuan Al-Qur`an. Kita harus mengamalkan setiap keputusan Al-Qur`an sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;Kita tahu dari Al-Qur`an bahwa kewajiban orang-orang beriman tidak hanya berhenti pada ayat-ayat tertentu, seperti shalat, puasa, atau berhaji, tetapi juga penerjemahan dari ibadah itu sendiri. Sebagai contoh, dalam sebuah ayat, orang yang beriman disuruh, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” (an-Nahl: 125) Orang-orang beriman memahami “hikmah dan pelajaran yang baik” dengan mengamalkan ajaran Al-Qur`an serta ilmu pengetahuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kewajiban lain yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Contohnya, Al-Qur`an menjelaskan bermacam-macam kaum dan menginformasikan kepada kita cara memperlakukan kaum tersebut. Apa yang harus diucapkan kepada kaum tersebut, sebagian besar ayat Al-Qur`an dimulai dengan, “Katakanlah....”&lt;br /&gt;Dengan jelas, ayat-ayat Al-Qur`an memberikan gambaran kepada orang beriman tentang cara bersikap. Akan tetapi, jika perintah-perintah ini diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, harus ditafsirkan dengan benar. Pada saat tersebut, ilmu pengetahuan orang-orang beriman sangat membantu.&lt;br /&gt;Al-Qur`an menjelaskan berbagai jenis kaum, seperti kaum muslimin, Kristen, Yahudi, orang munafik, dan penyembah berhala. Kita harus mempelajari ayat-ayat tersebut dengan baik, karena yang seharusnya dilakukan adalah mengenali kaum-kaum ini dalam masyarakat kita kemudian bersikap kepada mereka sesuai dengan perintah-perintah dalam Al-Qur`an. Dengan demikian, kita akan menjadi apa yang Al-Qur`an inginkan.&lt;br /&gt;Lagi pula, orang beriman harus mengenali semua orang di sekitarnya, yang tidak diragukan lagi memiliki satu atau lebih sifat-sifat kaum yang dijelaskan Al-Qur`an. Orang-orang tersebut membentuk masyarakat yang dijelaskan Al-Qur`an dan tiada satu pun yang diciptakan sia-sia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (al-Anbiyaa`: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, tidak hanya orang-orang di sekitar kita yang dijelaskan dalam Al-Qur`an. Sebenarnya, segala sesuatu yang kita lihat dan semua yang terjadi merupakan pencerminan dari yang tertulis dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh alam memiliki tanda-tanda keberadaan Allah, seperti halnya sebuah lukisan yang menghadirkan pelukisnya kepada yang melihatnya. Seluk-beluk lukisan ini menunjukkan sapuan kuas yang jelas; seluruh alam dan seluk-beluk alam ini ada untuk menghadirkan Allah, Pencipta segala sesuatu. Semakin disadarinya kenyataan ini oleh orang beriman, mereka akan semakin mengenali Allah dan bersungguh-sungguh mematuhi semua perintah-Nya. Ketika seseorang memahami kehidupan dengan seluk-beluknya, yang merupakan “tanda” yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, orang tersebut akan menghubungkan segala sesuatu dalam “kehidupan sehari-harinya” dengan nilai-nilai Al-Qur`an.&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang mengambil tempat dalam takdir Allah, telah ditentukan dan karenanya memiliki tujuan. Yang harus dilakukan oleh orang beriman adalah menafsirkan setiap kejadian dalam cahaya Al-Qur`an, yaitu bertindak sesuai dengan jalan yang telah dijelaskan Al-Qur`an. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan sesuatu yang sia-sia dan bersifat kemalasan, orang beriman harus mengabaikannya, karena diciptakannya sesuatu yang sia-sia itu agar orang beriman tidak mengindahkannya. Orang beriman harus menerjemahkan segala sesuatu menurut cara pandang Al-Qur`an. Dengan demikian, mereka harus membangun budaya dan karakter mereka dalam bingkai Al-Qur`an, sebagaimana perintah Allah untuk mencapai kondisi ini, yaitu mereka harus meninggalkan semua yang mereka peroleh dari masyarakat dan kebodohan mereka yang lampau. Mereka harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan pada setiap situasi dengan bergantung pada penafsiran dan logika Al-Qur`an, karena ayat-ayat Allah menunjukkan kepada mereka cara mengatasi setiap situasi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan dalam Al-Qur`an bahwa telah diturunkan kepada kita sebuah kitab “untuk menjelaskan segala sesuatu” (an-Nahl: 89). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Mengetahui Semua Rahasia Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang paling mendasar dari orang-orang kafir adalah ketidakikhlasan mereka. Mereka tidak ikhlas kepada Allah, orang lain, dan bahkan kepada diri mereka sendiri. Meski mereka berlaku hangat ketika berhadapan dengan orang lain demi kepentingan mereka, pada saat yang sama mereka merasa benci atau cemburu kepadanya. Masalahnya, ketidakikhlasan itu terdapat pada diri mereka sendiri. Meskipun mereka menyaksikan kesalahan dan kejahatan dalam perbuatan mereka dengan jelas, mereka menyembunyikan kenyataan ini di alam bawah sadar mereka dan berbuat layaknya orang yang benar dan sempurna.&lt;br /&gt;Ketidakikhlasan ini berasal dari anggapan bahwa tidak seorang pun mengetahui rahasia di dalam hati mereka, sehingga orang bersalah tersebut dapat berbuat layaknya mereka yang tidak bersalah meski telah melakukan dosa atau kesalahan. Sesungguhnya, mereka benar-benar tidak mengetahui apa yang dipikirkan orang lain dan mereka tidak pernah menyadari bahwa Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. Allah mencatat fakta ini pada ayat-ayat berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghaabun: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seorang pun dapat berbicara tanpa sepengetahuan Allah. Allah mengetahui bukan hanya semua perkataan, melainkan semua pikiran orang, termasuk yang berada di alam bawah sadar, yang sebagiannya tidak mereka sadari. Hal ini ditekankan dalam ayat berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah kamu perhatikan bahwa sesunggunya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerejakan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Mujaadilah: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, perilaku orang beriman haruslah benar-benar didasari keikhlasan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Karena Allah Yang menciptakan dan mengetahui segala sesuatu, tidaklah mungkin kita berpura-pura di depan-Nya. Seseorang harus mengakui semua kelemahan, kesalahan, dan kekhilafannya, meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, serta meminta pertolongan dan ampunan-Nya.&lt;br /&gt;Para rasul merupakan contoh terbaik dalam keikhlasan mereka kepada Allah. Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (al-Baqarah: 260) Ini merupakan cara bagaimana orang beriman mengakui kelemahan mereka kepada Allah dan memohon ampunan dari-Nya. Hal yang sama terjadi ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Musa, “Pergilah kamu kepada Fir’aun.” Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku,” (al-Qashash: 33) serta memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah. Kejujuran para rasul ini menunjukkan bagaimana orang beriman harus bersikap.&lt;br /&gt;Sebelum seseorang memahami kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah, ia tidak dapat memiliki sifat-sifat seperti tabah, rendah hati, beriman, dan berani hanya dengan berpura-pura bersifat demikian, karena “… manusia dijadikan bersifat lemah” (an-Nisaa`: 28) agar mengerti kelemahannya di hadapan Allah. Karena itu, seseorang harus percaya dan berserah diri kepada Allah serta mengungkapkan kesalahan dan dosanya sebelum memohon ampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di Dunia Hanya Sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, ia akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana ia akan tinggal selamanya. Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat.&lt;br /&gt;Akan tetapi, orang yang ingkar tidak akan mampu memahami kenyataan ini sehingga mereka berperilaku seakan-akan segala sesuatu di dunia ini miliknya. Hal ini memperdaya mereka karena semua kesenangan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna, tidak mampu memuaskan manusia yang diciptakan untuk keindahan kesempurnaan abadi, yaitu Allah. Allah menjelaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadiid: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang tertulis dalam Al-Qur`an, orang-orang musyrik hidup hanya untuk beberapa tujuan, seperti kekayaan, anak-anak, dan berbangga-bangga di antara mereka. Dalam ayat lain, dijelaskan tentang hal-hal yang melenakan di dunia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 14-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. Untuk menggambarkan hal ini, dalam bahasa Arab, dunia mempunyai konotasi “tempat yang sempit, gaduh dan kotor”. Manusia menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat panjang dan memuaskan. Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahad. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu di dunia. Pada hari dibangkitkan, Allah akan bertanya kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mu’minuun: 112-115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabaikan Allah dan tidak mengacuhkan kehidupan akhirat, sepanjang hidup mengejar keserakahan dunia, berarti hukuman abadi di dalam api neraka. Orang-orang yang berada di jalan ini digambarkan Al-Qur`an sebagai “orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat”. Bagi mereka, Allah memutuskan, “Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (al-Baqarah: 86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang yang demikian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (an-Naazi’aat: 37-39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik yang Sesungguhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya memiliki acapkali membuat manusia berduka dan terluka. Orang-orang yang ingkar menghabiskan seluruh hidupnya untuk memiliki benda-benda duniawi. Mereka selalu berjuang agar dapat memiliki lebih serta menjadikan hal ini sebagai tujuan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, “… berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…,” (al-Hadiid: 20) merupakan sebuah penipuan karena semua kemilikan di dunia dikuasai oleh Allah. Manusia hanya membodohi diri mereka sendiri dengan menyangka bahwa mereka memilikinya. Hal ini karena mereka tidak menciptakan yang mereka miliki dan mereka pun tidak memiliki kekuatan menjaga semuanya secara abadi. Ditambah lagi, mereka tidak dapat mencegah kerusakan yang terjadi. Juga, karena mereka tidak memiliki hak untuk “memiliki” sesuatu karena mereka termasuk “milik” dari pemilik yang lain. Pemilik tertinggi ini tidak lain “Raja Manusia” (an-Naas: 2), yaitu Allah. Al-Qur`an memberitahu kita bahwa seluruh alam adalah milik Allah, “Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (Thaahaa: 6) Ayat yang lain memperkuat kepemilikan Allah, kekuatan mengampuni atau menghukum, “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allahlah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Maa`idah: 40)&lt;br /&gt;Sebenarnya, Allah memberikan semua kepemilikan kepada manusia sebagai “titipan” sementara di dunia. Titipan ini akan berakhir pada jangka waktu tertentu dan ketika tiba hari perhitungan, lalu setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;Pada hari perhitungan ini, setiap orang akan ditanya tentang maksud dan tujuannya menggunakan “titipan” ini. Mereka yang menyangka dirinya sebagai pemilik dari “sesuatu” yang dititipkan dan menentang para utusan dengan mengatakan, “... apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami...,” (Huud: 87) mereka layak menerima hukuman. Al-Qur`an menggambarkan apa yang akan menimpa mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, semua anugerah yang diberikan kepada manusia atas kebaikan-Nya, harus digunakan tanpa “kebakhilan”. Karenanya, daripada mencoba memiliki dan mempertahankan kepemilikan ini, sebaiknya seseorang menggunakan kepemilikan ini di jalan Allah seperti yang diperintahkan. Ini berarti orang-orang beriman dapat menggunakan harta dalam jumlah yang dibutuhkan untuk biaya hidupnya dan kemudian bersedekah “yang lebih dari keperluan” (al-Baqarah: 219). Jika ia tidak mengikuti petunjuk dan mencoba “memiliki” semua hartanya, berarti ia memandang dirinya sebagai pemilik. Jatuhnya hukuman bagi sikap seperti ini merupakan suatu kewajaran. Al-Qur`an menjelaskan hal ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (at-Taubah: 34-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada “perekonomian” dalam Islam, namun tidak ada “penimbunan harta” dalam Islam. Orang-orang berilmu tidak bergantung pada materi yang mereka miliki untuk menghadapi “masa-masa sulit”, melainkan bertawakal hanya kepada Allah, sehingga Allah menambah harta mereka kembali. Allah memberikan lebih dari yang mereka gunakan di jalan-Nya serta merahmati mereka. Hal ini tercatat dalam ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan hartanya di jalan Allah adalah orang, “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan.” (al-Humazah: 2-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu, seperti anugerah-Nya. Setiap anugerah ini—hidup, keimanan, makanan, kesehatan, sepasang mata dan telinga kita—merupakan anugerah kepada manusia agar bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;Ketika kita meninggalkan ketidakacuhan dan kebodohan serta berpikir dan merenung, kita pasti menyadari bahwa segala sesuatu di sekitar kita merupakan anugerah dari pencipta kita yaitu Allah. Semua makanan yang kita nikmati, udara untuk kita bernapas, keindahan di sekitar kita, mata kitalah yang membuat kita melihat semua ini. Semuanya merupakan anugerah dari Allah swt.. Sedemikian banyaknya anugerah ini sehingga digambarkan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nahl: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diragukan lagi, semua anugerah ini diberikan dengan sebuah alasan. Tiada sesuatu pun diciptakan bagi kita untuk digunakan sebagaimana kehendak kita sendiri. Sebaliknya, alasan bagi semua kemurahan ini—apa pun bentuknya—adalah perintah kepada manusia supaya menuju ketentuan Allah. Hal ini karena segala sesuatu yang diberikan Allah mengharuskan kita bersyukur sebagai balasannya. Allahlah yang memberikan rahmat. Karena itu, kita harus menunjukkan keikhlasan bersyukur hanya kepada-Nya.&lt;br /&gt;Rasa bersyukur merupakan ibadah dan juga cara untuk melindungi kita dari “penyimpangan”. Tidak bersyukur berarti melangkah menuju kerusakan dan kejahatan, melupakan kelemahan-kelemahan, dan menjadi takabbur ketika mereka semakin kaya dan berkuasa. Menunjukkan rasa bersyukur kita kepada Allah berarti melindungi diri dari “kerusakan”. Mereka yang menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah disertai ilmu bahwa semua yang mereka capai adalah pemberian Allah, berarti mereka mengetahui bahwasanya mereka bertanggung jawab menggunakan semua rahmat ini di jalan Allah dan seperti kehendak-Nya. Itulah rasa syukur kepada Allah yang didasari kerendahan hati dan kedewasaan para rasul. Seperti Nabi Daud a.s. atau Nabi Sulaiman a.s. yang kepadanya diberikan harta, kedudukan, dan ketundukan. Sebenarnya, peristiwa Qarun—yang menjadi ingkar disebabkan harta—adalah karena ia tidak bersyukur kepada Allah.&lt;br /&gt;Jika orang beriman tidak menjadi takabbur dan melampaui batas dengan rahmat dan harta yang diberikan kepadanya, Allah akan menambahkan kenikmatan yang telah diberi. “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)&lt;br /&gt;Bersyukur tidak mesti selalu ditunjukkan dengan kata-kata. Yang justru harus dilakukan adalah menggunakan setiap anugerah di jalan yang disukai Allah. Sebagai tahap awal, tubuh yang dianugerahkan kepada kita, harus kita pergunakan untuk berjuang karena-Nya. Al-Qur`an pun memberitahukan bagaimana cara menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, yaitu dengan menyebut semua anugerah-Nya, dengan menyampaikan “pesan”-Nya kepada semua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Ad-Dhuhaa: 5-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ujian Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, tidak ada satu pun di muka bumi ini yang diciptakan sia-sia, tetapi dengan maksud tertentu. Pemahaman ini bergantung pada kecerdasan manusia sendiri. Bagi yang beriman, kecerdasan dan kebijaksanaannya meningkat; mereka dapat memahami alasan ini semakin baik dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Salah satu ajaran terpenting adalah bahwa kita selalu diuji sepanjang hidup kita. Allah menguji keikhlasan dan keimanan kita dalam kejadian-kejadian yang berbeda. Dia juga memberikan karunia untuk menguji apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya. Dia menciptakan berbagai kesulitan bagi kita untuk mengetahui apakah kita bersabar atau tidak, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga diuji dengan berbagai cara. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an pada ayat,&lt;br /&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan kita secara terencana merupakan materi untuk diuji. Mulanya, kita diuji melalui fisik kita. Al-Qur`an menyatakan, “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”(al-Insaan: 2) Karena itu, setiap yang kita dengar dan lihat sebenarnya merupakan bagian dari ujian tersebut. Dalam segala situasi, kita akan diuji untuk melihat apakah kita berperilaku sesuai dengan Al-Qur`an ataukah dengan keinginan kita sendiri yang sia-sia.&lt;br /&gt;Allah menguji ketabahan orang-orang beriman dengan berbagai kesulitan. Salah satunya adalah tekanan dari orang-orang ingkar. Semua tindakan buruk, seperti hinaan, ejekan, kekerasan, dan bahkan siksaan serta pembunuhan, hanyalah ujian untuk orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imran: 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa semua kehilangan dan kecelakaan ini diciptakan Allah sebagai ujian khusus. Bagi mereka yang tidak paham, hal ini akan menjadikannya fasik. Al-Qur`an meriwayatkan kisah Yahudi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tanyakanlah kepada bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (al-A’raaf: 163)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang yang memiliki kecerdasanlah yang dapat menyadari ujian ini dan dapat berhasil dalam ujian dengan menggunakan kecerdasannya tersebut. Karena itu, seorang yang beriman jangan sampai lupa bahwa ia sedang diuji sepanjang hidupnya. Ujian ini tidak akan berlalu atau surga tidak dapat diraih hanya dengan mengatakan “saya beriman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabuut: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dijelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Tidak Membebani Makhluk-Nya Melainkan &lt;br /&gt;Sesuai dengan Kemampuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar manusia mengklaim bahwa sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan ajaran agama dan itulah alasannya mengapa mereka tidak menjalankan prinsip-prinsip agama. Dengan cara ini, mereka berharap kesalahan mereka berkurang. Akan tetapi, mereka hanya membohongi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Sebagaimana dikatakan Al-Qur`an, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakanny....” (al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain menegaskan bahwa agama yang Allah pilihkan bagi kita sangat mudah seperti halnya agama Ibrahim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, adalah kebohongan yang besar bila seseorang menyatakan sulit dalam menjalankan ajaran agama dan menjadikan hal ini sebagai alasan untuk kelalaian diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Mengikuti Kaum yang Ingkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup dengan nilai-nilai Al-Qur`an, seseorang harus meninggalkan budaya dan nilai-nilai moral masyarakat yang ingkar kepada Allah swt.. Satu hal yang pertama harus ditinggalkan adalah pemahaman cinta dalam masyarakat duniawi.&lt;br /&gt;Pada masyarakat duniawi, semua hubungan dan cinta berdasarkan pada kepentingan ego pribadi. Seseorang akan bersama dengan yang lainnya bila saja ada keuntungan yang didapat dari rekannya, mendapat perhatian, atau sedikitnya diperlakukan baik. Ukuran lain adalah ikatan keluarga; seseorang mencintai yang lainnya karena mereka berasal dari keluarga yang sama, atau dari keturunan, masyarakat, dan bahkan dari bangsa yang sama.&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang demikian itu bukanlah kriteria orang-orang beriman karena orang beriman mencintai Allah melebihi sesuatu atau seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah....” (al-Baqarah: 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman, karena mencintai Allah di atas segalanya, mencintai orang yang mencintai Allah, tidak membedakan apakah orang yang menyetujui atau benci tindakannya merupakan orang dekat ataupun jauh. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (al-Mujaadilah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, bila orang beriman memiliki sedikit saja cinta terhadap orang yang ingkar, itu tidak akan membuat orang beriman bersikap dengan benar. Orang-orang yang beriman diperingatkan agar tidak melakukan hal ini. Dalam Al-Qur`an dijelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”(al-Mumtahanah: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Nabi Ibrahim a.s. dan para pengikutnya menjadi contoh yang baik bagi orang-orang beriman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya, kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja....” (al-Mumtahanah: 4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada yang Lebih Dicintai daripada &lt;br /&gt;Allah dan Rasul-Nya serta Berjihad di Jalan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kewajiban bagi orang beriman adalah menyembah Allah. Satu-satunya alasan keberadaan kita adalah menjadi hamba-Nya. Kehidupan yang tidak didasari alasan ini berarti menolak agama Allah dan menyembah selain Allah, yang akibatnya akan membuat seseorang masuk neraka.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kehidupan hanyalah alat bagi orang beriman. Dia harus menghargai setiap saat dalam hidupnya untuk dekat kepada Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Jika alat ini berubah menjadi tujuan—yang dilakukan oleh orang-orang ingkar—ia segera berada dalam bahaya besar.&lt;br /&gt;Orang-orang beriman hidup hanya untuk satu sebab, yaitu menyembah Allah dan karenanya mereka meninggalkan keduniawian. Allah menjelaskan hal ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”(at-Taubah: 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman menjual jiwa dan hartanya kepada Allah dan tidak ada lagi hak baginya. Seluruh hidupnya dibaktikan di jalan yang Allah perintahkan. Jika Allah mengaruniai mereka, mereka akan bersyukur, dan jika mereka diperintahkan berjihad di jalan-Nya, mereka tidak merasa ragu sedikit pun, bahkan jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang menuju kematian.&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya tidak akan lalai pada kepuasan pribadi dan tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang dapat mencegahnya dari berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;Mereka mampu meninggalkan keindahan nikmat Allah dan menyerahkan jiwa mereka tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, orang-orang ingkar tidak akan menjual harta dan jiwa mereka kepada Allah. Kekurangan iman seperti ini akan dicatat dan dibalas dalam kehidupan mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (at-Taubah: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan yang sangat kuat pada diri para sahabat Nabi Muhammad saw. membuat mereka tidak pernah menolak pertempuran; sebaliknya, beberapa di antara mereka ada yang berurai air mata ketika mereka tidak berkesempatan berjihad bersama Rasulullah saw.. Pada ayat berikut, Allah menjelaskan perbedaan antara orang-orang yang ikhlas dan yang setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya, jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”(at-Taubah: 91-93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Lemah, Bersedih Hati, dan Berputus Asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman memiliki perjuangan berat dan panjang di jalan Allah. Jalan hidup mereka sering diserang musuh yang jumlahnya sangat banyak dan dengan peralatan yang lebih baik. Akan tetapi, sepanjang mereka berada di jalan Allah, mereka dapat mengatasinya.&lt;br /&gt;Salah satu alasan bagi kemenangan mereka, sebagai orang beriman, mereka melakukan perjuangan dengan semangat dan kegembiraan yang besar. Inilah yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingkar karena mereka telah mencintai kehidupan dunia, mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka takut dan lemah serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang-orang beriman tidak mudah dilemahkan karena mereka tahu bahwa Allah selalu bersama mereka dan mereka berharap menjadi orang yang berhasil. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, orang-orang beriman membutuhkan ibadah untuk mendapatkan semangat dan kegembiraan ini, karena sangatlah mudah tergelincir dari jalan Allah. Inilah yang diperjuangkan iblis. Pada saat-saat genting, seorang munafik berkata kepada para Sahabat Rasulullah saw. “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu,” (al-Ahzab: 13) lalu ia menciptakan keputusasaan serta menimbulkan perasaan kalah. Akan tetapi, orang-orang beriman telah diperingatkan dalam Al-Qur`an mengenai semua faktor keraguan ini, “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (ar-Ruum: 60)&lt;br /&gt;Orang yang beriman hanya bertanggung jawab kepada dirinya dan Allah serta tidak seharusnya terpengaruh oleh kelemahan yang lain. Kekuatan musuh pun tidak dapat memengaruhi dan membuatnya takut. Seluruh hidup orang beriman hanyalah untuk Allah. Mereka akan terus beribadah demi keridhaan-Nya sampai akhir hayat. Pada sebuah ayat dijelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisaa`: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merendahkan Diri Ketika Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat sangatlah penting karena hal itu merupakan pernyataan lahiriah seseorang menjadi muslim. Akan tetapi, Al-Qur`an menerangkan jenis shalat yang tidak disukai yaitu yang tanpa keihklasan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (al-Maa’uun: 4-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa yang membuat shalat kita menjadi sah bukanlah gerakannya, seperti rukuk dan sujud, melainkan tujuan serta apa yang mereka pikirkan pada saat shalat. Beberapa orang melakukan shalat hanya untuk menunjukkan kepada yang lain tentang “kemusliman” mereka, bukan untuk meraih keridhaan Allah. Sesungguhnya, mereka melakukan hal yang di luar batas.&lt;br /&gt;Yang membuat shalat kita diterima adalah kesadaran kita bersujud di hadapan Allah hanya untuk menyatakan penyerahan diri kita kepada-Nya. Itulah sebabnya, Allah memerintahan orang-orang beriman “... Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (al-Baqarah: 238)&lt;br /&gt;Ayat yang lain menggambarkan orang-orang beriman sebagai, “orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (al-Mu`minuun: 2) Kekusyukan pada ayat ini berarti mengalami rasa takut disertai rasa hormat serta kekaguman yang medalam. Shalat yang demikian meningkatkan keimanan dan memperpendek jarak dengan Allah. Itulah yang membuat manusia menjadi tenang.&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, shalat digambarkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya, shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-‘Ankabuut: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertasbih Memuji Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua topik keimanan yang kita bahas hingga kini membutuhkan kepasrahan diri kepada Allah, dalam hidup dan berjuang karena-Nya. Pengabdian ini tidak dapat kita capai kecuali memiliki kedekatan dengan Allah dan jalan untuk khusyuk, melalui “mengingat dan kembali kepada-Nya”. Orang-orang beriman itu seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Ahzab: 42) Inilah yang akan menjadikan orang yang beriman menjadi “hamba Allah” seperti layaknya Nabi Ibrahim a.s..&lt;br /&gt;Orang-orang beriman harus bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya dan memohon ampunan Allah atas perbuatan zalim diri mereka. Selanjutnya, mereka harus meminta kepada Allah untuk semua yang mereka butuhkan serta memuji-Nya siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 205)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, “… Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)….” (al-‘Ankabuut: 45) Tanpa menghadirkan Allah, semua shalat akan kehilangan nilainya. JIka shalat ini tidak ditujukan untuk mengingat Allah dan mencari ridha-Nya, mereka tidak mendapatkan upah. Ketika Al-Qur`an memberitahukan sifat-sifat para nabi, ditekankan betapa mereka selalu taat kepada Alah. Dalam ayat ke-30 surah Shaad, Allah berfirman, “Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” Kepada Ayyub, a.s. Allah berkata, “… Sesungguhnya, Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shaad: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengingat Allah dalam Setiap Kesulitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hidup orang-orang beriman adalah beribadah kepada Allah. Salah satu cara beribadah adalah menyampaikan ajaran Allah di mana pun dan berjuang melawan pasukan iblis. Perjuangan ini biasanya sangat berat dan keras karena setiap saat “pasukan iblis” mempunyai peralatan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Orang-orang beriman tidak terpengaruh oleh hal ini karena mereka menyadari adanya sebab akibat di dunia. Realita ini mengabarkan bahwa kemenangan tidak berhubungan dengan jumlah yang banyak atau kekuatan yang dahsyat, tetapi atas perintah dan kehendak Allah. Ajaran agama yang benar memberikan penghargaannya berupa kemenangan iman, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 249) Keimanan yang murnilah yang menunjukkan kemenangan. Kebenaran yang pelik ini, yang tidak dipahami orang-orang ingkar, dijelaskan dalam ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfaal: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Wahyu Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertulis dalam surah al-Muzzammil: 7 bahwa sesungguhnya pada siang hari orang-orang beriman mempunyai urusan yang banyak. Tentu saja kesibukan-kesibukan itu untuk kepentingan agama walaupun kesibukan-kesibukan tersebut membuat orang-orang beriman terlibat dengan masyarakat yang mementingkan dunia.&lt;br /&gt;Di tengah urusan-urusan dunia pun orang-orang beriman menjaga keimanan kepada Allah dan tidak pernah kehilangan pandangan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (an-Nuur: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terpenting dalam kebajikan ini adalah menjaga hubungan dengan Allah. Di dalam Al-Qur`an, hal ini ditekankan pada ayat, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya, Allah adalah Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-Ahzab: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama orang-orang beriman menjaga Al-Qur`an dalam hatinya, mereka dapat mengamalkan ajaran Al-Qur`an dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya akan merasa lebih dekat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhi Pembicaraan yang Sia-Sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman tidak tertarik pada pembicaraan dan hal yang sia-sia serta tidak berguna. Mereka tidak merasakan kepuasan pada hal-hal tersebut karena yang demikian itu tidak bernilai. Mereka terlibat dalam urusan dunia hanya jika ada keuntungan yang menambah kedekatan kepada Allah. Inilah sebabnya, orang-orang beriman digambarkan sebagai, “orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (al-Mu`minuun: 3)&lt;br /&gt;Ayat di atas menekankan bahwa ketika seorang mukmin bersentuhan dengan perbuatan atau perkataan yang sia-sia, ia harus menghindar dan melakukan hal yang berguna bagi misi ketuhanan. Inilah sikap yang tepat dalam rangka menyenangkan Allah. Untuk itu, orang-orang yang beriman harus selalu waspada dan mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidaklah tepat bagi orang yang beriman berbantah-bantahan dengan orang yang bodoh dan pendek akal kecuali ada hal yang dapat diraih dalam rangka berdakwah. Al-Qur`an menjelaskan sikap ideal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (al-Furqaan: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang beriman telah menyelesaikan tugas, ia harus melanjutkan dengan pekerjaan berguna lainnya. Dijelaskan dalam ayat, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi yang Moderat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi moderat membutuhkan sikap yang berada dalam batasan Al-Qur`an, yaitu mengerjakan perintah agama dan menjauhi larangannya. Hal ini membutuhkan pandangan yang seimbang. Ketika orang beriman terlibat dengan masyarakat keduniawian, ia tidak meniru perbuatan masyarakat tersebut. Orang beriman harus selalu mematuhi apa yang tertulis dalam Al-Qur`an, tetap konsisten dalam setiap pendekatan.&lt;br /&gt;Hal ini bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan ketika orang beriman berada di luar lingkungannya sendiri, melainkan berlaku sama ketika ia berada di tengah-tengah kaumnya. Juga ketika berada dalam situasi di saat harus memperlihatkan kesopanan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (al-Hujuraat: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, risiko dari berbuat tidak seimbang bisa muncul dalam melakukan sesuatu yang tampaknya wajar. Hal ini disebabkan tidak semua sikap sesuai dengan setiap situasi. Cara berbicara atau bertingkah laku terkadang menjadi “tidak sesuai” atau “tidak tepat” meski tidak dilarang. Itulah sebabnya, orang beriman dilarang berlidah tajam atau menurutkan perilaku ekstrem. Ia harus membangun kepribadiannya sehingga tidak menjadi salah tingkah ataupun terlalu senang dan tidak pernah kehilangan kendali atau berlaku kasar. Al-Qur`an menjelaskan tentang perilaku yang tidak disukai ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadiid: 22-23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Malaikat Menjadi Saksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menyangka bahwa mereka “sendirian” bila mereka tidak terlihat oleh yang lain, namun hal ini tidak benar. Pertama, karena Allah selalu bersama kita dan melihat serta mendengar setiap perbuatan ataupun perkataan kita. Kedua, ada para saksi yang tidak terlihat di sisi kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Mereka adalah para malaikat yang bertugas mengawasi kita, yang mencatat setiap perbuatan. Al-Qur`an memberi tahu kita tentang hal ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 16-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dicatat para malaikat tersebut akan ditunjukkan pada hari perhitungan, ketika manusia akan ditanyai tentang perbuatan mereka di dunia. Al-Qur`an menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku.’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya, dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (al-Insyiqaaq: 7-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Perjanjian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, manusia itu “pelupa”. Inilah sebabnya, Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menulis perjanjian di antara mereka dengan dihadiri para saksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 282)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang lain, diingatkan bahwa lebih baik membebaskan utang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 280)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatakan Sesuatu yang Tidak Dikerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman harus memenuhi janji mereka, seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, “… sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (al-Israa`: 34)&lt;br /&gt;Menjadi orang yang jujur merupakan salah satu sifat yang penting bagi kaum mukminin. Para rasul Allah membuktikan kebenaran mereka kepada kaumnya dan dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Memenuhi semua janji menjadi bagian penting dalam sifat jujur ini. Orang beriman harus menjaga janji mereka dan tidak pernah berjanji pada hal-hal yang tidak dapat mereka penuhi. Hal ini dikatakan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Berselisih di Antara Orang-Orang Beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu rahasia keberhasilan orang-orang beriman adalah eratnya tali ukhuwah dan solidaritas. Al-Qur`an menekankan pentingnya persatuan, “Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash-Shaff: 4)&lt;br /&gt;Perkataan atau perbuatan yang merusak eratnya ukhuwah akan menjadi musuh dan melawan agamanya sendiri. Dalam Al-Qur`an, Allah memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap ancaman ini, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfaal: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, orang yang beriman dengan tulus harus berhati-hati agar tidak bertengkar, menjauhi kata-kata atau sikap yang dapat melukai perasaan saudaranya. Selanjutnya, ia harus berlaku sedemikian rupa untuk menghindari pertengkaran serta menambah kepercayaan di antara mereka. Di dalam Al-Qur`an, kita dapatkan perintah yang jelas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya, setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (al-Israa`: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang yang beriman berbeda pendapat dengan saudaranya pada suatu masalah, ia harus bertingkah laku dan berkata dengan sopan dan lembut. Dalam mengeluarkan pendapat, ia harus memperlihatkan asas “musyawarah” dan tidak “berdebat”. Jika ada pertikaian di antara dua orang beriman, yang harus dilakukan adalah mengacu pada ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus dicatat bahwa perdebatan kecil akan berpengaruh negatif pada jalan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berlindung kepada Allah dari Godaan Setan &lt;br /&gt;Ketika Membaca Al-Qur`an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an adalah wahyu Allah yang diturunkan untuk mengingatkan manusia. Ketika Al-Qur’an membantu meningkatkan keimanan orang-orang beriman, pada saat yang sama Al-Qur`an mengungkapkan penolakan orang-orang yang ingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berarti dalam beberapa ayat Al-Qur`an terdapat ungkapan tentang penyimpangan “orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan” dan juga peningkatan keimanan dan kepasrahan kaum mukminin.&lt;br /&gt;Haruslah dicatat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dirinya akan dapat terus memelihara keimanannya. Kaum mukminin bisa kehilangan Al-Qur`an dalam hatinya akibat godaan setan. Biasanya, mereka tidak dapat menangkap hikmah Al-Qur`an sewaktu membacanya ketika berada di bawah pengaruh setan. Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan orang beriman agar berlindung kepada-Nya dari pengaruh setan sebelum membaca Al-Qur`an, “Apabila kamu membaca Al-Qur`an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah ini sangat penting karena mengingatkan orang beriman akan kehadiran dan aktivitas setan yang tiada henti. Dalam bekerja, setan menunggu orang-orang yang berada di jalan yang lurus serta mengganggu mereka “dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri”. Strategi iblis tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an. Keselamatan dari tipu daya iblis dapat diraih hanya melalui Al-Qur`an, yang memperingatkan kita agar melawan trik-trik iblis dan meminta kita agar menghindari mereka. Jalan keluarnya adalah dengan menerima Al-Qur`an sebagai satu-satunya panduan dan membacanya setelah berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendah Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat kasar, tidak peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan orang-orang yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga tidak memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat berbeda dengan orang-orang tersebut karena salah satu karakter orang beriman ialah menahan nafsu serakah.&lt;br /&gt;Mereka yang dapat menahan nafsu akan menjadi orang yang penuh perhatian terhadap sesama. Al-Qur`an memberitakan jenis pengorbanan antara orang-orang Mekah yang hijrah bersama Rasulullah saw. (Muhajirin) dan orang-orang Madinah yang menolong mereka (Anshar),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang beriman harus mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi. Itulah sebenar-benarnya iman: kepatuhan dan persaudaraan.&lt;br /&gt;Mendahulukan kepentingan saudaranya tidak terbatas dalam berhubungan dengan hal-hal fisik saja. Ukhuwah juga tidak terpisah dari pemikiran. Seseorang yang beriman harus menyadari kebutuhan dan masalah saudaranya lebih dari dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Sikap kasar dan berakhlak buruk menunjukkan kelemahan iman seseorang. Seseorang yang tidak menyadari betapa tindakannya akan memengaruhi orang lain dan berbuat menurut apa yang “dikehendaki” saja, bukanlah contoh orang beriman yang digambarkan Allah. Al-Qur`an menitikberatkan hal ini dengan beberapa contoh tindakan yang berakhlak mulia maupun yang buruk. Dan yang terpenting adalah dengan memuliakan dan menghormati Rasululah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujuraat: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (al-Ahzab: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dibesarkan dengan ajaran Al-Qur`an akan menjadi mulia, sopan, santun, dan berakhlak mulia. Inilah sifat alami orang beriman yang mendahului kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi dan yang memberi makan orang-orang fakir, anak yatim, dan para tahanan karena cinta kepada Allah. Berakhlak mulia menjadi sifat penghuni surga. Tidak mengganggu saudaranya ketika mempunyai urusan penting, berdiam diri ketika temannya sedang shalat, membuat saudaranya merasa aman, menawarkan bantuan dan melayani mereka tanpa bertanya merupakan contoh perbuatan baik. Akan tetapi, semua itu merupakan contoh yang menuntut perubahan situasi dan kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpaling dari Orang-Orang Jahil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Qur`an, orang-orang beriman digambarkan sebagai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (al-Furqaan: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman memiliki pembawaan damai. Sebaliknya, orang-orang yang ingkar memiliki sifat pemarah, gelisah, dan agresif. Hal itu merupakan siksa neraka yang ditimpakan di dunia. Itulah sebabnya, mereka menjadi pembuat masalah dan terus-menerus menghadapi kesulitan. Akan tetapi, orang beriman tidak mempedulikan mereka kecuali jika mereka bermaksud membahayakan orang-orang beriman dan Islam. Orang beriman bertindak mulia, seperti yang digambarkan ayat di atas. Ketika terjadi campur tangan, mereka tidak berlaku kasar, namun tetap beradab dan patuh pada hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Berdebat tentang Hal yang Tidak Diketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Qur`an, manusia digolongkan sebagai makhluk “yang paling banyak membantah” (al-Kahfi: 54). Pada ayat yang lain, kritikan ini diberikan bagi orang-orang yang ingkar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (az-Zukhruf: 57-58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan bagi kecenderungan mendebat sesuatu tidaklah untuk mengungkapkan atau mengevaluasi pendapat yang berbeda, tetapi untuk memuaskan diri dalam memicu perselisihan. Argumen orang-orang yang jahil bukan mengevaluasi pandangan orang lain atau mencari solusi. Tujuannya tak lain adalah mengalahkan orang itu. Inilah yang menjelaskan mengapa ada suara keras dan tarik urat selama berargumen, dan mengubah diskusi menjadi pertengkaran.&lt;br /&gt;Hal itu benar-benar aneh, mendebat sesuatu dengan tidak disertai ilmu. Contoh yang paling nyata terlihat pada diskusi antar pemeluk agama, di mana para argumentator pada umumnya sangat jahil. Kesalahan tersebut dijelaskan pada ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Ali Imran: 66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Mengolok-olok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat berikut secara jelas memberitahukan kepada orang-orang beriman agar jangan saling mengolok-olok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyuruh manusia menahan diri dari mengolok-olok. Mengolok-olok dapat berupa menertawai kemalangan orang lain, tersenyum sinis, menyindir, atau memandang rendah. Sikap-sikap seperti itu merupakan budaya orang-orang jahil dan tidak sesuai dengan orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Al-Qur`an memperingatkan kita bahwa orang yang memperturutkan sikap yang demikian akan menderita karena api neraka akan merambat sampai membakar hati mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya, api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah mungkin bagi orang-orang beriman berperilaku sinis setelah mengetahui kehendak Allah ini. Karena itu, tidak ada orang beriman yang dengan sengaja bersikap seperti itu. Akan tetapi, jikalau ada orang beriman yang tergelincir pada sikap demikian, hal itu disebabkan karena ketidaksadarannya berlaku salah dan menganggapnya sebagai lelucon. Akan tetapi, begitu ia menyadari kesalahannya, ia harus segera berhenti dan bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Memanggil Orang Beriman dengan Panggilan Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kebiasaan bagi orang yang ingkar memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk. Maksud sebenarnya dari kebiasaan itu tidak lain adalah untuk merendahkan orang lain dan “membuktikan” kehebatan dirinya sendiri. Panggilan buruk tersebut bisa diambil dari kekurangan fisik ataupun kesalahan di masa lampau. Orang-orang yang ingkar tidak akan melupakan kesalahan orang lain meski ia sudah bertobat.&lt;br /&gt;Akan tetapi, orang beriman berbeda dari mereka. Mereka selalu memaafkan dan menjaga persaudaraan di antara mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak berbuat seperti itu. Lagi pula Allah telah memerintahkan, “... Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk....” (al-Hujuraat: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat Dipercaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an menggambarkan sifat amanah sebagai salah satu prinsip moral dan jalan menuju kesuksesan. Orang-orang beriman harus menjaga amanat yang dipercayakan kepadanya sampai amanat tersebut dikembalikan. Selain itu, mereka pun harus dapat membedakan siapa yang mengamanatkan dan siapa yang berhak atas amanat tersebut. Dalam hal ini, Al-Qur`an menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisaa`: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat lain dijelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat bisa berupa uang, tugas, atau hal lain. Orang beriman harus dapat menjadi dan membedakan orang-orang yang dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang Mengelabui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan utama masyarakat yang tidak mempedulikan pandangan Islam adalah menyangka dunia yang mereka sentuh dan lihat merupakan suatu hal yang agung dan mutlak pada keberadaan duniawi. Mereka menganggap semua itu “abadi dan tidak pernah berakhir”. Mereka memuja semua itu dan mencari pertolongan dengannya. Akibatnya, mereka sedikit demi sedikit melupakan Allah dan bahkan mengingkari keberadaan-Nya. Persangkaan mereka terhadap keberadaan Allah adalah “tidak nyata dan merupakan khayalan semata” dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Itulah cara berpikir yang salah dari orang-orang yang ingkar. Hal yang mutlak bukanlah benda-benda duniawi, melainkan Allah. Al-Qur`an menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Hajj: 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, keberadaan benda-benda duniawi hanya ada setelah diciptakan oleh Allah. Keberadaannya menurut kehendak dan perintah-Nya. Dengan demikian, kemutlakan benda-benda patut dipertanyakan. Benda hanya ada sebagai hasil dari perintah Allah. Allah menjelaskan kenyataan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa dunia beserta isinya tetap ada karena dipertahankan oleh Allah dan jika Dia menghendaki, semua itu akan lenyap. Hal itu berarti alam ini dibuat dengan hal-hal yang mengelabui, yang akan hilang bila diperintahkan. Kehendak Allah yang tanpa batas ini di luar pemahaman manusia, tetapi “mimpi” adalah cara untuk menjelaskan penciptaan ini. Sebagai contoh, ketika seseorang terbangun dari mimpi, alam yang ada dalam mimpinya hanyalah pikirannya semata selama tidur. Ketika pikirannya menghentikan “bentukan” alam tersebut, seketika ia lenyap dan tidak ada lagi. Sesungguhnya, tidak ada benda atau manusia bebas.&lt;br /&gt;Seorang ulama yang terkenal, Imam Rabbani, menceritakan kebenaran yang haq ini (narasi ini diringkas dan ditulis ulang dalam penerjemahan).&lt;br /&gt;“Allah telah memutuskan penjelmaan setiap nama-nama-Nya (Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan lain-lain) dan memberikan sifat-sifat-Nya kepada yang diciptakan, dan manusia diciptakan semata-mata bukanlah apa-apa. Yang Maha Esa dan hanya Allahlah dengan kekuatan-Nya memutuskan tempat realisasi nama-nama-Nya dan menciptakan mereka dalam dunia ilusi (khayalan). Dia menentukan ini pada waktu dan bentuk yang ia inginkan.&lt;br /&gt;Keberadaan alam ini hanyalah ilusi dan sensasi tanpa pengecualian. Dalam hal ini, yang bukan apa-apa dan ilusi tersebut mendapatkan kekuatan dan suara dari penciptaan Allah sehingga ciptaan itu menjadi hidup, mengenal, berbuat, bertanya, mendengar, dan berbicara dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, semuanya merupakan penjelmaan dan yang ada hanyalah bayang-bayang. Tiada jalan untuk keluar. Di luar dunia, tiada sesuatu melainkan ciptaan Allah dan nama-nama-Nya.&lt;br /&gt;Setiap sesuatu yang muncul dalam cermin (bayangan) Yang Mahakuasa dan pada jalan ini, mereka mendapatkan penampilan luar: mereka terlibat seperti eksitensi di dunia luar. Akan tetapi, tidak ada yang lain selain bayangan. Tiada seseorang dan sesuatu pun melainkan Allah.” (Maktubati Rabbani, Imam Rabbani, hlm. 517-519)&lt;br /&gt;Karena tidak ada yang lain selain Allah dan segala sesuatu di alam ini merupakan penjelmaan-Nya, maka pencipta semua perbuatan tak lain adalah Yang Mahakuasa. Al-Qur`an menjelaskan rahasia ini pada sejumlah ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfaal: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Insaan: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” (al-Anfaal: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memiliki wajahnya sendiri seperti yang telah dibuktikan. Dalam hal ini, segala sesuatu tampak bebas dan tidak terkendali. Akan tetapi, sesuai bentuknya menurut penciptaan mereka, semuanya patuh dan tunduk pada kehendak Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur`an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Huud: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui tidak ada sesuatu melainkan Allah, terbukalah rahasia bahwa tidak ada seorang pun melakukan sesuatu atas kehendak dirinya sendiri. Rahasia ini harus selalu diingat oleh orang beriman, sehingga orang beriman mengetahui bahwa terjadinya semua perbuatan buruk orang-orang ingkar itu atas kehendak Allah. Karena itu, orang-orang beriman menerjemahkan dan mengevaluasi semua kejadian menurut pengertian yang ada. Hal ini akan membantu mereka berbuat yang benar dan bertindak dengan ikhlas, baik, dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-3089600367182961372?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/3089600367182961372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=3089600367182961372&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3089600367182961372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3089600367182961372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/keberadaan-allah.html' title='Keberadaan Allah'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8896789970534810516</id><published>2009-09-25T02:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:23:34.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>Pacaran Dalam Islam</title><content type='html'>Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? Bahaya ngga' ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu? &lt;br /&gt;Memiliki rasa cinta adalah fitrah&lt;br /&gt;Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia,&lt;span class="fullpost"&gt; pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.&lt;br /&gt;Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga' terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe' terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :&lt;br /&gt;Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.&lt;br /&gt;Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.&lt;br /&gt;Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.&lt;br /&gt;Pacaran dalam perspektif islam&lt;br /&gt;In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)&lt;br /&gt;Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya." (HR. Imam Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur : 31). &lt;br /&gt;Dan juga sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR. Thabrany).&lt;br /&gt;Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."&lt;br /&gt;Wallahu A'lam bish-Showab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-8896789970534810516?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/8896789970534810516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=8896789970534810516&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8896789970534810516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8896789970534810516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/pacaran-dalam-islam.html' title='Pacaran Dalam Islam'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-779266078762113367</id><published>2009-09-25T02:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:20:57.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><title type='text'>APAKAH TUNTUTAN ISLAM KE ATAS KITA</title><content type='html'>Tajuk di atas sebenarnya adalah sangat besar dan luas untuk diperbincangkan, tetapi apa yang akan kita bentangkan di sini hanyalah sekadar gambaran sahaja yang mana mudah-mudahan ianya dapat kita manfaatkan bersama ke arah kebaikan dan seterusnya ke arah penghayatan Islam yang sebenarnya di dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tuntutan-tuntutan Islam ke atas kita ialah ;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ISLAM DALAM AQIDAH KITA – &lt;br /&gt;yakni Aqidah Salimah Sahihah yang bertepatan sebagaimana yang dianjurkan oleh Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Aqidah yang benar dan sah adalah menjadi syarat pertama kepada pengakuan seseorang yang telah menerima Islam sebagai agama yang mengatur hidupnya. Kita hendaklah beriman dan mempercayai perkara-perkara yang diimani dan dipercayai oleh para sahabat nabi SAW, generasai pertama Islam (as sabiquunal awwaluun) yang telah terbukti kebajikan, ketaqwaan dan kefahaman mereka yang tepat dan benar terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadikan aqidah kita aqidah yang benar-benar diiktiraf sebagai aqidah seorang muslim, perlulah kita meyakini bahawa pencipta alam sejagat ini ialah Allah Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui dan tidak memerlukan pertolongan orang lain. Kita perlu meyakini bahawa Allah tidak menciptakan alam ini termasuk semua makhluk yang ada di dalamnya tanpa sembarang tujuan tertentu ataupun untuk bermain-main. Kita juga perlulah meyakini bahawa Allah telah mengutuskan para Rasul dan menurunkan kitabNya adalah untuk tujuan mengajar manusia mengenal Allah dan memberitahu mereka tentang matlamat kewujudan mereka didunia ini dan ke manakah akhirnya kehidupan mereka kelak. Kita perlu meyakini bahawa matlamat kehidupan manusia didunia ini ialah untuk mengenal Allah SWT dengan sifat-sifat uluhiah dan rububiahNya, taat dan mengabdikan diri kepadanya selaras dengan apa yang di jelaskan dalam firman Allah yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dan Aku (Allah SWT) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga perlulah meyakini bahawa syurga adalah balasan dan ganjaran bagi mukmin yang taat manakala siksaan yang pedih dan azab api neraka adalah balasan bagi orang-orang yang kafir. Kita juga perlu yakin bahawa penciptaan dan penggubahan undang-undang adalah hak mutlak Allah SWT dan ini bererti kita sebagai manusia tidak boleh melewati dan melanggar undang-undang Allah SWT atau dalam artikata yang lain membuat dan menggubah undang-undang yang berdasarkan akal fikiran kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya kita hendaklah mengabdikan diri hanya kepada Allah dan tidak mensyirikkanNya dengan sesuatu yang lain. Hendaklah kita merasa takut kepada Allah semata-mata dan tidak takut kepada yang selain daripadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketakutan kita kepada Allah seharusnyalah menjadi pendorong untuk kita menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dimurkai dan diharamkan oleh Allah SWT. Kita juga mestilah sentiasa mengingati Allah SWT dalam apa juga suasana dan mestilah mencintai Allah SWT lebih daripada kecintaan terhadap perkara-perkara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah SWT; maksudnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiaannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad dijalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik" (9:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dan selepas kita melakukan sesuatu kita perlulah bertawakkal kepada Allah SWT dan kita bertawakkal ini hendaklah dalam semua urusan dan perkara. Disamping itu hendaklah kita banyak bersyukur terhadap nikmat kurniaan Allah SWT kepada kita dan hendaklah kita sentiasa memohon ampon kepada Allah SWT dan bertaubat kepadaNya kerana taubat itu merupakan kifarat bagi segala kesalahan disamping menjadi penenang hati bagi mereka-mereka yang insaf dan sedar. Dan akhir sekali untuk kita memperolehi aqidah yang benar perlulah kita sentiasa di dalam keadaan bermurakabah terhadap Allah SWT (merasai bahawa Allah melihat, mendengar dan mengetahui apa yang kita lakukan) baik dalam keadaan terang ataupun tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. ISLAM DI DALAM IBADAH KITA. – &lt;br /&gt;Ibadah dalam Islam adalah merupakan kemuncak kepatuhan dan ketundukan sesaorang hamba kepada Allah SWT dan kelaimik dari perasaan yang merasakan akan kebesaran Allah sebagai tempat untuk mengabdikan diri. Ibadah juga merupakan tangga penyambung diantara makhluk dan penciptanya. Selain daripada ibadah mempunyai kesan-kesan yang mendalam disudut hubungan antara makhluk dan penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Islam menuntut supaya seluruh kehidupan ini hendaklah berjalan di dalam rangka ibadat dan taat hanya kepada Allah SWT. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu" (51:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu untuk menjadikan ibadah kita keseluruhannya di dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah maka perlulah kita berhubung terus dengan Allah SWT dalam apa jua perkara yang hendak kita lakukan. Kita sentiasa menghubungkan hati kita dengan Allah SWT sehingga dapat kita merasakan apa yang disebut sebagai 'Ihsan' yakni kita melakukan ibadah kepada Allah seolah-olah kita melihatNya dan kalau kita tidak melihatNya maka kita yakin bahwa Allah melihat apa yang kita perbuat. Ibadah yang kita lakukan hendaklah benar-benar khusyuk sehingga dapat kita merasakan kepanasan hubungan kita dengan Allah SWT dan merasakan akan kepuasan dan kelezatan dari ibadah yang kita kerjakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kita melakukan ibadah hendaklah kita benar-benar menghadirkan diri dan hati kita dihadapan Allah SWT. Maknanya kita perlulah membebaskan diri kita dari sebarang urusan dan kepentingan dunia. Inilah yang disebut oleh nabi SAW dalam sepotong hadis yang bermaksud ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah tidak akan melihat Sholat lelaki yang tidak menghadirkan hatinya bersama badannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan ini telah disebutkan juga bahawa "Sholat itu merupakan sebahagian daripada urusan akhirat, apabila kamu masuk ke dalamnya berarti kamu telah keluar dari dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga bahwa Hasan Al-Basri pernah berkata,"Setiap Sholat yang dilakukan tanpa kehadiran hati maka Sholat itu adalah lebih cepat membawa kepada siksaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan ibadah kita hendaklah merasa tamak yakni tidak cukup dengan apa yang telah kita lakukan. Kita akan sentiasa berusaha untuk menghampirkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan ibadat-ibadat sunat seperti melakukan qiamul-lail (bangun sembahyang diwaktu malam) dan sebagainya. Sesungguhnya qiamul-lail adalah merupakan perkara yang paling kuat yang dapat memelihara iman kita. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Muzammil ayat 6 ; maksudnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan diwaktu itu adalah lebih berkesan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga haruslah menentukan masa-masa tertentu untuk membaca dan mengamati Al-Quran terutamanya diwaktu fajar kerana bacaan diwaktu itu adalah disaksikan oleh para malaikat. Seterusnya apabila kita membaca Al-Quran hendaklah dengan penuh tadabbur (penuh perhatian), kita berfikir untuk memahamkan isi kandungannya dan kalau boleh jiwa kita hendaklah merasa sensitif disamping merasa dukacita kerana Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Al-Quran itu di turunkan dengan dukacita, oleh itu apabila kamu membacanya hendaklah kamu merasa dukacita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu kita juga hendaklah tidak lupa berdoa kepada Allah SWT di dalam apa jua urusan dan perkara yang hendak kita kerjakan kerana doa adalah otak bagi segala ibadat. Dan dalam melakukan doa ini pula hendaklah kita memilih doa-doa yang maasur yakni doa-doa yang telah diwariskan kepada kita oleh Rasulullah SAW yang kita yakini akan dimakbulkan oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mintalah padaKu, niscaya akan Ku perkenankan (permintaan)mu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ISLAM DISUDUT AKHLAK DAN KEPERIBADIAN.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak yang mulia adalah merupakan matlamat asasi bagi risalah Islam. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW  dalam hadisnya yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak yang mulia juga merupakan natijah dan tanda dari iman yang sebenar. Tidak ada nilai bagi iman yang tidak disertai oleh akhlak yang mulia. Pernah Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat,"Apakah deen itu?". Lantas baginda menjawab dengan sabdanya,"(Deen itu) adalah akhlak yang baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak juga merupakan amal yang paling berat yang akan diletakkan dalam neraca hamba pada hari kiamat kelak. Maka sesiapa yang rosak akhlaknya dan buruk amalannya tidak akan dipercepatkan hisabnya. Dalam Islam akhlak adalah merupakan intipati bagi segala ibadat. Tanpa akhlak ibadat hanyalah merupakan adat resam dan gerak-laku yang tidak mempunyai apa-apa nilai dan faedah. Berhubung dengan Sholat umpamanya, Allah telah berfirman yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Sholat itu mencegah daripada perkara jahat dan mungkar". ( 29 : 45 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada ayat ini dapatlah kita fahami bahawa sesaorang yang mendirikan Sholat sudah tentulah tidak melakukan perkara-perkara fasad dan mungkar yang mana ini akan meletakkannya sebagai seorang yang memiliki keperibadian Islam yang sebenar dan berakhlak mulia. Tetapi sebaliknya kalau kita lihat pada realiti yang berlaku hari ini ada sebahagian umat Islam yang mendirikan Sholat tetapi tidak mendapat apa-apa nilai dan faedah disisi Allah sedikitpun kerana Sholat mereka bukan untuk melahirkan akhlak yang mulia serta meninggalkan perkara-perkara yang mungkar sebaliknya Sholat mereka itu hanyalah sekadar akan menutupi kederhakaan mereka terhadap Allah SWT daripada mata masyarakat. Jadi inilah waki' (satu kenyataan) yang berlaku dalam kebanyakan masyarakat Islam pada hari ini yang memerlukan kepada proses pembersihan dan pengislahan yang bukan sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan dan pengislahan ini tidak akan terlaksana kecuali dengan mereka kembali menghiaskan diri merekadengan sifat-sifat ataupun Syaksiah Islam yang sebenarnya bermula dengan menanggal dan menukarkan sifat akhlak yang tercela kepada sifat dan akhlak yang terpuji dan mulia. Dan di antara sifat atau akhlak yang dan mulia itu ialah bersifat wara', sentiasa menundukkan pandangan dari perkara-perkara yang haram, memelihara lidah dari berkata-kata tentang perkara-perkara yang tidak berfaedah dan membawa kepada dosa, bersifat malu sekiranya tidak melaksanakan perintah Allah bukan kepada manusia malah yang lebih utama untuk rasa malu kepada Allah SWT, lemah-lembut dan penyabar, bersifat benar, amanah dan jujur, tawaduk (merendah terutamanya kepada orang-orang yang beriman, menjauhi perbuatan buruk sangka, mengumpat dan  bersifat pemurah dan lain-lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ISLAM DI DALAM AHLI DAN KELUARGA. – &lt;br /&gt;Apabila kita mengakui menganut agama Islam, pengakuan ini mewajibkan kita mendukung satu risalah dalam hidup ini malah menjadikan seluruh hidup kita ini adalah untuk tunduk dan patuh kepada arahan risalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tadi Islam menuntut ke atas kita supaya muslim disudut aqidah, ibadah dan akhlak maka kali ini ianya menuntut pula agar kita bekerja bersungguh-sungguh untuk merubah masyarakat di mana kita berada supaya menjadi masyarakat Islam ataupun mukmin yang sebenarnya. Tidaklah memadai dengan kita menjadi muslim seorang diri sahaja tanpa mengambil berat tentang orang-orang yang ada disekeliling kita. Ini adalah kerana diantara kesan-kesan yang ditiupkan oleh Islam dan diresapkannya dalam hati sesaorang yang telah beriman ialah rasa mas'uliah (perasaan bertanggungjawab) terhadap orang yakni untuk menyeru dan menasihati mereka agar kembali kepangkuan Allah SWT dengan menghayati Islam yang syumul dan menyeluruh yang bersih daripada suasana campur-aduk. Ini bermakna kita dikehendaki  mengambil tahu akan realiti umat Islam yang ada disekeliling kita disamping mengajak mereka untuk bersama-sama menterjemahkan ajaran Islam ini di dalam realiti kehidupan. Rasulullah SAW telah bersabda yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang tidur dan tidak mengambil tahu ataupun mengambil berat tentang urusan orang-orang Islam, maka dia bukanlah golongan mereka (golongan orang-orang Islam)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari keadaan ini bermakna kita telah mempunyai satu tanggungjawab yang baru, iaitu tanggungjawab untuk menegakkan sebuah Masyarakat Islam dan tanggungjawab untuk menyampaikan Islam kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi langkah pertama kita ke arah itu ialah dengan kita membentuk rumahtangga kita terlebih dahulu agar menjadi sebuah Rumahtangga Muslim. Kita bertanggungjawab untuk menegakkan Islam ini terlebih dahulu di dalam masyarakat rumahtangga yakni keluarga kita yang kecil itu. Kita sampaikan Islam kepada mereka, ibu-bapa kita adik-beradik, saudara-saudara kita dan anak-isteri kita (bagi yang sudah berkahwin) yang mana inilah cara yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW diperingkat permulaan dakwah. Tugas dan tanggungjawab kita sebagai muslim tidaklah terhad hanya cukup sekadar kita menjadi muslim tetapi ianya adalah lebih daripada itu. Maknanya di sini sesudah kita menunaikan tanggungjawab terhadap diri kita maka kita bertanggungjawab pula menyebarkan Islam ini di dalam keluarga, rumah dan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 66 yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah  dirimu dan keluargamu dari api neraka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu usaha-usaha kita agar dapat memenuhi tuntutan Islam di dalam rumahtangga dan keluarga maka Islam telah menunjukkan kepada kita wasilah ataupun jalan-jalan yang insya Allah akan menyampaikan kita kepada tuntutan tersebut. Diantaranya ialah apabila kita hendak mendirikan rumahtangga maka hendaklah terlebih dahulu ianya di niatkan kerana Allah SWT. Kita berkahwin bukan untuk berseronok-seronok tetapi dengan tujuan untuk membina sebuah rumahtangga Muslim yang bakal melahirkan keturunan yang soleh yang sanggup memikul amanah dan meneruskan risalah Islam yang telah ditinggalkan kepada kita oleh Ar-Rasul Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu kita berkahwin adalah dengan tujuan supaya dapat menjaga pandangan dan kehormatan kita agar dengan itu membolehkan kita untuk lebih bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah SWT berhak menolong tiga golongan ; orang  yang  berjihad  pada jalan Allah SWT, hamba  mukatab  yang  ingin  membayar harga tebusannya dan orang-orang yang berkahwin dengan tujuan untuk dapat memelihara kehormatan dirinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesiapa yang berkahwin berarti beliau telah menyempurnakan sebahagian dari agamanya dan hendaklah beliau bertaqwa kepada Allah SWT pada sebahagian yang lain yang masih belum disempurnakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri ataupun bakal suami yang akan dijadikan rekan perkongsian hidup kita mestilah yang mempunyai akhlak dan berpegang teguh dengan agama. Maknanya disini bakal isteri ataupun suami yang hendak dikahwini mestilah yang mempunyai deen, sekalipun tidak mempunyai harta dan kecantikan jika dibandingkan dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya;"Janganlah kamu mengahwini perempuan kerana kecantikannya. Boleh jadi kecantikan mereka akan menjadikan mereka hina. Janganlah kamu mengahwini perempuan kerana harta mereka, kerana boleh jadi harta mereka akan menjadikan mereka bersikap zalim, tetapi kahwinilah mereka kerana agamanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Apabila kita telah mendirikan rumahtangga perkara utama yang perlu dijaga oleh kedua suami-isteri ialah menjauhkan diri daripada perkara-perkara yang bercanggah dengan syara' serta berusaha menjauhi kemurkaan dan azab Allah SWT. Ini adalah kerana setelah berumahtangga kita mempunyai satu tanggungjawab lain yakni tanggungjawab untuk mendidik anak-anak sekirannya dikurnia oleh Allah SWT cahaya mata yang mana tanggungjawab ini tentulah tidak akan dapat kita laksanakan dengan baik melainkan dengan jalan kita menjauhkan diri dari perkara-perkara yang ditegah dan melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT.Apabila perkara ini dapat kita pelihara dengan baik dan berjalan dalam suasana rumahtangga kita maka insyaAllah akan lahirlah di dalam rumahtangga kita itu hubungan kasih sayang yang kerdasarkan aqidah serta persefahaman di dalam pemikiran,jiwa dan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya kejayaan di dalam perkahwinan kita adalah bergantung kepada sejauhmana kita mampu memelihara perkara-perkara yang syara',menghayati ajaran Islam dalam ertikata yang menyeluruh serta menunaikan tanggungjawab di dalam rumahtangga yang mana termasuklah di dalamnya tanggungjawab mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam yang sebenarnya. Anak-anak itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW , dilahirkan dalam keadaan fitrah(suci bersih). Jadi kitalah, kedua ibubapanya yang akan mencorakkan anak tersebut samada dengan corak yang baik ataupun sebaliknyaApabila anak-anak mendapat tarbiah(didikan) yang baik maka insyaAllah dia akan menjadi anak yang soleh,  tetapi seandainya dia tidak diberikan tarbiah yang betul maka akan berlakulah sebagaimana yang boleh kita lihat pada hari ini dimana anak-anak tidak menghormati kedua ibubapanya malah ada yang apabila dewasa tidak langsung menghiraukan kedua ibu-bapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh kerana itu Islam amat memandang berat terhadap aspek pendidikan anak-anak dan amat berharap agar kedua ibu-bapa dapat menyediakan segala bentuk, sebab-sebab, jalan-jalan dan juga suasana yang boleh membawa kepada keberkesanan tarbiah yang baik terhadap anak-anak mereka. Perlulah dirasai bahawa kewajipan untuk mendidik anak-anak ini sebenarnya adalah merupakan satu kewajipan yang amat besar nilainya disisi Allah SWT jika ianya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggungjawab. Sabda Rasulullah  SAW yang maksudnya;"Mendidik anak-anak adalah lebih baik bagi sesaorang itu daripada bersedekah secupak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila seorang anak Adam itu meninggal maka terputus semua amalan-nya kecuali tiga perkara; Sadakah Jariah, Ilmu Yang Memberi Manfaat dan Anak Yang Soleh Yang Berdoa Untuk-Nya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SENTIASA BERJIHAD MELAWAN HAWANAFSU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Muslim perlulah berusaha untuk membebaskan dirinya dari bertuhankan hawanafsu kerana Allah telah mengingatkan kita di-dalam firman-Nya yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan".(Yusuf : 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu turuti hawanafsu kerana nanti ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Shad : 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah kepada kita bahawa menuruti atau bertuhankan hawanafsu adalah penyebab kepada segala kejahatan yang akan menyesatkan manusia dari jalan yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh yang demikian kita sebagai Muslim Mukmin hendaklah mengutamakan jihad terhadap hawanafsu terlebih dahulu sebelum daripada berjihad terhadap perkara-perkara yang lain. Sabda Rasulullah SAW; maksudnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seutama-utama jihad ialah jihad orang yang berjihad terhadap hawanafsu-nya dalam mentaati Allah Azzawajalla".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad terhadap hawanafsu merupakan jalan yang paling baik untuk menghindarkan sesaorang daripada melakukan kejahatan dan juga perkara-perkara yang ditegah oleh Allah SWT. Namun demikian sebagai manusia kita juga tidak sunyi daripada melakukan dosa dan kesalahan. Dan hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW di dalam sepotong hadis yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tiap-tiap anak Adam itu (manusia),akan melakukan kesalahan  dan  sebaik-baik orang yang bersalah ialah mereka yang segera bertaubat kepada Allah SWT".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi orang-orang mukmin apabila dia melakukan kesalahan maka dia akan segera bertaubat dan memohon ampon kepada Allah SWT. Mereka ingat kepada Allah SWT dan menyedari akan hakikat bahawa hanya Allahlah sahaja yang dapat mengamponkan dosa dan kesalahan mereka. Sikap mukmin yang demikian telahpun digambarkan di dalam Al-Quran; Surah Ali-Imran :135,  maksudnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah SWT lalu memohon ampon terhadap dosa-dosa mereka Dan siapakah lagi yang dapat mengamponkan dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. MEYAKINI AKAN KEBENARAN SISTEM ISLAM SELURUHNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim perlulah mengetahui bahawa hanya Islamlah sahaja satu-satunya sistem yang sesuai dengan fitrah kejadian manusia ciptaan Allah SWT ini. Allah yang menjadikan manusia(kita semua) maka Dialah yang lebih mengetahui tentang sistem 0hidup yang sesuai bagi kehidupan manusia. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mulk ayat 14 yang bermaksud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui?, dan  Dia  Maha  Halus lagi Maha Mengetahui".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. WAJIB MENGHALAKAN SELURUH HIDUP UNTUK ISLAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hendaklah bekerja kearah membina kehidupan Islam yang mana semua itu adalah dalam rangka untuk kita mencapai matlamat hidup yang sebenar sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang bermaksud; "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepadaKu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. BERUSAHA MEMBENTUK JAMAAH DAN MEMBINA DAULAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menjalankan syariat Allah dan menegakkan hukum-hukum Allah SWT. Sebarang kecuaian kita di dalam usaha-usaha ini ataupun kita meninggalkan usaha-usaha ini adalah dikira berdosa dan dimasukkan oleh Allah dalam golongan orang-orang yang kafir, zalim dan fasiq. FirmanNya di dalam Al-Quran Surah Al-Maidah ayat 44,45 dan 47 yang maksudnya secara ringkas berbunyi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang  tidak  berhukum  dengan apa yang diturunkan  oleh  Allah SWT, maka mereka itulah  orang-orang yang kafir,zalim dan fasiq   Wallahu A'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-779266078762113367?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/779266078762113367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=779266078762113367&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/779266078762113367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/779266078762113367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/apakah-tuntutan-islam-ke-atas-kita.html' title='APAKAH TUNTUTAN ISLAM KE ATAS KITA'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8183957762426069129</id><published>2009-09-25T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:18:57.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><title type='text'>PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN</title><content type='html'>PENGANTAR&lt;br /&gt;Kami adalah sekelompok Pendeta yang telah bertobat kepada Tuhan Allah dengan sesungguhnya. Dahulu kami adalah umat agama dari 4 kelompok besar agama di luar Katolik &amp; Kristen. Dulu kami masuk Kristen karena tertarik dengan nilai-nilai ajaran kasih dalam Kristus &amp; janji keselamatan-Nya yang akan mengahantar kita semua masuk kerajaan surga dengan penuh kepastian. Walau akibat iman Kristus ini kami harus menerima fakta dikucilkan keluarga kami, kami terima&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; semuanya dengan lapang dada waktu itu, apalagi penghiburan para Gembala Gereja selalu menyatakan orang tua kami, keluarga klami, teman-teman kami &amp; orang -orang diluar Kristen adalah orang berdosa yang sesat dalam iman. Mereka adalah para penyembah setan &amp; kitab sucinya diturunkan oleh Raja Iblis!. Kami sangat mensyukuri wejangan para Gembala Tuhan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah dibaptis, kami sangat diperhatikan, kami disekolahkan di Sekolah Misi Alkitab di kawasan Blok M - Jakarta, selama 6 bulan saja &amp; kami lulus dengan menyandang gelar Sarjana Theologi. Karena kami orang bertobat, sekolah Misi Alkitab cukup ditempun 6 bulan saja, tidak perlu bertahun-tahun seperti yang lainnya. Kami juga diberi uang saku bulanan yang lebih dari cukup, jauh berbeda ketika kami masih dalam agama kami dulu, hidup serba kekurangan &amp; miskin. Bahkan pada saat awal kemurtadan kami ini, kami diundang untuk berceramah keliling Indonesia. Walaupun kami bukan mantan Ulama, Bikhu atau Pandhita, kami mengaku kepada umat bahwa kami adalah mantan pemuka agama, di Sekolah Misi Alkitab kami diajarkan untuk berperilaku &amp; menghapal beberapa bacaan doa agama kami dahulu untuk memberi kesan bahwa kami benar-benar bekas pemuka agama. Bahkan Gereja membantu membuatkan kami ijasah-ijasah palsu, surat-surat keterangan &amp; dokumen yang diperlukan untuk membuat bahwa kisah kesaksian kami adalah benar adanya.walaupun kami bukanlah bekas pemuka agama. Bahkan teman kami yang Islam sampai dibuatkan foto repro yang sangat hebat, dia memakai sorban &amp; berjubah panjang, lalu di fotonya dibuat seolah pernah berfoto bersama beberapa tokoh Islam terkemuka seperti Mubaligh Kondang KH Zainuddin MZ &amp; KH. Abdurrahman Wahid segala!. Kami juga disuruh menandatangani sebuah surat kesaksian yang panjang yang dipersiapkan oleh para staf Gembala Tuhan Bapak Ev. Soeradi Ben Abraham, dimana disana kami membuat kisah kesaksian yang akan dibukukan &amp; disebarluaskan dikalangan domba-domba Gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kondisi di atas kami terima saja, mau bagaimana lagi?, kami sudah tak punya siapa-siapa lagi!, tak punya harta &amp; penghasilan, menjual iman ini adalah pilihan hidup yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak?, kami keliling Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga Singapura segala, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel berbintang, memakai jas mewah, dielu-elukan orang banyak seperti artis, masuk koran &amp; majalah rohani, &amp; menerima pendapatan bulanan yang sangat besar!, siapa yang tak ingin, tokh kami pikir waktu itu, murtad ini jauh lebih baik dibanding kami jadi pencuri, pembunuh atau germo lokalisasi!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa ratus kali kami berdusta, disetiap KKR yang kami ikuti secara terpisah, dimana ada skrenario yang disiapkan Gereja, kalau berlabel penyembuhan Ilahi, para Pendeta berdoa memanggil Roh-Roh Jahat &amp; menyuruh beberapa dari para pelayan Gereja untuk berpura-pura menjadi jemaat yang sakit!, &amp; saat acara penyembuhan Ilahi dia harus berpura-pura sakit parah &amp; mendadak sembuh ketika diurapi oleh kami!!!. Ya Tuhan ampunilah dosa masa lalu kami, ini kan tak lebih dari gaya tipu-tipu tukang obat pinggir jalan?!. Bahkan Jemaat terlihat sangat histeris, sampai ada yang berteriak histeris &amp; berjingkrak-jingkrak segala!!!, mirip sekali acara nonton konser musik rock brutal yang ditonton para ABG, atau mirip suasana orang-orang yang tripping di Diskotek &amp; Pub!!. Bahkan sehabis acara KKR ada seorang jemaat wanita muda yang menghampiri rekan kami Ev. Andi Widjaja (yang paling ganteng diantara kami), menyatakan diri siap melayani dia, karena yakin bahwa persembahan tubuhnya yang molek itu adalah untuk melayani jiwa para roh kudus yang menyertai kami!!!. Bung Andi lalu bilang, "kalau begitu ayo ikut ke kamar saya", wanita itupun mengikuti beliau &amp; melayaninya sehari penuh hingga 5 ronde!!!. Kami tahu persis cerita ini karena kamipun memperoleh giliran menggarap wanita-wanita jemaat serupa ini diberbagai kesempatan KKR keliling Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir selama 6 (enam) tahun melayani domba-domba Gereja dalam rangkaian KKR yang melelahkan, menimbulkan kejenuhan di hati kami. Kadang kami berempat kongkow-kongkow di Mc. Donnalds Sarinah Thamrin &amp; saling bertukar cerita..lalu jalan bersama keliling kota. Kami tak mungkin ke Kafe atau tempat hiburan malam, Diskotik sambil tripping &amp; nyabu segala!, karena menurut kami hal ini tak baik untuk pekerjaan kami sebagai Pelayan Gembala Tuhan, walaupun rekan-rekan gembala lainnya sering melakukan hal itu, kami bahkan sering dibilang kolot &amp; kampungan oleh teman-teman Pendeta lainnya, akibta tidak ikut tripping &amp; nyabu bersama rekan gembala lainnya. Bahkan beberapa rekan Gembala yang sekarang terkenal seperti Gilbert Lumoindang konon, menggunakan Shabu-Shabu &amp; menenggak 1 butir pil Ectassy sebelum memimpin kebaktian di GL Ministry!. Menurut beliau Shabu-Shabu &amp; pil Ectassy adalah sarana jiwa untuk dapat bertemu dengan Roh Kudus &amp; agar Roh Kudus itu selalu mengilhami kita (katanya)!!!! . Itulah sebabnya kenapa para Pendeta &amp; Pengkhotbah Kristen selalu energik &amp; tampil penuh percaya diri disetiap Kebaktian ataupun KKR, karena mereka menggunakan dopping berupa pil Ectassy atau Nyabu terlebih dahulu, bahkan terkadang keduanya sekaligus!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB KESADARAN &amp; PERTOBATAN KAMI&lt;br /&gt;Bermula dari cerita rekan kami Bung Nico (Nicolas), perihal tetangga barunya yang mengadakan kursus TPA bagi umat Islam, Bung Nico awalnya gusar sekali, karena anak-anak kecil Islam itu selalu membaca surat Al-Kafiruun, yang dia tahu persis artinya, dia piker nih tetangga gue nyindir gue kali..awas aku murtadkan semiuanya!! &amp; Bung Nico bersumpah untuk mewartakan kabar gembira Cinta Kasih Yesus itu kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Nico suatu waktu memberanikan diri bertemu para pengajar TPA itu, lalu berkata: mari kita buktikan siapa hamba Tuhan sebenarnya, para pengajar itu Cuma tersenyum: "maaf kami tak melayani ajakan anda", Bung Nico bilang: "Kalian pengecut!!!" Mereka jawab: "Siapa bilang, kalau Bung Nico memaksa silahkan mulai dengan anak-anak itu saja" Bung Nico Menjawab: "Tapi saya nggak nanggung akibatnya ya..?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Bung Nico mengumpulkan anak-anak kecil itu, dia bercerita tentang kisah pengorbanan Tuhan esus..anak-anak itu mendengarkan dengan seksama..tapi kemudian apa yang terjadi..? Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak semua &amp; seorang anak kecil berusia 10 tahun lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit &amp; balik menjelaskan apa itu Alkitab &amp; sejarahnya serta siapa Yesus sesungguhnya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Nico terpana!, lalu pulang dengan perasaan malu..semenjak itu penjelasan anak kecil itu selalu membayang dipikirannya..lalu dia coba baca Alkitab secara urut, suatu hal yang sangat dilarang oleh Gereja karena bisa menyesatkan iman!. Diketemukanlah ayat-ayat yang sangat membingungkan..Bung Nico juga lalu ingat ayah-ibunya &amp; teman-teman lamanya, kalau dipikir-pikir sangat beda sekali dengan rekan-rekan gembalanya di Gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat lalu berdiskusi dari hati ke hati, eh ternyata semua juga mempunyai pikiran &amp; perasaan yang sama, sepertinya kita semua hidup dalam keimanan yang semu, kami adalah gembala-gembala umat, tetapi yang kami jalankan hanyalah dusta &amp; kepalsuan yang ditawarkan kepada orang-orang yang haus akan kesegaran rohani..!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, kalau memimpin KKR &amp; Kebaktian, kami rasanya ingin muntah &amp; berteriak kalau ada yang membacakan kisah kesaksian palsunya, bagaimana tidak palsu?, Kalau ada seorang bekas pencopet beragama Islam yang seumur hidupnya tak tahu ajaran Islam &amp; tak pernah bersekolah agama, dengan lantang menyatakan dirinya mantan calon Ustad?, padahal kisah karangan itu kamilah yang menyusunnya.?!. Kisah-kisah kesaksian palsu karangan kami bahkan sudah banyak yang dibukukan, beberapa kami lihat sepertinya pernah dikutip lalu diposting disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu secara sembunyi-sembunyi kami berkunjung ke rumah ustad M. Hanafi tetangganya Bung Nico (Ev. Nicolas Albert Gerungan), kami utarakan kegundahan hati kami.. sungguh ajaib &amp; mengejutkan pertanyaan Ustad Muda ini, dia tidak langsung menyodorkan 2 kalimat Syahadat untuk kami baca, tetapi menyuruh kami untuk mulai merenungkan &amp; mohon petunjuk Tuhan..! Dia juga Tanya apa agama asal kami &amp; menyarankan untuk menjalin tali persaudaraan kami dengan bekas keluarga kami yang sekarang mengucilkan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Bung Nico yang pertama memutuskan kembali masuk Islam, sementara itu rekan Ev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha), memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya &amp; kemudian dikirim ke sebuah Vihara di kawasan Pondok Cabe, rekan Ev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu) mendatangi sebuah tempat sembahyangan agama Hindu di rumah seorang pelukis Bali dikawasan Bintaro &amp; rekan Ev. Andi Widjaja (Kristen (Gembala Gereja Nehemia) bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu), mendatangi Kelenteng di Kawasan Glodok yang baru dibuka kembali. Hampir selama 2 bulan kami jarang bertemu lagi, kami juga secara mendadak memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Gereja kami. Bayangkan, betapa geramnya para pengurus Gereja, mereka mencari kami ke-mana-mana!. Teror lewat HP-pun gencar dilakukan, mereka pertama-tama hanya marah masalah jadwal-jadwak Kebaktian &amp; KKR yang jadi berantakan, tetapi ketika! kami secara terpisah menyatakan kami tak mau kembali lagi ke Gereja &amp; akan kembali bertobat ke agama asal kami, terorpun dimulai, mulai dari telepon gelap hingga upaya intimidasi secara fisik melalui teror-teror. Kenyataan ini membuka mata-hati kami, betapa jahatnya mereka ini, jauh lebih kejam dibanding keluarga, orang tua &amp; teman-teman kami yang hanya membenci &amp; tak mau kenal lagi dengan kami ketika kami dibaptis, tetapi kaum Kristen bekas Gembala &amp; Domba kami sangat murka sekali &amp; berencana menghabisi kami segala!!!. Akhirnya kami memutuskan untuk bertobat secara terpisah &amp; kembali ke agama masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bekas Pendeta, kami tidak serta merta bisa menjadi pemuka agama. Bung Nico sekarang ini digembleng di sebuah pondok pesantren di kota Sukabum, rekan Gede sekarang sedang digembleng oleh seorang Pandhita di kawasan Ubud - Bali, rekan Rahardi sekarang sedang bertapa &amp; belajar agama di sebuah rumah ibadah Budha d Pondok Cabe - Ciputat, sedangkan rekan Andi sekolah agama Kong Hu Chu di luar negeri, yaitu di Taiwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PANCASILA&lt;br /&gt;Seminggu yang lalu, di awal bulan Maret 2001 ini, via internet kami berdiskusi tentang Krismon &amp; krisis negara Indonesia, lalu nyerempet-nyerempet masalah iman kami &amp; masalah Pancasila &amp; Bhinneka Tunggal Ika. Kami lalu baca Pancasila &amp; terkejut ketika membaca Sila Pertama Dasar Negara Indonesia berbunyi: KETUHANAN YANG MAHA ESA... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti bahwa sesungguhnya konsep Ketuhanan yang diakui oleh bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tiada beranak &amp; tiada diperanakkan, tiada beroknum ataupun bersekutu dengan unsur apapun. Artinya tiada Tuhan selain Allah. Jadi agama yang punya konsep Ketuhanan yang semu seperti Kristen dengan konsep Allah Tritunggal Yang Kudus dalam dogma Trinitas, jelas-jelas bertentangan dengan konsep dasar negara Indonesia...!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa agama Kristen dibiarkan keberadaannya?, mungkin inilah perwujudan dari rasa &amp; jiwa besar para pemimpin bangsa Indonesia. Dilema ini sama seperti pengakuan kita akan eksistensi para penganut aliran kepercayaan, animisme &amp; komunis. Keberadaan agama Kristen sama &amp; sejajar dengan agama animisme, aliran kepercayaan &amp; komunis yang kita perkenankan keberadaannya di bumi Indonesia!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan agama Kristen kedudukannya jauh lebih rendah &amp; lebih hina dibanding agama Budha, Hindu &amp; Kong Hu Chu sekalipun, karena dalam ketiga agama ini, walaupun mereka memiliki konsepsi sbb: Manusia utama Sidartha Gautama dalam ajaran Budha, tetapi di atas Sidartha Gautama ada Tuhan Maha Kuasa yang kedudukannya jauh lebih tinggi dibanding Sang Budha itu sendiri. Dalam agama Hindu, walau banyak dewa, tetapi ada Sang Hyang Widhi penguasa tunggal tertinggi di atas para dewa itu. Dalam Kong Hu Chu juga sama seperti ajaran Hindu, ada Sang Pencipta Tunggal yang berkuasa atas semua dewa-dewi dalam mitologi China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat penjelasan di atas saja sudah jelas bahwa agama Kristen itu jauh lebih rendah &amp; hina dibanding agama Budha, Hindu &amp; Kong Hu Chu. Kedudukannya hanya sejajar dengan paham agama animisme &amp; komunis!!!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemujaan Nabi Isa sebagai Tuhan membuktikan adanya Paganisme Baru ini, sebagai agama sempalan Yahudi (ini terjadi karena Paulus dari Tarsus beserta Petrus ternyata kecewa berat akibat ambisinya menjadi Rabbi Yahudi di tolak Sinagoge Betlehem). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dasar negara, jika saja kita semua tegas &amp; tak punya rasa belas kasihan kepada para penyembah Nabi Isa ini, sudah dari dulu sejak kemerdekaan Indonesia, agama Kristen dinyatakan sebagai agama terlarang, karena berbau kolonialisme serta bertentangan dengan Pancasila!. Bahkan jika sekarang saja ada yang menggugat keberadaan agama Kristen &amp; menuduh para pengikutnya dengan pasal subversi ini bisa dibenarkan secara hukum!!!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENYATAAN SEJARAH BANGSA&lt;br /&gt;Apalagi bila dikaitkan dengan fakta sejarah bahwa agama ini dibawa oleh para penjajah Belanda, para pengikut pertamanya adalah pribumi pengkhianat bangsa, yang bekerja sebagai opas &amp; tentara bayaran Belanda, mata-mata Belanda &amp; penjual informasi perjuangan para pahlawan demi gepokan Gulden Belanda!. Memang ada beberapa pahlawan nasional yang beragama Kristen, tapi mohon diingat, para pahlawan itu tidak pernah ikut kebaktian di Gereja-Gereja mereka yang dipimpin Pendeta Belanda!. Para pahlawan itu hidup bersama orang-orang pribumi yang beragama Islam, Hindu &amp; Budha. Ketika Indonesia merdeka &amp; sang Meener meninggalkan mereka, para pengkhianat bangsa ini serta merta bergabung dengan para orang tua kita menyatakan mengutuk penjajahan Belanda, tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi semua pihak berjiwa besar. Kita memaafkan kesalahan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi namanya juga orang tak tahu diri, ketika agresi Belanda datang kembali, mereka lalu ikut tuannya. mendirikan RMS di Maluku segala. Bahkan beberapa diantaranya ikut pulang ke Belanda, tapi biarlah!! Setelah perundingan damai dengan Belanda di tahun 1950-an, Indonesia akhirnya merdeka, para pengkhianat yang beragama sesat bernama Kristen ini diakui keberadaannya, walaupun sebenarnya bertentangan dengan Pancasila! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIMBAUAN UNTUK PARA GEMBALA LAINNYA YANG BELUM BERTOBAT&lt;br /&gt;Nah umat Kristiani..hendaklah renungkan fakta ini, malulah pada diri sendiri &amp; hargailah umat beragama lain, kami umat Islam, Budha, Hindu &amp; Kong Hu Chu sudah lebih dari sabar menghadapi tingkah kalian!. mohon sadarlah &amp; beribadahlah dengan cara masing-masing, jangan lagi mengirim penginjil-penginjil sesat kalian ke Mesjid-Mesjid kami, ke Vihara-Vihara kami, ke Kuil-Kuil kami, ke Kelenteng-Kelenteng kami, atau berusaha memurtadkan umat-umat kami yang kebetulan ilmu agamanya kurang, jangalah kalian ulangi lagi perbuatan sesat &amp; tidak terpuji ini. Janganlah beli iman umat kami yang miskin &amp; bodoh dengan beras &amp; janji-janji muluk pekerjaan indah. Mereka miskin jangan lagi diberi impian palsu!. Mereka bodoh tapi janganlah manfaatkan kebodohan mereka dengan cara kalian menukar agama mereka dengan agama sesat kalian. Kemarin kami baru menemukan sebuah kisah nyata, bahwa di sebuah desa di pelosok Sukabumi, suatu desa terpencil di kaki gunung, yang menyatakan ketidaktahuannya &amp; terkejut ketika ada yang bilang bahwa kertas selembar yang ia tunjukkan pada orang lain itu adalah surat Baptis &amp; ia telah menjadi Kristen!. Ia tak tahu hal ini!!!!. Yang ia tahu kemarin ia menjual berasnya kepada mereka dengan harga yang sangat mahal, lalu diberi uang &amp; disuruh membaca kontrak perjanjian &amp; dimandikan!!!..ia tak tahu kalau ia telah dimurtadkan..!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Mari kita hargai hak beribadah agama masing-masing, hargai hak kami beribadah jangan intimidasi umat kami dengan agama sesat kalian, yang hanya jad bahan tertawaan anak SD saja!!!, bukankah kami juga sudah melindungi kalian dari jerat hukum subversi karena agama kalian itu bertentangan dengan dasar negara kita tercinta PANCASILA..YAITU SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA?. Untuk saudara-saudara sesama gembala atau domba Kristus, pintu pertobatan belum tertutup, marilah kita kembali KE JALAN TUHAN YANG BENAR...JALAN KAUM ISLAM DAN PARA SABI'IN...jika anda bekas umat Islam, Budha, Hindu &amp; Kong Hu Chu, kembalilah ke agama masing-masing.!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-8183957762426069129?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/8183957762426069129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=8183957762426069129&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8183957762426069129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8183957762426069129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/pernyataan-sikap-forum-pertobatan.html' title='PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8898971414466519552</id><published>2009-09-25T01:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:17:45.210-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>Remaja Muslim, Valentine's Day dan Perlawanan Budaya</title><content type='html'>Setiap tanggal 14 Pebruari ada hiruk pikuk remaja dunia. Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang dikenal dengan Valentine’s Day (Hari Valentine). Hiruk pikuk itu kini membudaya. Tak peduli itu di kalangan Kristen Barat, Hindu India ataupun muslim Indonesia. Lantas... &lt;br /&gt;Ada pertanyaan yang patut kita kemukakan. Apa sebenarnya Valentine’s Day itu? Apakah esensinya? Dan bolehkan remaja muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus ikut menyemarakkannya? &lt;br /&gt;Background Historis Valentine’s Day&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin’s Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine seorang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Pebruari 269 M., di hari yang sama saat dia menyerahkan ucapan cinta. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal pada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi “From Your Valentine” ada pula yang menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah “Love From Your Valentine.” &lt;br /&gt;Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki kawin. &lt;br /&gt;Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. &lt;br /&gt;Walaupun demikian dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil “Love from your Valentine." Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menseting 14 Pebruari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Pebruari menjadi tanggal saling tukar menukar pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga dan gula-gula. Bahkan sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa. &lt;br /&gt;Dari paparan di atas kita tahu bahwa &lt;br /&gt;kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam&lt;br /&gt;. Namun kenapa remaja-remaja muslim ikut larut dan merayakannya? &lt;br /&gt;Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, remaja muslim kita tidak tahu latar belakang sejarah Valentine’s Day sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah. &lt;br /&gt;Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja yang kini hidup di – untuk meminjam McLuhan - global village. &lt;br /&gt;Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja kita sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka “lawan” dengan keras. &lt;br /&gt;Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global. &lt;br /&gt;Kelima, hanya mengikuti trend yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman. &lt;br /&gt;Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas. &lt;br /&gt;Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas. &lt;br /&gt;Islam, Valentine’s Day dan Cinta&lt;br /&gt;Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum muslim—dan secara khusus kalangan remajanya—ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal dan religius dengan mereka. Keikut sertaan remaja muslim dalam “huru-hura” ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. &lt;br /&gt;Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya : Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih pada sesama? &lt;br /&gt;Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran: "Katakanlah : Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kami khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Q. S. At-Taubah : 24) &lt;br /&gt;Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta tingkat pertama adalah cinta kepada Allah., Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta hakiki, kemudian cinta tingkat kedua adalah cinta kepada orang tua, isteri, kerabat, dan seterusnya. Sedangkan cinta tingkat ketiga adalah cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak isteri melebih cinta pada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah. &lt;br /&gt;Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahrikan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti dan setelah itu mati—untuk meminjam kata Khairil Anwar. &lt;br /&gt;Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR. Muslim), perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya : tidak bisa tidur dan demam (Bukhari Muslim). Seorang mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat : 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr : 9). &lt;br /&gt;Di mata Islam mencinta dan dicinta itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengibiri fitrah manusia seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu, serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam. &lt;br /&gt;Valentine Day yang merupakan ungkapan kasih selain “hamil” nilai-nilai relijus yang bukan bagian dari agama kita juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif. Dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Peniruan pada perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam. &lt;br /&gt;Islam dan Perlawanan Budaya&lt;br /&gt;Sebagai agama pamungkas Islam dengan tegas memposisikan diri sebagai agama yang diridhai Allah dan siapa saja yang ingin mencari agama selain Islam maka agamanya tidak akan diterima (Lihat : Ali Imran ayat 19 dan 185). Dan sebagai agama terakhir Islam telah melakukan beberapa pembenaran dari berbagai penyelewengan yang terjadi dalam agama Kristen dan agama Yahudi. Islam mengharuskan pemeluknya untuk membentengi diri dari semua budaya yang datang dari kalangan Yahudi dan Kristen. Kaum muslimin harus memiliki budaya dan identitasnya sendiri yang bersumber pada norma dan ajaran agamanya. &lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi tugas semua remaja Islam untuk menghindari dan tidak ikut serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari ajarannya. &lt;br /&gt;Valentine’s Day bukanlah simbol dan identitas remaja muslim karena ia merupakan hari raya kalangan remaja Kristen. Dan kita persilahkan saudara-saudara kita dari remaja kalangan Kristen untuk merayakannya sesuai dengan keyakinan mereka&lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;Ada satu hadits yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda : Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka (Abu Daud). Hadits ini mengisyaratkan bahwa meniru-niru budaya-reliji orang lain yang tidak sesuai dengan tradisi Islam memiliki resiko yang demikian tinggi sehingga orang tersebut akan dianggap sebagai bagian dari orang yang ditiru. Sebagaimana juga firman Allah, Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonga mereka. (Al-Maidah : 51). Sabda Rasulullah, "Kau akan bersama-sama dengan orang yang siapa yang kau cintai." (Bukhari Muslim) &lt;br /&gt;Banyak contoh yang bisa kita kemukakan dari kontra-kultural yang dilakukan Rasulullah untuk mengokohkan identitas umatnya. Saat Rasulullah datang ke Madinah dia melihat penduduk Madinah bersuka ria dalam dua hari. Kemudian Rasulullah bertanya : Hari apa dua hari itu? Pada sahabat menjawab : Dua hari tadi adalah hari dimana kami bermain-main dan bersuka cita di masa jahiliyah! Maka bersabdalah Rasulullah : Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian : Iedul Adha dan Iedul Fithri (HR. Abu Daud).&lt;br /&gt;Rasulullah misalnya melarang umatnya makan dengan tangan kiri karena cara itu adalah cara makan syetan. (HR. Muslim) Larangan Rasulullah untuk kembali memperingati 2 hari dimana orang-orang Madinah biasa bermain di zaman jahiliyah merupakan perlawanan budaya terhadap budaya jahilyah dan digantikan dengan budaya-reliji baru. Sedangkan pelarangannya agar tidak makan dengan tangan kiri juga merupakan perang etika Islam dengan etika syetan. &lt;br /&gt;Allah tidak menghendaki kaum muslimin menjadi “buntut” budaya lain yang berbenturan nilai-nilainya dengan Islam. Peringatan Allah pada ayat di atas membersitkan pencerahan pada kita semua bahwa Islam dengan ajarannya yang universal harus dijajakan dengan rajin pada dunia mengenal Islam dengan cara yang benar dan agar Islam menjadi “imam” peradaban dunia kembali. Sebab kehancuran peradaban Islam telah menimbulkan kerugian demikian besar pada tatanan normal manusia yang terkikis secara moral dan ambruk secara etika. Kemunduran peradaban Islam telah menjebak dunia pada arus kegelapan akhlak dan moralitas. Kehancuran peradaban Islam ini oleh Hasan Ali An-Nadawi dianggap sebagai malapetaka terbesar dalam perjalanan peradaban manusia. Dia berkata, “Kalaulah dunia ini mengetahui akan hakikat malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan kehilangannya dengan kejadian ini, pastilah dunia hingga saat ini akan menjadikan kemunduran kaum muslimin sebagai hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan. Setiap bangsa di dunia ini akan mengirimkan tanda berduka cita... &lt;br /&gt;Apa yang menimpa remaja muslim saat ini tak lebih dari dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama berlangsung. Remaja muslim masa kini yang “buta” terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum muslimin. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret arus besar peradaban dunia yang serba permisif, hedonis dan materialistik. Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelombung menjadikan mereka harus takluk dan menjadi “budak” budaya lain&lt;br /&gt;. Maka sudah saatnya bagi remaja muslim untuk memacu diri melakukan gerilya besar dengan mengusung nilai-nilai Islam sehingga dia mampu mengendalikan diri untuk tidak terpancing apalagi larut dengan budaya-reliji lain. Generasi muda muslim hendaknya mampu membangun benteng-benteng diri yang sulit ditembus oleh gempuran-gempuran perang pemikiran yang setiap kali akan mengoyak-ngoyak benteng pertahanan imannya. &lt;br /&gt;Perlawanan budaya ini akan bisa dilakukan jika remaja muslim mampu mendekatkan dirinya dengan poros ajaran Islam dan mampu melakukan internalisasi diktum-diktum itu ke dalam kalbu, dan sekaligus terkejawantahkan ke dalam aksi. Remaja muslim yang mampu menjadikan keimanannya “hidup” akan mampu bergumul dan bahkan memenangkan pertarungan yang sangat berat di hadapannya. Remaja muslim yang dengan setia menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya akan mampu menjadi seorang muslim tahan banting dan imun terhadap virus budaya global yang mengancam identitasnya. Seorang remaja muslim yang menjadi the living Quran akan mampu melakukan kontra aksi terhadap semua tantangan yang dihadapinya. Dia akan mampu menangkis serangan informasi satu arah yang kini datang dari Barat. &lt;br /&gt;Apa yang mesti dilakukan oleh kalangan muda Islam di zaman serba kompleks ini? &lt;br /&gt;Dalam pandangan saya tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan kecuali kita semua kembali merapatkan jiwa dan kesadaran kita ke akar norma agama kita sendiri, lalu kita gali sedalam-dalamnya, kita renungkan semaksimal mungkin, kita aplikasikan dalam hidup ini. Dan kita pasarkan ajaran-ajaran Islam itu dengan sepenuh raga dan jiwa. Hanya dengan spirit berjuang yang tinggi dan komitmen yang kuat remaja muslim akan lahir kembali dalam sosok yang cemerlang dengan Islam sebagai panji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-8898971414466519552?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/8898971414466519552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=8898971414466519552&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8898971414466519552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/8898971414466519552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/remaja-muslim-valentines-day-dan.html' title='Remaja Muslim, Valentine&apos;s Day dan Perlawanan Budaya'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-869582336477659829</id><published>2009-09-25T00:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T00:35:20.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AQIDAH'/><title type='text'>Akibat Memakan Harta Riba</title><content type='html'>Kaum muslimin seiman dan seaqidah&lt;br /&gt;Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta'ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah&lt;span class="fullpost"&gt; yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).&lt;br /&gt;Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).&lt;br /&gt;Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.&lt;br /&gt;Maha Besar Allah yang telah berfirman:&lt;br /&gt;“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallaahu anhu berkata:&lt;br /&gt;“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).&lt;br /&gt;Imam Qatadah juga berkata:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).&lt;br /&gt;Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia… inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:&lt;br /&gt;لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598).&lt;br /&gt;Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari’at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt;مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.&lt;br /&gt;“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).&lt;br /&gt;Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, motor yang dikendarainya pun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do’a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.&lt;br /&gt;Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.&lt;br /&gt;Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta'ala menegaskan:&lt;br /&gt;“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 161).&lt;br /&gt;Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-869582336477659829?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/869582336477659829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=869582336477659829&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/869582336477659829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/869582336477659829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/akibat-memakan-harta-riba.html' title='Akibat Memakan Harta Riba'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6834460941251394367</id><published>2009-09-24T23:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T00:02:11.507-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>Cemburu, Siapa Takut?</title><content type='html'>Cemburu. Seringkali kata ini dianggap sebagai kambing hitam terkoyaknya hubungan suami istri. Percayalah, tidak selamanya asumsi itu benar. Sebab cikal-bakal cinta sejati, berdirinya rumah-tangga yang kokoh, lahirnya juga dari sifat cemburu. &lt;br /&gt;Cemburu itu bumbu cinta. Bumbu yang akan lebih menyedapkan romantika dalam bercinta. Rasulullah mencela seorang suami yang tidak mempunyai rasa cemburu. Atau sebaliknya isteri yang bukan pencemburu. Istilahnya dayyus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Aisyah pernah cemburu lantaran Rosul&lt;span class="fullpost"&gt; berulang-ulang menyebut kebaikan Khadijah binti Khuwailid, isteri pertama beliau saw. "Rasulullah jika mengingat Khadijah, tak bosan-bosannya memuji dan beristighfar untuknya. Hingga pada suatu hari beliau menyebut-nyebutnya yang membuatku terbawa oleh rasa cemburu. Aku berkata, 'Allah telah menggantikan yang lanjut usia itu bagimu.' Aku saksikan beliau sangat marah. Aku sangat menyesal sambil berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau hilangkan kemarahan RasulMu terhadapku, aku tak akan lagi menyebutkan kejelekannya," kisah Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari kisah yang sama, disebutkan Rosul marah mendengar ucapan istrinya yang masih belia dan rupawan itu, seraya berkata, "Apa yang kau katakan? Demi Allah, ia beriman ketika orang-orang mendustakan aku. Ia melindungi ketika orang-orang menolakku. Darinya aku dikaruniai anak-anak dan tidak aku dapatkan dari kalian." &lt;br /&gt;Melihat reaksi suaminya, jelas Aisyah terpagut. Ia tak menyangka Rasul sekeras itu menanggapi perkataannya. Sebuah ekspresi kecintaan luar biasa Nabi pada Khadijah, yang kian membakar tungku kecemburuan Aisyah. Khadijah ra, umul mukminin berakhlaq agung, memang patut mendapat cinta Nabi. Tapi justru kecemburuan itu yang akhirnya memicu Aisyah berazam kuat untuk menapaki jejak sukses Khadijah merebut cinta agung Rosulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu, selain ia sebagai indikator fenomena fitrah insaniyah, sikap itu memang sesuatu yang disunahkan Nabi. Dalam makna lebih luas, kelangsungan ekosistem fitrah alam pun sesungguhnya juga terkait erat dengan sifat cemburu. &lt;br /&gt;Kita tidak bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi pada dunia manusia bila mereka tak lagi memiliki rasa cemburu. Dalam etika pergaulan pasangan suami istri, jelas ia wajib ada. Suami yang tak pernah cemburu melihat istrinya keluyuran malam hari sendirian misalnya. Atau cuek melihat istrinya pindah dari pangkuan satu lelaki ke pangkuan lelaki lain. Jelas ini merupakan fenomena rusaknya fitrah seorang insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya perasaan cemburu dari diri manusia tak lain lantaran, manusia terus-menerus memperturutkan hawa nafsunya. Alquran mengisyaratkan hal itu. "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS 19:59)&lt;br /&gt;Padahal turunan dari perilaku selalu memperturutkan hawa nafsu, adalah tercampaknya rasa malu dari dalam diri manusia. Itulah yang kini terjadi dalam pergaulan masyarakat Barat yang telah rusak. Ironinya, radiasi kerusakan itu telah merambah luas ke masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muda-mudi. Kata Nabi, "Kalau engkau sudah tidak punya rasa malu, maka lakukan apa saja sesukamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tinjauan aqidah, malu dan iman merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisah. Sebuah hadist mengatakan, "Dari Imron bin Hushoin ra berkata: Rasulullah saw bersabda, malu itu tidak menimbulkan sesuatu kecuali kebaikan samata." (HR Bukhori-Muslim)&lt;br /&gt;Di hadist lainnya diriwayatkan, "Abu Hurairoh ra berkata: Rasulullah saw bersabda, 'Iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang rantingnya, yang terutamanya adalah kalimat Laa Ilaha Illallah. Serendah-rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari iman.'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, malu adalah batas pembeda yang tegas antara manusia dengan binatang. Wajar binatang tidak punya rasa malu, karena ia tidak dikaruniai Allah swt nalar dan perasaan. Tapi jangan lupa binatang masih punya rasa cemburu. Lihatlah betapa kuatnya cemburu seekor merpati jantan pada pasangannya. Ia akan marah bila pasangannya direbut rekannya. Kalau demikian, apa yang kita bisa katakan pada manusia yang tidak lagi memiliki rasa cemburu dan malu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita tau kenapa Alquran begitu sarkas mengecam manusia-manusia yang telah menjadi budak nafsu. "Ulaika kal an'am, balhum adhol" - "Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi". Bukankah di dunia ayam misalnya, tak pernah terjadi ayam jantan dewasa memperkosa anak ayam perempuan? Bukankah tak pernah terjadi perilaku homo atau lesbi dalam dunia kerbau atau keledai?&lt;br /&gt;Jika demikian kita boleh tarik satu konklusi, cemburu-malu-iman, pada hakikatnya berada pada satu garis linear. Sesungguhnyalah ketiga unsur itu menjadi satu senyawa yang menimbulkan gairah hidup manusia untuk memelihara kehormatan dan meningkatkan amaliahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan Aisyah pun akhirnya berujung pada tekad kuatnya untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebab Aisyah menyadari bahwa hanya dengan modal cantik jasmani semata, ia tak mungkin mampu merebut cinta agung Rasulullah. Ia harus mempercantik bathinnya, mempercantik akhlaknya, mempercantik amalnya, dan mempercantik lisannya. Ini sebuah kecemburuan positif dan konstruktif.&lt;br /&gt;Seharusnyalah para istri maupun suami harus cemburu ketika ia tak mendapatkan perhatian dan cinta dari pasangannya. Kalau terjadi kasus demikian, jangan dulu kalap dan menyalahkan pasangannya. Cobalah lakukan evaluasi dan kontemplasi. Jangan-jangan pemicunya adalah, lantaran keadaan masing-masing dalam kondisi stagnan. Tidak pernah ada peningkatan kualitas fisik, kualitas amal, apalagi kualitas akhlak dalam berumah tangga (misalnya berkomunikasi secara mesra) pada masing-masing pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah keliru cemburu dibalas oleh dendam, yakni dengan cara mempertontonkan perilaku urakan dan tercela. Misalnya marah-marah lalu menggaet perempuan/laki-laki lain dan mempertontonkannya secara demonstratif di depan pasangannya. Na'udzubillah min dzalik. Inilah yang terjadi pada dunia Barat saat ini, yang telah penuh sesak dengan kasus-kasus perselingkuhan. Berapa ratus bahkan ribu rumah-tangga yang broken home. Kemudian dari situ lahir generasi-generasi yang secara turun temurun mengukuhkan tradisi bejad: seks bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu itu bumbu cinta. Karena itu jadikan dia sebagai penyedap sekaligus pemacu semangat mengubah diri ke arah positif dan konstruktif. Tapi hati-hati cemburu bisa jadi petaka, kalau masing-masing pihak tidak pernah merujukkan persoalannya pada rambu-rambu iman dan akhlaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6834460941251394367?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6834460941251394367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6834460941251394367&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6834460941251394367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6834460941251394367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/cemburu-siapa-takut.html' title='Cemburu, Siapa Takut?'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5805462704339169000</id><published>2009-09-16T23:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:46:28.630-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>Penyakit yang Menimpa Perempuan Tidak Berjilbab</title><content type='html'>Rasulullah bersabda, "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, "Tidak diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab) (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, bn Majah)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan bahwasannya perempuan yang tidak berjilbab atau berpakaian tetapi ketat, atau transparan maka ia akan mengalami berbagai penyakit kanker ganas di sekujur anggota tubuhnya yang terbuka, apa lagi gadis ataupun putri-putri yang mengenakan pakaian ketat-ketat. Majalah kedokteran Inggris melansir hasil penelitian ilmiah ini dengan mengutip beberapa fakta, diantaranya bahwasanya kanker ganas milanoma pada usia dini, dan semakin bertambah dan menyebar sampai di kaki. Dan sebab utama penyakit kanker ganas ini adalah pakaian ketat yang dikenakan oleh putri-putri di terik matahari, dalam waktu yang panjang setelah bertahun-tahun. dan kaos kaki nilon yang mereka kenakan tidak sedikitpun bermanfaat didalam menjaga kaki mereka dari kanker ganas. Dan sungguh Majalah kedokteran Inggris tersebut telah pun telah melakukan polling tentang penyakit milanoma ini, dan seolah keadaan mereka mirip dengan keadaan orang-orang pendurhaka (orang-orang kafir Arab) yang di da'wahi oleh Rasulullah. Tentang hal ini Allah berfirman:&lt;br /&gt;وإذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم (الأنفال: 32)&lt;br /&gt;Dan ingatlah ketika mereka katakan: Ya Allah andai hal ini (Al-Qur'an) adalah benar dari sisimu maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih ( Q.S. Al-Anfaal:32)&lt;br /&gt;Dan sungguh telah datang azab yang pedih ataupun yang lebih ringan dari hal itu, yaitu kanker ganas, dimana kanker itu adalah seganas-ganasnya kanker dari berbagai kanker. Dan penyakit ini merupakan akibat dari sengatan matahari yang mengandung ultraviolet dalam waktu yang panjang disekujur pakaian yang ketat, pakaian pantai (yang biasa dipakai orang-orang kafir ketika di pantai dan berjemur di sana) yang mereka kenakan. Dan penyakit ini terkadang mengenai seluruh tubuh dan dengan kadar yang berbeda-beda. Yang muncul pertama kali adalah seperti bulatan berwarna hitam agak lebar. Dan terkadang berupa bulatan kecil saja, kebanyakan di daerah kaki atau betis, dan terkadang di daerah sekitar mata; kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh disertai pertumbuhan di daerah-daerah yang biasa terlihat, pertautan limpa (daerah di atas paha), dan menyerang darah, dan menetap di hati serta merusaknya.&lt;br /&gt;Terkadang juga menetap di sekujur tubuh, diantaranya: tulang, dan bagian dalam dada dan perut karena adanya dua ginjal, sampai menyebabkan air kencing berwarna hitam karena rusaknya ginjal akibat serangan penyakit kanker ganas ini. Dan terkadang juga menyerang janin di dalam rahim ibu yang sedang mengandung. Orang yang menderita kanker ganas ini tidak akan hidup lama, sebagaimana obat luka sebagai kesempatan untuk sembuh untuk semua jenis kanker (selain kanker ganas ini), dimana obat-obatan ini belum bisa mengobati kanker ganas ini.&lt;br /&gt;Dari sini, kita mengetahui hikmah yang agung anatomi tubuh manusia di dalam perspektif Islam tentang perempuan-perempuan yang melanggar batas-batas syari'at. yaitu bahwa model pakaian perempuan yang benar adalah yang menutupi seluruh tubuhnya, tidak ketat, tidak transparan, kecuali wajah dan telapak tangan. Dan sungguh semakin jelaslah bahwa pakaian yang sederhana dan sopan adalah upaya preventif yang paling bagus agar tidak terkena "adzab dunia" seperti penyakit tersebut di atas, apalagi adzab akhirat yang jauh lebih dahsyat dan pedih. Kemudian, apakah setelah adanya kesaksian dari ilmu pengetahuan kontemporer ini -padahal sudah ada penegasan hukum syari'at yang bijak sejak 14 abad silam- kita akan tetap tidak berpakaian yang baik (jilbab), bahkan malah tetap bertabarruj???&lt;br /&gt;( Sumber: Al-I'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah, Oleh :Muhammad Kamil Abd Al-Shomad )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5805462704339169000?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5805462704339169000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5805462704339169000&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5805462704339169000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5805462704339169000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/penyakit-yang-menimpa-perempuan-tidak.html' title='Penyakit yang Menimpa Perempuan Tidak Berjilbab'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-3401619467814897439</id><published>2009-09-16T23:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:41:25.925-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>Wanita memiliki Kekurangan Akal</title><content type='html'>Penelitian Islam tentang Mukjizatnya Sabda Rasulullah tentang Wanita&lt;br /&gt;Oleh : Aziz Muhammad Abu Kholaf , Peneliti Islami.&lt;br /&gt;Begitu banyak tuduhan-tuduhan negatif yang ditujukan kepada Islam, bahwa Islam tidak menghormati hak asasi perempuan (HAP), sehingga akhirnya pun banyak diadakan seminar-seminar, diskusi-diskusi, program-program "pemberdayaan" di berbagai tempat untuk mengusung tema ini. Dan tema yang diusung adalah seputar "Akal perempuan dan pandangan Islam tentang kurangnya akal perempuan".&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini bisa dibuktikan dengan adanya hadits sah dari Rasulullah -yang termaktub di dalam shahihain, Bukhari dan Muslim- bahwasannya perempuan akalnya kurang. Maka, apakah yang akan mereka katakan bahwa itu adalah benar memang adanya? Dan apakah para perempuan memang memiliki akal yang kurang ? Dan apakah Rasulullah mensifati perempuan dengan sidat itu memang demikian maksudnya, ataukah justeru maksudnya kebalikan dari itu?&lt;br /&gt;Hadits Kurangnya Akal Perempuan&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:&lt;br /&gt;Wahai wanita yang beriman seluruhnya, bershadaqahlah kalian semua, dan perbanyaklah kalian beristighfar, karena aku telah melihat bahwa mayoritas penghuni neraka adalah dari kalangan kalian". Maka seorang wanita pun menyela dan bertanya, "Kenapa kami menjadi penghuni neraka yang terbanyak?" Rasulullah bersabda, "Kalian banyak melaknat, dan kufur nikmat kepada suami-suami kalian, dan aku tidak melihat kelompok manusia yang kurangnya akal dan kurangnya agama kecuali dari kalian". Bertanya seorang wanita tadi, "Wahai Rasulullah, Apa kurang akalnya dankurang agamanya perempuan ?" Maka bersabdalah Rasulullah, "Adapun kurang akalnya perempuan adalah karena kesaksian dua orang perempuan sama dengan kesaksian seorang laki-laki, dan ini namanya kurang akalnya perempuan, dan kalian tidak shalat dan tidak puasa Ramadhan ketika datang haidh, dan ini pun kurangnya agama kalian, dan kalian mengingkari hak-hak suami kalian".&lt;br /&gt;Hadits ini tidaklah mungkin kita fahami tanpa kita korelasikan dengan ayat Al-Qur'an yang mulia tentang perempuan menjadi saksi. Allah berfirman:&lt;br /&gt;Maka ambilah dua orang laki-laki menjadi saksi, maka jika tidak tidak ada dua orang, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang kalian ridhai agamanya untuk menjadi saksi. Yang demikian itu agar kalau salah seorangnya lupa, maka yang lain mengingatkannya (Q.S. Al-Baqarah: 282)&lt;br /&gt;Pemahaman yang salah dari hadits ini:&lt;br /&gt;Terbersit di dalam perpepsi sebagian orang yang eror dengan senang dan girang menjelekkan Islam. Mekeka menyimpulkan bahwa kurangnya akal perempuan adalah kurangnya kemampuan otak, daya fikir perempuan lemah di bandingkan laki-laki, Andai mereka mau memperhatikan hadits tersebut, tentu mereka akan menemukan jawabannya, yaitu bahwa salahnya kesimpulan mereka bahkan bertentangan dengan hadits itu sendiri. Rinciannya adalah sbb.:&lt;br /&gt;1. Disebutkan di dalam hadits tersebut tentang adanya seorang perempuan yang menyela Rasulullah dengan bertanya. Dan orang yang menyela tersebut sebagaimana penjelasan ulama adalah memiliki akal, fikiran, dan dewasa. Maka bagaimana mungkin perempuan ia memiliki kurang akal sedangkan pada saat yang sama ia dewasa dan punya fikiran? &lt;br /&gt;2. Rasulullah takjub dengan kemampuan perempuan dan bahwasannya seorang dari mereka bisa mengungguli seorang laki-laki yang cerdas sekalipun. Maka bagaimana mungkin ia dikatakan kurang akal padahal mengalahkan kecerdasan seorang laki-laki? &lt;br /&gt;3. Dialog tersebut adalah antara Rasulullah dengan wanita muslimah yang terkait dengan hukum-hukum Islam: kadar kesaksian wanita dan shalat, serta puasa. Lalu, andai ada seorang wanita kafir lagi cerdas lalu ia pun masuk Islam, apakah ia tiba-tiba menjadi kurang akalnya ? &lt;br /&gt;Pemahaman-pemahaman yang demikian adalah karena mengambil sepotong-sepotong nash hadits dan tidak melihat kepada keseluruhan nash, ia tidak mengkorelasikan antar sebagian nash dengan sebagian nash lainnya, atau ayat Al-Qur'an. Padahal hadits tersebut hanya membicarakan tentang alasan kurangnya akal wanita, yaitu bahwa kesaksian dua orang wanita adalah sama dengan kesakisian seorang laki-laki. Dan ayat Al-Qur'an pun demikian, yang jika ada seorang perempuan saksi lupa, maka diingatkan oleh yang lainnya. Dan Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa perempuan lemah akalnya, dan juga tidak menyatakan bahwa dibutuhkannya dua orang saksi perempuan karena daya fikir wanita lebih lemah daripada daya fikir laki-laki.&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan Daya Fikir dan Akal ?&lt;br /&gt;Daya fikir adalah aktivitas otak dengan bantuan data empirik sesuai dengan eksperien dan kecerdasan untuk mendapatkan tujuan, atau mendapatkan hujjah atau menghilangkan kendala.&lt;br /&gt;Data empirik adalah sesuatu yang bisa dilihat atau disaksikan dan dibuktikan. Dan Eksperien adalah pengetahuan yang diperoleh manusia sesuai dengan fakta empirik dan melalui metodologi ilmiah.&lt;br /&gt;Adapun kecerdasan adalah gambaran tentang kemampuan dasar otak yang ada pada manusia yang berbeda-beda tingkatannya. Daya pikir membutuhkan hujah/dalil untuk membantunya. Dan hal itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan menghilangkan kendala-kendala dan menghindarkan dari terjerumus dalam kesalahan dengan skill dan semangat untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Penjelasan tentang batasan daya fikir ini tidak berbeda antara laki-laki atau pun perempuan. Pun penjelasan ini tidak menunjukkan adanya perbedaan perolehan ilmu yang terkait dengan penelaahan otak, berfikir, dan belajar antara laki-laki dan perempuan dari aspek daya pikir dan belajar. Juga, tidak menunjukkan adanya perbedaan kemampuan otak dan kecerdasan, syaraf otak, cara memperoleh informasi, serta tidak ada keunggulan pada masing-masingnya kecuali hanya dalam hal-hal yang mempribadi.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, daya fikir bukanlah kemampuan akal atau kecerdasan semata, bahkan daya fikir lebih luas dari hal itu, termasuk di dalamnya hal-hal lain yang berjalan dalam tahapan berfikir ilmiah. Yaitu aktivitas yang terstruktur dan bukan sederhana. Sebagaimana demikian juga akal dalam perspektif Al-Qur'an dan Al-Sunnah adalah lebih luas daripada sekedar berfikir. Akan tetapi aktivitas berfikir yang ditujukan untuk beramal/beraktivitas. Oleh karena itu, kami akan memberikan catatan tambahan terhadap hadits di atas dengan penjelasan yang detail. yaitu bahwa kurangnya akal wanita adalah kurang dalam hal metode/tahapan berfikir ilmiah yang berpengaruh kepada fikiran, dan bukan pada kemampuan alami fikir itu sendiri atau kemampuan otak sebagaimana anggapan sebagian besar manusia.&lt;br /&gt;Dimanakah Mukjizat Rasulullah tentang hadits ini?&lt;br /&gt;Nash-nash Al-Qur'an dan Al-Sunnah tidak membedakan antara kemampuan akal laki-laki dengan kemampuan akal perempuan. Hal ini terlihat jelas dalam konteks pembicaraan iman secara umum, baik perempuan atau pun laki-laki. Ini bila kita kaitkan antara nash-nash yang membicarakan kecerdasan, kemampuan, pendapat-pendapat yang benar dari perempuan dalam sejumlah permasalahan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Oleh karena itu, tidak pernah ada secara ilmiah, adanya perbedaan kemampuan akal wanita dengan laki-laki. Dan nash Al-Qur'an dan Sunnah tidak bertentangan dengan hal ini. Maka, yang dimaksud dengan kurang akalnya perempuan sebagaimana yang disebutkan di dalam nash adalah bukan pada kemampuan akal. Sebab aktivitas berfikir adalah aktivitas yang terpaut dengan hal-hal lain dari kerja syarat, dan terkandung di dalamnya kemampuan akal, dan hal-hallain semisal data empirik dan eksperien/pengalaman.&lt;br /&gt;Jika kita tilik pada ayat di atas, kita kan mendapatkan bahwa alasan dari hal itu adalah kadar kesaksian: bila lupa diingatkan. Dan lupa atau ingat adalah hal yang terkait dengan data empirik dan pengalaman. Dan ini sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan-kekhususan, dimana ia banyak mengalami keadaan yang berbeda-beda "banyak mengalami siklus hidup", seperti siklus yang berkaitan dengan tubuhnya, perasaannya, dimana keduanya sangat berpengaruh kepada proses berfikirnya. Ini, bila kita kaitkan pada hadits tersebut yang berbicara tentang hukum-hukum Islam dalam masyarakat Muslim, dan wanita dihukumi sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus dimana pengalamannya lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki secara umum, apalagi pada moment yang memang wanita jarang berkecimpung di dalamnya.&lt;br /&gt;Jadi, kurang akal di sini terkait dengan hal-hal lain, bukan kemampuan akal itu sendiri, sebagaimana yang difahami kebanyakan orang sehingga ia menghukumi sesuatu tanpa di landasi dengan analisis atau pemahaman yang benar.&lt;br /&gt;Dan sudah datang masanya bagi mereka untuk kembali kepada pemahaman yang benar ini, dan adil di dalam mensikapi Islam dengan seadil-adilnya. Dan bagi wanita, maka berjalanlah mengikuti nash-nash tersebut dan yakinlah kepada Rabb kalian, yakinlah kepada agama kalian (Islam), dan berbanggalah dengan Islam ini.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Makalah ini adalah salah satu hasil penelitian yang panjang. Bagi yang mau melihat secara lebih lengkap, kami sudah ajukan ke "Muktamar Al-I'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Qur'an", dan bisa diakses pada situs-situs di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. http://www.islamway.com/bindex.php?section=articles&amp;article_id=269 تنمية مهارات التفكير&lt;br /&gt;2. http://www.islamway.com/bindex?section=articles&amp;article_id=340 مواجهة المشاكل والتغلب عليها&lt;br /&gt;3. http://www.lahaonline.com/Daawa/DaawaObsta/a2-30-02-1424.doc_cvt.htm كيف واجهت أم المؤمنين عائشة حادثة الإفك؟ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-3401619467814897439?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/3401619467814897439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=3401619467814897439&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3401619467814897439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3401619467814897439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/wanita-memiliki-kekurangan-akal.html' title='Wanita memiliki Kekurangan Akal'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6178774641895439913</id><published>2009-09-16T23:39:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:40:26.727-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HIKMAH'/><title type='text'>Hikmah Disyari'atkan Khitan</title><content type='html'>Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;(( الفطرة خمس -أو خمسة من الفطرة: الختان، والاستحداد، وتنف الإبط، وتقليم الأظفار، وقص الشارب )) الخباري في صحيح، 5889&lt;br /&gt;Artinya: Fithrah manusia itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis (HR. Bukhari, 5889).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Makna fitrah pada asalnya adalah tabiat yang semula sudah ada, dan yang dimaksu dengan hadits tersebut di atas adalah, "Jika 5 hal di atas dilakukan maka pelakunya disifati dengan fithrah sebagaimana Allah tetapkan demikian untuk para hambanya, dan juga Allah memotivasi hamba-Nya untuk melakukan, mencintai hal yang demikian, sehingga hamba tersebut memiliki sifat yang paling sempurna lagi mulia. Dalam sejumlah sifat yang lain disebutkan, "Lima hal yang teramsuk sunnah/kebiasaan".&lt;br /&gt;Dan khitan maknanya adalah memotong, yaitu memotong kulub (kulit yang berlebih yang ada pada dzakar bagian depan. Adapun istihdad, adalah menggunakan alat potong untuk menghilangkan rambut yang ada di atas dan sekitar kemaluan laki-laki. Demikian juga rambut yang ada di sekitar kemaluan perempuan.&lt;br /&gt;Sebuah majalah medis terkenal di Inggris, BMG, pernah menurunkan makalah tentang kanker kelamin dan penyebab-penyebabnya pada tahun 1986. Diantara keterangannya adalah, "Sesungguhnya kanker kelamin sangat kecil sekali terjadi di kalangan yahudi dan negeri-negeri muslim, sebab mereka ini melakukan khitan semenjak usia anak-anak. Dan data statistik medis menunjukkan bahwa kanker kemaluan yang terjadi pada kalangan yahudi tidak terjadi kecuali hanya terhadap 9 penderita saja dalam setahun."&lt;br /&gt;Proses terjadinya kanker kelamin adalah ketika kemaluan tidak dikhitan, maka kulub yang ada di bagian depan kemaluan tersebut selalu menyisakan air kencing yang keluar. Air kencing tersebut membawa endapan-endapan yang dalam waktu yang lama akan menutupi bagian saluran air kencing sehingga menyebabkan dis-fungsi. Maka dengan dikhitannya kulub ini, kemungkinan mengendapnya sisa-sisa air kencing tidak ada lagi karena selalu dibersihkan setiap kali kencing. Sisa-sisa endapan air kencing inilah yang berdasarkan penelitian merupakan sebab utama terjadinya kanker kelamin.&lt;br /&gt;Majalah "Al-Ma'had Al-Wathaniy lii Al-Sarthan" menurunkan berita tentang hasil penelitian yang menegaskan bahwa kanker kelamin bisa berpindah ketika berhubungan seks. Dan dengan hubungan seks dengan banyak pasangan bebas juga akan menyebabkan terjadinya kanker ini. Dalam dalam laporan buletin sebuah akademi untuk penyakit-penyakit anak-anak disebutkan bahwa sesungguhnya khitan adalah cara yang efektif untuk mencegah terjadinya kanker kelamin.&lt;br /&gt;Sebuah majalah Amerika untuk penyakit anak-anak juga menegaskan bahwa aktivitas-aktivitas agama yang dianut kalangan muslimin (Islam) dan yahudi yang menegaskan mensyari'atkan khitan memiliki dampak yang sangat mendasar dalam memotivasi mereka untuk melaksanakan fithrah ini (khitan)". Dan dalam shahihain (Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu' bahwa Nabi Ibrahim --Alaihis Salam-- melakukan khitan ketika ia memasuki usia 80 tahun.&lt;br /&gt;Sumber: Al-Arbaun Al-Ilmiyah" Abdul hamid Mahmud Thahmaz, Daar Al-Qalam&lt;br /&gt;Penerjemah: Abu Muhammad ibn Shadiq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6178774641895439913?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6178774641895439913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6178774641895439913&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6178774641895439913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6178774641895439913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/hikmah-disyariatkan-khitan.html' title='Hikmah Disyari&apos;atkan Khitan'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-6889389590443838406</id><published>2009-09-16T23:38:00.001-07:00</published><updated>2009-09-16T23:38:59.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>Pengaruh Qur'an Terhadap Organ Tubuh</title><content type='html'>[Dievalusi dengan menggunakan perangkat elektronik]&lt;br /&gt;Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America)&lt;br /&gt;Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an dalam pengulangan-pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:&lt;br /&gt;1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.&lt;br /&gt;2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab&lt;br /&gt;3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.&lt;br /&gt;Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.&lt;br /&gt;Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur'an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur'an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dalam Bahasa Arabnya.&lt;br /&gt;Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur'an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur'an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur'an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.&lt;br /&gt;Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa "Kata-kata dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur'an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.&lt;br /&gt;Peralatan&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.&lt;br /&gt;Subsekuen:&lt;br /&gt;1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.&lt;br /&gt;2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.&lt;br /&gt;3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.&lt;br /&gt;Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.&lt;br /&gt;Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.&lt;br /&gt;Metode dan Keadaan yang digunakan:&lt;br /&gt;Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.&lt;br /&gt;Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur'an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur'an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur'an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.&lt;br /&gt;Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur'an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).&lt;br /&gt;Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur'an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur'an terhadap tubuh.&lt;br /&gt;Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur'an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur'an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.&lt;br /&gt;Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur'an dan bukan Al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur'an dan mana yang bukan.&lt;br /&gt;Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.&lt;br /&gt;Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.&lt;br /&gt;Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..&lt;br /&gt;Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.&lt;br /&gt;Hasil Penelitian&lt;br /&gt;Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.&lt;br /&gt;Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.&lt;br /&gt;Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan&lt;br /&gt;Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.&lt;br /&gt;Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.&lt;br /&gt;Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.&lt;br /&gt;Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-6889389590443838406?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/6889389590443838406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=6889389590443838406&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6889389590443838406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/6889389590443838406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/pengaruh-quran-terhadap-organ-tubuh.html' title='Pengaruh Qur&apos;an Terhadap Organ Tubuh'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5595431326442156783</id><published>2009-09-16T23:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:35:55.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMIAH'/><title type='text'>Penelitian Ilmiah Tentang Puasa</title><content type='html'>A. Manfaat Puasa Secara Medis&lt;br /&gt;Allah ta'alaa berfirman:&lt;br /&gt;يايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah: 183).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون&lt;br /&gt;Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 184).&lt;br /&gt;Apakah ilmu pengetahuan kontemporer sudah bisa mengungkap rahasia dari firman Allah "Dan jika kalian berpuasa maka itu lebih baik bagi kalian"???&lt;br /&gt;Sesungguhnya ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer belum mempu mengungkap hakikat puasa, selain hanya menyatakan bahwa puasa adalah keinginan yang boleh bagi manusia untuk melakukannya atau tidak. Itu saja. &lt;br /&gt;Sesungguhnya puasa, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya menemukan bahwa puasa secara jelas adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa terus melakukan aktivitasnya secara baik. Dan puasa benar-benar sangat penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Maka manusia sangat membutuhkan hal-hal ini. Jika manusia tidak bisa tidur, makan selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Maka, tubuh manusia pun akan mengalami hal yang jelek jika ia tidak berpuasa. &lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa'i dari shahabat Abu Umamah:&lt;br /&gt;قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: ((عليك بالصوم فإنه لا مثل له ))&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu". Maka Rasulullah bersabda, "Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa".&lt;br /&gt;Dan sebab pentingnya puasa bagi tubuh adalah karena puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus sel-sel atau hormon atau pun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Dan puasa, sebagaimana dituntunkan oleh Islam adalah rata-rata 14 jam, kemudian baru makan untuk durasi waktu beberapa jam.&lt;br /&gt;Ini adalah metode yang bagus untuk sistem pembuangan sel-sel atau hotmon yang rusak dan membangun kembali badan dengan sel-sel baru. Dan ini sangat berbeda dengan dengan apa yang difahami kebanyakan orang bahwa puasa menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu. Puasa yang bagus bagi badan itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan berturut-turut dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari setiap bulan. hal ini sesuai benar dengan anjuran Rasulullah dalam sebuah haditsnya:&lt;br /&gt;(( من صام من كل شهر ثلاثة أيام فذلك صيام الدهر ))&lt;br /&gt;Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun). &lt;br /&gt;Dan Allah pun membenarkan ucapan Nabi ini dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها&lt;br /&gt;Barangsiapa yang beramal dengan satu perbuatan baik, maka Allah memberikan kepadanya 10 kali lipat dari amalan itu.&lt;br /&gt;Satu hari dihargai 10 hari oleh Allah, maka 3 hari dihargai 30 hari, dan bila 3 hari setiap bulan maka menjadi 36 hari. Dan ini senilai dengan 360 hari atau satu tahun dalam penghargaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan:&lt;br /&gt;Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan fikiran. Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.&lt;br /&gt;Aku telah berpuasa beberapa kali hinga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan fikiran-fikiran itu."&lt;br /&gt;"Saya setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan. Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama 1 bulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan duni manapun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Mencegah Dari Tumor&lt;br /&gt;Puasa juga berfungsi sebagai "dokter bedah" yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa akan bisa menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusah atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang bagus bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Dengan hal itu juga bisa menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Dan puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya, seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan lemak. Juga bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.&lt;br /&gt;C. Menjaga Kadar Gula Dalam Darah&lt;br /&gt;Puasa saangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya puasa memberikan kepada kelenjar pankreas kesempatan yangbaik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Apabila makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Hal ini hingga akhirnya pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabets. Dan sudah banyak dilakukan usaha pengobatan terhadap diabets ini di seluruh dunia dengan mengikuti "sistem puasa" selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para penderita tersebut mengkonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Dan metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabets dan tanpa menggunakan satu obat-obatan kimiawi pun.&lt;br /&gt;D. Puasa Adalah Dokter Yang Paling Murah&lt;br /&gt;Sesungguhnya puasa, tanpa berlebih-lebihan, adalah "dokter" yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah ketika memulai ifthar dari puasa adalah dengan memakan beberapa biji kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk.&lt;br /&gt;Dan inisebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Maka, gula ada dalam kurma dan orang akan merasa kenyang ketika memakan kurma, sebab ia sangat mudah dicerna dan dikirim ke dalam darah, dan pada saat yang sama ia memberikan energi atau kekuatan kepada badan.&lt;br /&gt;Adapun jika kita langsung makan daging setelah lapar karena puasa, sayuran, dan roti, maka tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Dan pada saat seperti ini, maka orang ketika awal-awal berbuka akan tetap merasa lapar. Dan akhirnya, orang yang berpuasa itu kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasanya, yaitu memperoleh kesehatan, afiat, dan vitalitas, bahkan ia akan tetap kebanyakan lemak dan kegemukan. Dan ini tentu bukanlah tujuan Allah mensyariatkan bagi hamba-Nya untuk berpuasa.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام آخر، يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر (البقرة: 185)&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan (Q.S. Al-Baqarah: 175).&lt;br /&gt;E. Penyakit-Penyakit Kulit&lt;br /&gt;Sungguh puasa memberikan manfaat untuk mengobati berbagai penyakit kulit. hal ini disebabkan karena dengan puasa maka kandungan air dalam darah berkurang, maka berkurang juga kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada:&lt;br /&gt;1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit mikroba      dalam perut.&lt;br /&gt;2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).&lt;br /&gt;3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.&lt;br /&gt;Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:&lt;br /&gt;Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Dan setelah dokter-dokter spesialis kulit terkenal di Mesir berkata kepada Ayahku, "Kalian harus membiasakan ini dan kalian hidup dengan penyakit ini. Penyakit iniadalah tamu yang memberatkan lagi memakan waktu lama".&lt;br /&gt;Dan ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Dan akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, "Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah bahwa pemberi obat adalah Allah dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tangan-Nya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepada-Nya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah".&lt;br /&gt;Maka, aku pun melakukan puasa, dan aku mulai meneliti hal-hal yang mengeluarkan aku dari jahim yang menyelimutiku. Dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengkonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru makan makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Dan mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku sampai tidak percaya pada diriku, dan aku memulai seperti biasa, dan aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku."&lt;br /&gt;F. Puasa Mencegah "Penyakit Orang Kaya"&lt;br /&gt;Penyakit ini sering juga disebut dengan nama "penyakit nacreous" yaitu yang disebabkan karena kelebihan makanan dan sering makan daging. Dan akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Dimana darinya akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Dan ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dan disertai nyeri yang sangat. Dan terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Dan mengurangi porsi makan merupakan sebab utama bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.&lt;br /&gt;G. Pembekuan Jantung dan Otak&lt;br /&gt;Para profesor yang melakukan penelitian medikal ilmiah ini --mayoritasnya adalah non-muslim-- menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Taukah anda apa "mal-kolesterol" itu? Mal-Kolesterol adalah zat yang tertimbun pada oleh karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allah Ta`ala yang berbunyi :&lt;br /&gt;وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون&lt;br /&gt;"Dan adaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui."&lt;br /&gt;Maka berapa ribu manusia yang diliputi kebiasaan makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena keinginan. Dan andai mereka mengikuti metode Allah dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum, puasa tiga kali tiap bulan, tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram. &lt;br /&gt;H. Sakit Persendian Tulang&lt;br /&gt;Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-oragan tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.&lt;br /&gt;Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasannya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.&lt;br /&gt;Berkata Sulaiman Rogerz dari New York berkata, "Aku pernah mengalami penyakit dis-fungsi persendian tulang yang sangat kronis selama tiga tahun yang lalu, padahal penyakit ini tidak terlalu berat waktu itu kecuali aku tidak bisa berjalan jauh, dan tidak mampu duduk lebih dari setengah jam. Aku sudah mencari obat dari berbagai jenis akan tetapi semuanya gagal kemudian qodarullah aku berkenal dengan seorang kawan namanya Zanji Irfani disebuah jalan yang menuju masjid dan ia mengajak aku masuk Islam, dan kami waktu itu sedang di bulan Ramadhan, dan aku sangat terheran-heran dengan metode puasa itu sendiri, akan tetapi aku terus mengikuti aturan Islam ini karena aku merasa aturan itu lebih menyejukan hati dimana atarun-aturan itu bisa mencegah munculnya zat-zat yang berbahaya dan menyeimbangkan hal-hal yang tidak stabil di dalam tubuh. Dua hal inilah masalah yang paling susah yang aku alami di New York. Dan sungguh aku mencoba untuk berpuasa sehari sebelum masuk Islam, aku hanya makan sayur-sayuran, buah-buahan dan kurma saja ketika berbuka pusa. Dan aku tidak makan apapun setelah itu kecuali ketika sahur, dan kini aku bisa berjalan panjang dan Alhamdulillah aku bisa berjalan cepat. Dan akhirnyapun hilang semua nyeri yang selama ini aku alami. Puasa ini merupakan satu-satunya cara yang aku temui yang bisa mengobati penyakitku ini. Maka akupun mengucapkan syukur pada Allah atas limpahan nikmat-Nya padaku untuk masuk Islam setelah aku benar-benar mantap dengan-Nya.&lt;br /&gt;Diakhirnya, Sulaiman berkata sesungguhnya puasa memiliki keutamaan besar sekali bagiku, andai engkau melihat bagaimana aku menyambut bulan Ramadhan setiap tahun, tentu engkau akan mengatakan, "Ah, layaknya seperti anak kecil saja tidak seperti orang yang berusia 40 atau 50 tahun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5595431326442156783?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5595431326442156783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5595431326442156783&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5595431326442156783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5595431326442156783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/penelitian-ilmiah-tentang-puasa.html' title='Penelitian Ilmiah Tentang Puasa'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-3783948084203881469</id><published>2009-09-16T23:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:33:51.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>Hikmah Diharamkannya Menikahi Saudara Sesusuan</title><content type='html'>Rasulullah bersabda, "Diharamkan dari saudara sesusuan segala sesuatu yang diharamkan dari nasab".HR. Bukhari dan Muslim&lt;br /&gt;Sejumlah penelitian ilmiah baru-baru ini menemukan adanya gen dalam ASI orang yang menyusui, dimana ASI mengakibatkan terbentuknya organ-organ pelindung pada orang yang menyusu. Yang demikian apabila ia menyusu antara 3 sampai 5 susuan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan ini adalah susuan yang dibutuhkan untuk bisa membentuk organ-organ yang berfungsi melindungi tubuh manusia.&lt;br /&gt;Maka, apabila ASI disusu maka ia akan menurunkan sifat-sifat khusus sebagaimana pemilik ASI tersebut. Oleh karena itu, ia akan memiliki kesamaan atau kemiripan dengan saudara atau saudari sesusuannya dalam hal sifat yang diturunkan dari ibu pemilik ASI tersebut.&lt;br /&gt;Dan juga sudah ditemukan bahwa organ-organ yang berfungsi melindungi tubuh mungkin akan menyebabkan munculnya sifat-sifat yang diridhai oleh sesama saudara dalam kaitannya dengan pernikahan. Dari sini, kita mengetahui hikmah yang terkandung dari hadits di atas yang melarang kita dari menikahi saudara sesusuan yaitu mereka yang menyusu pada ibu lebih dari 5 kali susuan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kekerabatan karena sesusuan ditetapkan dan dapat dipindahkan karena keturunan. Dan penyebab yang diturunkan dan gen yang dipindahkan. maksudnya adalah bahwa kekerabatan karena faktor sesusuan disebabkan karena adanya perpindahan gen dari ASI orang yang menyusui kepada orang yang menyusu tersebut, masuk, dan bersatu dengan jaringan gen orang yang menyusu tersebut, atau ASI tersebut memang mengandung lebih dari satu sel, dimana sel itu merupakan inti dari kehidupan manusia. Sel itu sering disebut dengan DNA.&lt;br /&gt;Juga mungkin karena organ sel pada orang yang menyusu menerima sel yang asing, sebab sel itu tidak matur. Keadannya adalah keadaan percampuran dari berbagai sel, dimana perkembangannya tidak akan sempurna kecuali setelah melewati beberapa bulan atau beberapa tahun sejak kelahiran. Kalau penjelasan asal-mula penyebab adanya kekerabatan karena hal ini, maka hal ini memiliki konsekuensi yang sangat penting dan sangat menentukan.&lt;br /&gt;قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب )) متفق عليه&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, "Diharamkan dari saudara sesusuan segala sesuatu yang diharamkan dari nasab".( HR. Bukhari dan Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-3783948084203881469?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/3783948084203881469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=3783948084203881469&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3783948084203881469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/3783948084203881469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/hikmah-diharamkannya-menikahi-saudara.html' title='Hikmah Diharamkannya Menikahi Saudara Sesusuan'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-5072220814291422407</id><published>2009-09-16T23:28:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T23:30:54.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAQ'/><title type='text'>Bila Cinta Tak Berbalas......</title><content type='html'>Sebagai bahan renungan....bila cinta tak berbalas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. &lt;span class="fullpost"&gt;Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta –seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayai qadla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: ‘tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.” (HR.Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita ‘Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiap untuk cinta dan bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti,” demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang ‘berani' menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, “berani-beraninya...” atau “apa yang kurang dari saya.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih ‘bunga' yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Aib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk ‘perjuangan' menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang ‘senasib' dan ‘sependeritaan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kita mungkin takkan Bahagia'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar ‘perceraian'? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu'alam bi ash shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” ( Al-Baqarah[2]:229 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain –bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Saya tak mungkin berbahagia tanpanya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-5072220814291422407?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/5072220814291422407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=5072220814291422407&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5072220814291422407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/5072220814291422407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/09/bila-cinta-tak-berbalas.html' title='Bila Cinta Tak Berbalas......'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-4399529935061375774</id><published>2009-08-25T01:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T01:03:45.497-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>ZUBAIDAH BINTI JA’FAR</title><content type='html'>Tiada seorang wanita pun yang telah memiliki kedudukan dan pangkat, kekayaan dan kemewahan, kekuasaan dan kemampuan, derajat yang tinggi dan pengaruh yang luas, sebagaimana yang telah dimiliki oleh Zubaidah Binti Ja’far,&lt;span class="fullpost"&gt; istri Harun Ar-Rasyid. Dan juga ibu seorang Khalifah anaknya yang bernama Al-Amin. Dia adalah simbol wanita yang bersemangat, dan contoh teladan pada zaman kerajaan Abbasiyah. Nama aslinya Amatul Aziz binti Ja’far.&lt;br /&gt;Wanita mulia ini selalu dimanjakan dengan curahan kasih sayang semenjak kecil. Kakeknya Abu Ja’far Al-Mansur dan pamannya Al-Mahdi, membesarkannya dengan penuh cinta. Kakeknya sangat mengagumi sang cucu, hingga diwujudkan dalam panggilan sang “Zubaidah” yang berarti “buih nan jernih”.&lt;br /&gt;Zubaidah adalah seorang wanita yang cerdas, bijaksana, setia dan penyayang. Pendapatnya selalu dihormati, yang menjadikannya sebagai penasehat pribadi Khalifah. Dia juga wanita yang fasih dan banyak menghafalkan syair dan gurindam. Dia juga pandai mengubah syair, dan senantiasa bersedia untuk berdebat dengan kaum lelaki dalam berbagai bidang ilmu dan seni. Disamping itu, dia juga terkenal sebagai wanita yang cantik rupawan, yang menyebabkan ia sangat dikasihi oleh Harun Ar-Rasyid serta diletakkannya di tempat yang tinggi lagi mulia.&lt;br /&gt;Dia terkenal sebagai seorang yang boros membelanjakan hartanya, dalam hal kebajikan  dimasa hidupnya. Dia juga meninggalkan pengaruh yang sangat berkesan pada khalayak umum, diantaranya proyek-proyek untuk kepentingan rakyat, dalam bidang sosial dan pembangunan.&lt;br /&gt;Sepeninggal suaminya, khalifah Harun Ar-Rasyid, tahta pemerintah dipegang oleh al-Ma’min anak tirinya. Namun, kekhalifahan ini ditandai oleh peristiwa terbunuhnya Al-Amin anak lelakinya. Semenjak itu Zubaidah tenggelam dalam kedukaan yang dalam. Ia baru merasa terobati setelah berulang kali melaksanakan ibadah haji. Dalam perjalanan ibadah hajinya, ia memperhatikan jamaah haji yang kesusahan memperoleh air di Mekkah. Harga setetes air lebih mahal daripada setetes keringat untuk memperolehnya kala itu. Dan Ketika kembali ke Baghdad, dia mengundang semua arsitek dan para pekerja dari berbagai dunia, lalu dia berkata pada mereka, “Laksanakan proyek air ini walaupun akan rnenelan biaya berapapun jumlahnya!”. Proyek ini menelan biaya sebanyak 1.700.000 dinar. Mereka menyambungkan mata air dari gunung sekitar, lalu membuat saluran itu hingga sampailah ke Mekkah. Sehingga dapat dipergunakan orang-orang yang sedang berhaji. Dan sampai sekarang, orang yang berhaji tidak pernah merasakan kesulitan air lagi. Maha besar Allah yang menciptakan makhluk sebaik Zubaidah istri seorang khalifah besar.&lt;br /&gt;Proyek yang lain tidak kalah indahnya yaitu, ia memperbaiki jalan antara Baghdad dan Mekkah untuk memudahkan perjalanan. Kemudian dia juga membangun tempat air (perigi), rumah persinggahan (stasiun), dan industri-industri. Dia juga membangun sebuah masjid yang terkenal dengan nama Masjid Zubaidah Ummi Ja’far di Baghdad. Dalam perjalanannya ke Mekkah, didirikanlah sebuah istana, dengan beberapa kubah yang menjulang. Di dalamnya dibangun pula sebuah tempat mandi dan 2 buah perigi yang airnya tawar. Dia juga telah mendirikan tempat-tempat mandi dan perigi-perigi di perjalanan ke Mekkah untuk memudahkan orang-orang yang pergi haji.&lt;br /&gt;Zubaidah telah hidup dalam lindungan anak tirinya khalifah Al Ma’mun dengan penuh kenikmatan dan kemakmuran, tiada kurang apapun, sama seperti zaman suaminya, khalifah Harun Ar-Rasyid.&lt;br /&gt;Zubaidah terus menjadi tumpuan para penyair, para tabib, dan alim ulama sholihin pada masa akhir hayatnya. Dia telah memelihara 100 jariyah, yang semuanya menghafal Al Quran. Di istananya sering terdengar suara-suara khusu’  orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Zubaidah Binti Ja’far meninggal dunia pada tahun 216 H di Baghdad. Alangkah bermanfaatnya hidupnya bagi umat manusia. Khususnya para muslim sedunia. Semoga Allah menciptakan pada zaman ini wanita seperti dia. Amin ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3820380376872662893-4399529935061375774?l=ziynm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ziynm.blogspot.com/feeds/4399529935061375774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3820380376872662893&amp;postID=4399529935061375774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/4399529935061375774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3820380376872662893/posts/default/4399529935061375774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ziynm.blogspot.com/2009/08/zubaidah-binti-jafar.html' title='ZUBAIDAH BINTI JA’FAR'/><author><name>coretan q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06462146126008438247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-8exDEPorpWk/TZQ4T-I3kPI/AAAAAAAAAEM/YkzT6pZFmNk/s220/mtr%2B-web.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3820380376872662893.post-8780327296083580411</id><published>2009-08-25T01:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T01:02:39.536-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH-KISAH'/><title type='text'>IMAM AHMAD IBNU HANBAL</title><content type='html'>Mukaddimah&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal adalah Imam terakhir (keempat) diantara para Imam madzhab empat yang terkenal. Di sepanjang sejarah, tidak akan ditemukan para Imam seperti mereka, yang memiliki berbagai keahlian.&lt;span class="fullpost"&gt; Madzhab Imam kita yaitu Imam Ahmad bin Hambal adalah madzhab terakhir diantara madzhab-madzhab ini.&lt;br /&gt; Sebelumnya, telah ada tiga madzhab yang banyak dianut oleh kaum muslimin. Madzhab pertama adalah madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, kedua madzhab Imam Malik bin Anas dan ketiga adalah madzhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Asy-Syafi’i. “Apakah Imam Ahmad bin Hambal banyak mengambil pelajaran dari ilmu dan ijtihad mereka, sehingga dia dapat melampaui kemampuan mereka dan menjadi Imam keempat dengan perjalan hidup dan karya-karyanya yang agung?” Ya, Imam Ahmad telah banyak mengambil pelajaran dari madzhab-madzhab sebelumnya, bahkan dia mampu untuk mengungguli mereka.&lt;br /&gt; Imam Abu Hanifah sudah tiada, Imam Ahmad tidak lagi dapat menemukannya, namun dia sudah meninggalkan dua orang muridnya yang agung, yang menyebarkan ajaran Abu Hanifah setelah wafatnya. Kedua orang murid Abu Hanifah itu adalah Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, keduanya hidup pada masa Imam Ahmad. Maka Imam Ahmad pun belajar dari Abu Yusuf, yang mempunyai kajian ilmu di Masjid Besar kota Baghdad dan ternyata Imam Ahmad dapat melebihi ilmu yang dimiliki Abu Yusuf. Imam Ahmad dikenal sangat berani dalam menegakkan kebenaran, cepat menangkap dan menguasai madzhab Hanafi. Walaupun Abu Hanifah termasuk salah seorang Ahlu Ra’yi (yang banyak menggunakan nalar), tetapi Imam Ahmad tidak mengamalkan dalam fikihnya. Abu Yusuf juga mempunyai peran dalam pembentukan perasaan keagamaan dan sosial Imam Ahmad.&lt;br /&gt; Ketika menginjak usia dua puluh tahun dan pada awal kehidupannya, Imam Ahmad pergi ke kota Madinah. Di kota ini dia bertemu dengan Imam Malik dan mengikuti pelajarannya, sehingga dia banyak mendapat pengaruh dari Imam Malik.&lt;br /&gt; Sedangkan dengan Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad telah bertemu dengannya sewaktu di Baghdad dan lebih lama lagi ketika di Makkah. Imam Ahmad telah menjadikan Imam Asy-Syafi’i sebagai seorang Imam, seorang guru, juga sebagai orangtua bagi dirinya. Imam Ahmad banyak mendapat mengaruh darinya, untuk itu kami telah memperinci penjelasannya dalam satu pembahasan khusus di dalam buku ini. Di sini perlu untuk menyebutkan pengakuan gurunya yaitu Imam Asy-Syafi’i tentang sosok Imam Ahmad bin Hambal, “Aku telah meninggalkan kota Baghdad, tidak ada yang lebih faqih dan yang lebih banyak ilmunya daripada Imam Ahmad bin Hambal”.&lt;br /&gt; Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Taufik-Nya kepada Imam Ahmad dengan sifat-sifat yang diagungkan dan yang dituntut oleh Islam, seperti sifat zuhud, sifat wara’, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menolak kedudukan, sifat rendah diri, ketakwaan, takut kepada Allah, sifat ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan banyak berdoa serta bermunajat.&lt;br /&gt;Asak dan nasabnya&lt;br /&gt; Kakek Imam Ahmad bernama Hambal bin Hilal, seorang Gubernur di kota Sarkhas, salah satu kota di Negeri Khurasan. Kakeknya ini termasuk orang yang sangat ikhlas di dalam melaksanakan tugasnya. Khalifah berusaha untuk dekat dengannya dan diangkatlah salah seorang putranya bernama Muhammad yaitu ayah dari Imam Ahmad, sebagai seorang panglima perang. Pada saat Muhammad hendak menikah, ayahnya memilihkan untuknya putri Abdul Malik bin Suwadah dari Kabilah Syaiban, dari kota Basrah. Kabilah Syaiban ini terkenal dengan kemuliaannya, keberaniannya, dan keilmuannya.&lt;br /&gt; Abdul Malik ini merupakan salah seorang pemuka Kabilah Syaiban, yang terkenal sebagai seorang yang pemurah dan mulia. Dia telah membukakan pintu rumahnya untuk para tamu, atau orang-orang asing, dari Kabilah-kabilah yang datang. Maka Imam Ahmad adalah asli dari keturunan Arab yang mulia.&lt;br /&gt; Panggilannya adalah Abu Abdullah. Namanya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahli bin Rabi’ah bin Nizar.&lt;br /&gt; Nasabnya bertemu dengan Sayyiduna Ismail bin Ibrahim Alaihimassalam, dan nasabnya juga bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Nizar, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari keturunan Mudhar bin Nizar, setiap orang Quraisy adalah keturunan dari Mudhar.&lt;br /&gt; Muhammad bin Hambal menikah dengan putri dari Abdul Malik bin Sawadah, lalu dari keduanya terlahir seorang putra bernama Ahmad pada tahun 164 Hijriah di kota Baghdad.&lt;br /&gt; Usia Muhammad bin Hambal tidaklah panjang, dia wafat ketika masih muda yaitu setelah kelahiran Ahmad. Usianya saat itu belum sampai tiga puluh tahun. Dia meninggalkan putranya Ahmad kepada ibunya, setelah itu ibunyalah yang membesarkannya, yang mendidiknya dan yang menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dan pekerjaannya&lt;br /&gt; Ayahnya telah meninggalkan sebuah rumah yang ditempati oleh dirinya dan ibunya, selain itu meninggalkan juga sebuah bangunan yang disewakan dengan penyewaan yang murah, yang tidak mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, yaitu sebesar tujuh belas Dirham di setiap bulannya.&lt;br /&gt; Kehidupan Imam Ahmad yang seadanya, telah memaksanya untuk bekerja agar dia mendapatkan uang. Dia pun mencari sisa-sisa tanaman yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Imam Ahmad selalu menasehati teman-temannya yang miskin, “Janganlah salah satu dari kalian memasuki kebun seseorang, kecuali dengan izin pemiliknya”.&lt;br /&gt; Terkadang dia juga menjadi penulis untuk mendapatkan imbalan.&lt;br /&gt; Ibnu Jahm berkata, “Kami mempunyai seorang tetangga. Suatu hari dia memperlihatkan sebuah buku kepada kami seraya berkata, “Tahukah kalian tulisan siapa ini?.”&lt;br /&gt; Kami menjawab, “Ini adalah tulisan Imam Ahmad bin Hambal, bagaimana dia bisa menulis itu?.”&lt;br /&gt; Tetangga itu berkata, “Saat aku di Mahlah, aku tinggal di rumah Sufyan bin Uyainah. Aku kehilangan Imam Ahmad bin Hambal untuk beberapa hari, kemudian aku pun datang menanyakan tentang keberadaannya, hingga sampai di depan pintu rumahnya yang tertutup. Aku tanyakan, “Bagaimana keadaanmu?.”&lt;br /&gt; Dia menjawab, “Pakaianku dicuri.”&lt;br /&gt; Aku katakan, “Aku memiliki beberapa Dinar, jika kamu mau, ambillah! Dan jika kamu mau, aku akan meminjamkannya kepadamu?.” Dia pun menolak.&lt;br /&gt; Aku katakan, “Maukah kamu menuliskan sesuatu untukku dengan imbalan.”&lt;br /&gt; “Ya,” jawabnya.&lt;br /&gt; Maka aku keluarkan beberapa Dinar.&lt;br /&gt; Lalu dia berkata kepadaku, “Belilah untukku pakaian, dan potong menjadi dua bagian (yaitu untuk dijadikan sarung dan rida), dan bawalah untukku kertas.” Akhirnya dia pun menuliskan buku ini untukku.&lt;br /&gt; Ibnu Khuzaimah berkata, “Kami bersama Abu Abdillah di sekolah. Para perempuan datang mencari seorang guru, “Kirimlah kepada kami Imam Ahmad bin Hambal agar bisa menjawab buku-buku mereka”. Dia menerimanya dengan imbalan yang sangat sedikit. Jika dia menemui kaum perempuan, dia tidak pernah mengangkat matanya dan tidak pernah melihat seorang pun dari mereka.&lt;br /&gt; Jika jalan hidup telah menghimpitnya, ketika Imam Ahmad tidak lagi mendapatkan harta dan pekerjaan, Imam Ahmad terpaksa meminjam uang dari seorang Ahli Taqwa yang terkenal mengumpulkan hartanya dari yang halal.&lt;br /&gt; Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Imam Ahmad meminjam uang dari beberapa orang saleh, kemudian dia datang untuk mengembalikan uang tersebut. Orang itu berkata kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdullah! Aku telah membayarkannya untukmu dan aku tidak berniat untuk mengambilnya darimu, maka jagalah harta itu untukmu.”&lt;br /&gt; Imam Ahmad menjawab, “Aku tidak meminjam uang itu, kecuali aku berniat untuk mengembalikannya kepadamu. Ambillah hartamu itu dan bersyukurlah kepada Allah, itu adalah untuk (kebaikan)mu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal mencari ilmu&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya Imam Ahmad bin Hambal mencari ilmu di Masjid-masjid kota Baghdad. Setelah dia menghapal Al-Qur’an dan banyak hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, diapun belajar membaca dan menulis.&lt;br /&gt;Dari Baghdad, dia pergi dengan berjalan kaki ke kota Thartus di bagian atas Negeri Syam. Kemudian dia pergi lagi dengan berjalan kaki ke Son’a di Yaman. Imam Ahmad bertemu dengan Abdurraziq bin Hamam, seorang ahli hadits dari Yaman yang sedang duduk di Masjid. Imam Ahmad pun ikut duduk di depannya dan  ketika itu terlihat oleh Yahya bin Ma’in yang mengenalinya. Yahya berkata kepada Abdurraziq, “Ini adalah Ahmad bin Hambal saudaramu.”&lt;br /&gt;Abdurraziq berkata, “Semoga Allah menghidupkannya dan menguatkannya. Sesungguhnya telah sampai semua berita yang baik tentangnya.”&lt;br /&gt;Abdurraziq mendiktekan tujuh puluh hadits kepada orang yang hadir lalu berkata, “Hadits-hadits ini adalah ucapan selamat dariku kepada Ahmad bin Hambal. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan bisa memberikan hadits kepada kalian.”&lt;br /&gt;Imam Ahmad tinggal di kota Son’a selama dua tahun dan setelah itu kembali pulang ke Makkah.&lt;br /&gt;Imam Ahmad Radhiyallahu Anhu berpindah-pindah pergi ke Kota Kufah, Basrah, Madinah, dan Makkah. Kemudian dia pergi ke setiap Negeri yang terdapat Ulama, yang bisa diambil ilmunya.&lt;br /&gt;Imam Ahmad sangat antusias sekali dalam menerima ilmu. Dia tidak pernah disibukkan dengan pekerjaan hanya untuk mencari rezeki atau menikah, hingga dia mencapai apa yang diinginkannya, dan Allah Memberikan kepadanya apa yang dimintanya. Terkumpul padanya ilmu orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang sekarang dari setiap golongan. Dia pun memberikan apa yang dia kehendaki dan menahan apa yang dia kehendaki.&lt;br /&gt;Imam Ahmad Rahimahullah telah menghapal beribu-ribu hadits, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Zar’ah. Seseorang bertanya kepada Abu Zar’ah, “Wahai Abu Zar’ah, apa yang kamu ketahui tentang Imam Ahmad bin Hambal yang telah menghapal beribu-ribu hadits?.” Abu Zar’ah menjawab, ”Aku telah mengingat-ngingatnya dan mengambil darinya beberapa bab.”&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada Abu Zar’ah, “Siapakah yang lebih hapal, apakah Anda atau Ahmad bin Hambal?.”&lt;br /&gt;“Ahmad bin Hambal”, jawab Abu Zar’ah.&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah persaksian dari Abu Zar’ah, seorang Ulama besar.&lt;br /&gt;Imam Ahmad tidak terputus dalam pencarian ilmunya, dia sangat memperhatikan hadits Nabi dan periwayatannya.&lt;br /&gt;Seseorang melihat Imam Ahmad membawa tempat tinta, dia bertanya, “Wahai Abu Abdullah, Anda telah mencapai usia seperti ini dan masih membawa tempat tinta?.” &lt;br /&gt;Imam Ahmad menjawab, “Dari mahbarah (tempat tinta) ke maqbarah (kuburan).”&lt;br /&gt;Banyak sekali perjalanan Imam Ahmad dalam perjuangannya mencari hadits. Sebuah kabar sampai kepadanya tentang seseorang yang berada di Negeri sangat jauh, yang telah meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang ini sangat hafal ucapannya dan menyampaikan kepada siapa saja yang menghendakinya.&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal pergi menemui orang itu, dia menemukannya sedang memberi makan seekor anjing. Imam Ahmad mengucapkan salam kepadanya, dia pun membalas salam dan kembali sibuk memberi makan anjingnya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Imam Ahmad.&lt;br /&gt;Setelah selesai memberi makan anjingnya, dia menoleh kepada Imam Ahmad dan berkata, “Barangkali Anda mempertanyakan kepada diri Anda kenapa aku mengurus anjing ini.”&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Imam Ahmad.&lt;br /&gt;Orang itu berkata, ”Berkata kepadaku Abu Ziyad dari A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memutuskan harapan orang yang mengharapkannya, maka Allah akan memutuskan harapan orang itu pada hari Kiamat dan dia sekali-kali tidak akan masuk Surga.”&lt;br /&gt;Kemudian orang itu berkata, “Anjing ini telah datang menemuiku, aku takut memutuskan harapannya.”&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Cukuplah bagiku hadits ini,” dan dia pun kembali pulang.&lt;br /&gt;Imam Ahmad juga belajar kepada Abdullah bin Mubarak, seorang ahli fikih, yang luas ilmu dan hartanya. Ibnu Mubarak berusaha untuk membantu Imam Ahmad bin Hambal dengan harta, tetapi dia selalu menolaknya dan berkata, “Aku mengikutinya karena kefaqihan dan keilmuannya, bukan karena hartanya.”&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal adalah salah seorang yang kagum terhadap Ibnu Mubarak, kagum akan kepribadian, kefaqihan, keilmuan dan tindak-tanduknya di masyarakat.&lt;br /&gt;Abdullah bin Mubarak adalah salah seorang diantara orang-orang yang mempengaruhi Imam Ahmad bin Hambal dalam pembentukan pemikiran, perilaku dan sikap-sikapnya.&lt;br /&gt;Imam Ahmad keluar dari kotanya hanya untuk mencari hadits dan berjihad. Dia pernah pergi ke Tharthus dan tinggal beberapa saat di sana, kemudian kembali lagi ke Baghdad. Imam Ahmad berpendapat bahwa jihad adalah wajib bagi orang yang mampu, baik dengan jiwa, atau harta, atau dengan keduanya.&lt;br /&gt;Disamping mencari hadits, Imam Ahmad juga mencari ilmu-ilmu fikih. Dia mencari fikih para Khulafaur-rasyidin, fikih sahabat lainnya, fikih Tabi’in dan fikih Tabi’ut-tabi’in.&lt;br /&gt;Imam Ahmad terbiasa pergi ke kota Makkah dan Madinah pada musim haji, tidak ada seorangpun yang menarik perhatiannya kecuali Imam Asy-Syafi’i.&lt;br /&gt;Waktu itu Imam Ahmad bin Hambal berusia dua puluh dua tahun dan Imam Asy-Syafi’i lebih tua darinya lima belas tahun.&lt;br /&gt;Imam Ahmad merasakan bahwa Asy-Syafi’i bukan hanya sekedar seorang guru, tetapi dia juga menganggap sebagai orangtua bagi dirinya. Imam Asy-Syafi’i selalu menjaganya di setiap sisi kehidupannya, dia juga selalu menanyakan tentang kehidupan dan jalan kehidupannya.&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i memiliki keinginan yang kuat untuk mengamalkan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, berhasrat untuk menyerupai beliau di dalam semua perkara agama. Tidak ada satupun hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dihapalnya, kecuali dia mengamalkannya. Untuk itu, dia telah meletakkan Kitabullah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah di hadapannya. Dimana para sahabat pertama menjadikan keduanya sebagai dasar ilmu mereka, mereka jauh dalam menggunakan ra’yu dan Allah pun telah memberi taufik kepadanya, atas segala apa yang telah dipelajarinya.&lt;br /&gt;Imam Ahmad seorang guru&lt;br /&gt; Imam Ahmad bin Hambal tidak pernah duduk di atas kursi untuk mengajarkan ilmunya kepada seseorang, kecuali setelah dia mencapai usia empat puluh tahun. Hal itu dimaksudkan untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dimana beliau memulai kerasulannya pada usia empat puluh tahun.&lt;br /&gt; Kabar tentang Imam Ahmad menyebar di Negeri-negeri kaum muslimin. Banyak orang yang berdatangan dari berbagai Negeri hanya untuk mendengar ilmunya. Mereka membacakan kepadanya dan meriwayatkan hadits, fikih dan tafsir darinya. &lt;br /&gt; Imam Ahmad menyediakan dirinya untuk mengajarkan apa yang diinginkan oleh mereka. Pengajarannya dilakukan di Masjid Baghdad setelah shalat Ashar, yang selalu penuh dengan kekhidmatan dan ketenangan. Dia tidak menyukai bercanda, dan para muridnya pun sudah tahu akan hal itu. Mereka sangat patuh kepadanya, tidak ada seorangpun dari mereka yang berani untuk mengeluarkan perkataannya, walaupun satu kata.&lt;br /&gt; Setelah shalat Ashar, Imam Ahmad bersandar pada dinding Masjid dan orang-orang pun mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya tentang fikih, hadits dan tafsir. Imam Ahmad menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, hingga datang waktu Maghrib dan semuanya bersiap untuk melaksanakan shalat.&lt;br /&gt; Imam Ahmad tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali pertanyaan yang bermanfaat. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya tentang sesuatu dan dia pun menjawabnya, tetapi orang itu mendebatnya pada saat dia menjawab, dia pun enggan untuk menjawab kembali pertanyaan orang itu. Akhirnya orang-orang yang hadir pun tahu bahwa orang itu bertanya tentang sesuatu yang tidak bermanfaat. Imam Ahmad tidak meninggalkan orang itu, tetapi dia berkata, “Majlis kita ini adalah majlis ilmu yang bermanfaat. Jika bukan itu yang kamu inginkan, maka pergilah dan cari majlis yang lain. Jauhkanlah dirimu dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat. Manusia itu hanya mempunyai satu lidah dan dua telinga, tujuannya agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ucapan yang buruk tidak akan membawa kepada kebaikan.” Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang mendengarkannya, “Jika kalian melihat orang yang senang berbicara, maka hindarilah dia. Janganlah kamu bergaul dengannya. Sesungguhnya orang yang ahli ilmu, mereka membenci untuk berbicara banyak yang tidak bermanfaat.”&lt;br /&gt; Orang-orang pun terbiasa untuk bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal kalau bertemu, dan dia pun menjawab pertanyaan mereka setelah meriwayatkan. Tetapi kebanyakan dia menjawab kepada mereka, “Tidak tahu.”&lt;br /&gt; Periwayatan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyibukannya. Dia ingin konsentrasi menyusun hadits-hadits yang telah dikumpulkannya dalam perjalanan-perjalanannya yang banyak. Hadits-hadits ini diisnadkan (disandarkan) kepada rawi pertamanya dari para sahabat. Setiap sahabat mempunyai musnad (sandaran) yang khusus.&lt;br /&gt; Imam Ahmad pun mulai memikirkan bagaimana mengumpulkan musnadnya, meneliti dan menyeleksi hadits-hadits yang ada padanya, apa yang dihapalnya, dituliskan di atas kertas. Kemudian dari hadits-hadits ini, dia teliti dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’annya, sehingga memudahkannya untuk menyimpulkan sebuah hukum. &lt;br /&gt; Imam Ahmad mengumpulkan hadits-haditsnya dalam musnadnya yang terkenal yaitu “Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal” dalam berbagai kitab, dan dia terus melakukan pengumpulan hadits sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt; Shaleh bin Ahmad bin Hambal berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, “Barangsiapa yang mengagungkan ahli hadits, maka dia akan agung dalam pandangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan barangsiapa yang menghinakan mereka, maka dia akan jatuh dalam pandangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena ahli hadits adalah pengikut setia Rasulullah Shallallhu Alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt; Imam Ahmad dikenal sebagai sosok yang sangat berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dan benci akan bid’ah. Terkadang Imam Ahmad ketika berbicara di depan kumpulan orang-orang baik, jika dari mereka ada yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Nabi, biasanya kata-katanya lebih mengarah kepada menasehati mereka.&lt;br /&gt; Imam Ahmad bin Hambal menjadi sosok orang yang paling hapal hadits di Baghdad, tidak ada seorang pun yang lebih dalam pengetahuannya tentang peninggalan sahabat dan fatwa-fatwa mereka daripadanya, disamping pengetahuannya tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Hingga melekat padanya metode khusus dalam pengambilan hukum-hukum yang berbeda dengan metode dua Imam sebelumnya, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas. Kebanyakan fatwa-fatwa Imam Ahmad mengikuti gurunya Imam Asy-Syafi’I, sehingga akhirnya dia menjadi seorang Imam.&lt;br /&gt; Imam Ahmad mulai menafsirkan Al-Qur’an, meriwayatkan hadits dan mentafsirkannya, menjelaskan tentang pengambilan hukum dalam madzhabnya kepada orang, dan memberikan fatwa atas apa yang ditanyakan kepadanya dari berbagai masalah.&lt;br /&gt; Dalam majlis-majlis ilmunya, Imam Ahmad selalu mengajarkan bahwa orang yang meriwayatkan hadits shahih dan tidak mengamalkannya, berarti dia adalah orang munafik.&lt;br /&gt; Imam Ahmad juga menjelaskan ilmu Ushul al-Fiqh dan cabang-cabang fikih kepada para muridnya. Dia menjawab beribu-ribu permasalahan yang membuatnya lebih terkenal dan orang-orang pun semakin banyak memenuhi majlis-majlis ilmunya. Mereka menemukan padanya ilmu yang luas, ucapannya enak, pendapat-pendapatnya baik, penyabar dan banyak dari mereka mengikutinya sampai ke rumahnya. Mereka tidak memberikan kepadanya kesempatan untuk beristirahat, atau bekerja yang lain.&lt;br /&gt; Imam Ahmad juga memperhatikan jika dalam majlisnya dia menemukan ada orang yang menulis jawaban-jawabannya tentang fikih, dia melarangnya karena dia tidak suka menulis tentang fikih.&lt;br /&gt; Suatu hari seseorang bertanya, “Kenapa Anda melarang untuk menulis fikih? Ibnu Mubarak yang kami tahu bagaimana dia di mata Anda, dia menulis fikih Ahlu Ra’yi di Irak?.”&lt;br /&gt; Imam Ahmad menjawab, “Ibnu Mubarak tidak turun dari langit, kita telah diperintah untuk mengambil ilmu dari atas…dari Al-Qur’an dan Sunnah.”&lt;br /&gt; Imam Ahmad Radhiyallahu Anhu takut jika fikih dibukukan, maka hukum-hukum Islam akan membeku dan taklid akan menyebar selama beberapa dekade. Fikih itu akan terus berubah dan yang utama adalah mengambilnya dengan menggunakan ijtihad dan menjauhi taklid. Di hadapan kita ada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, atsar (peninggalan) sahabat, itu semua lebih utama untuk dibukukan daripada membukukan fikih.&lt;br /&gt; Setelah shalat Ashar, Imam Ahmad bin Hambal terbiasa memberikan fatwa kepada orang-orang dan para muridnya terhadap apa yang mereka tanyakan di dalam majlis ilmunya. Dia menyibukkan dirinya dan orang yang hadir dalam majlisnya juga menyibukkan diri mereka dengan Al-Qur’an, hadits dan atsar para sahabat, sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf (pendahulu) mereka.&lt;br /&gt; Imam Ahmad mengajarkan kepada mereka bahwa ayat-ayat Al-Qur’an saling menafsirkan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, atau dia menafsirkannya dengan hadits-hadits shahih dan atsar para sahabat, yang ilmunya mereka ambil langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt; Pokok materi ilmu dalam majlisnya adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, Sunnah juga atsar para Sahabat.&lt;br /&gt; Sekelompok Ulama telah menimba ilmu dari Imam Ahmad, dan merekalah yang kemudian menyebarkan pendapatnya, yaitu agar berpegang teguh dengan apa yang ada dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan apa yang ada dari atsar para tokoh Sahabat dan fatwa-fatwa mereka. Diantara muridnya adalah Imam Ahmad bin Taimiyah Syaikh al-Islam, Ibnu Qayyim al-Jauziah, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani dan yang lainnya dari para Ulama, yang ilmu-ilmunya menyebar di Negeri-negeri kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Imam Ahmad&lt;br /&gt; Imam Ahmad bin Hambal Radhiyallahu Anhu menganggap tidak perlu untuk menulis buku, dan dia melarang agar tidak menuliskan ucapannya dan berbagai masalah yang dijawab olehnya. Seandainya dia tidak berpendapat seperti itu, mungkin karangan-karangannya akan banyak sekali dan akan banyak juga buku yang menukilnya.&lt;br /&gt;Karangan-karangannya yang dinukil&lt;br /&gt;- Musnad, berisikan empat puluh ribu hadits.&lt;br /&gt;Imam Ahmad berkata kepada anaknya, “Jagalah musnad ini, karena ini nanti akan menjadi Imam (petunjuk).” &lt;br /&gt;Disebutkan bahwa musnadnya ini adalah hasil seleksi dari tujuh ratus ribu hadits.&lt;br /&gt;- Tafsir, yaitu beribu-ribu hadits dan atsar yang menafsirkan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;- Al-Muqaddam wa al-Mu’akhar fi Al-Qur’an (Pendahuluan dan penutup di dalam Al-Qur’an).&lt;br /&gt;- Jawabat Al-Qur’an (Jawaban-jawaban Al-Qur’an).&lt;br /&gt;- Al-Manasik al-Kabir wa ash-Shagir (Peribadatan yang besar dan kecil).&lt;br /&gt;- Al-Naskh wa al-Mansukh&lt;br /&gt;- Sejarah&lt;br /&gt;- Zuhud&lt;br /&gt;- Ar-Raddu ‘Ala al-Jahmiah (Jawaban atas kelompok al-Jahmiah)&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim berkata, “Imam Ahmad –Rahimahullah- sangat benci menulis buku, dia lebih suka menyampaikan hadits, membenci ucapan-ucapannya ditulis, bahkan dia sangat bersikap keras akan hal itu.”&lt;br /&gt;Allah Maha Mengetahui kebaikan niat dan tujuannya, lalu dia menulis ucapan dan fatwa-fatwanya lebih dari tiga ratus sifr (buku). Allah telah memberi banyak dari buku-bukunya itu untuk kita, hanya sedikit saja yang tidak sampai kepada kita.&lt;br /&gt;Al-Khallal telah mengumpulkan teks-teksnya dalam Al-Jami’ al-Kabir sebanyak dua puluh sifr (buku) dan bahkan lebih dari itu.&lt;br /&gt;Fatwa-fatwa Imam Ahmad dan berbagai masalahnya, telah diriwayatkan dari Abad ke Abad dan menjadi pegangan utama para ahli hadits dengan berbagai tingkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’i&lt;br /&gt; Imam Ahmad bin Hambal sangat terpengaruh oleh Imam Asy-Syafi’i, seperti seorang murid yang ikhlas, yang terpengaruh oleh gurunya. Sampai-sampai Imam Ahmad bin Hambal berkata setelah dia menjadi seorang Imam, “Jika aku ditanya tentang suatu masalah dan tidak menemukan jawabannya dalam hadits Nabi, atau atsar (peninggalan) sahabat, maka aku akan mengambil pendapat Asy-Syafi’i tentang masalah itu.”&lt;br /&gt; Penghormatannya kepada Imam Asy-Syafi’i sampai pada tahap kalau dia enggan untuk menuliskan fikih semua syuyukh (gurunya) dalam satu kitab…kecuali fikih Asy-Syafi’i.&lt;br /&gt; Imam Ahmad membacakan buku-buku karangan gurunya Abu Yusuf dan buku-buku karangan Muhammad bin Hasan, namun dia enggan untuk menuliskan fikih keduanya…Dia melarang para pengikutnya untuk menuliskan pendapat-pendapatnya, atau fikihnya sendiri…Tetapi ketika datang kepadanya kitab Ar-Risalah yang baru, yang ditulis oleh Imam Asy-Syafi’i pada saat di Mesir, dia sangat terpesona dengan Ar-Risalah dan dia pun membacakannya kepada para pengikutnya…menyarankan mereka untuk mempelajarinya dan dia sendiri menyimpannya di dalam lemari buku-bukunya…Begitulah yang dia lakukan terhadap semua buku Imam Asy-Syafi’i yang ditulis di Mesir.&lt;br /&gt; Imam Ahmad pernah mendengar ucapan Imam Asy-Syafi’i:&lt;br /&gt;- “Aku mencintai orang-orang saleh, tetapi aku bukan termasuk golongan mereka. Aku berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.”&lt;br /&gt;- “Aku membenci orang yang barang-barang bawaannya adalah kemaksiatan, walaupun kita sama-sama membawa barang.”&lt;br /&gt;Kemudian Imam Ahmad membalas dengan ucapan:&lt;br /&gt;- “Anda mencintai orang-orang saleh dan Anda ada diantara mereka. Orang yang baik dalam satu kaum, dia akan berada di depan rombongan.”&lt;br /&gt;- “Anda membenci orang yang barang-barang bawaannya adalah kemaksiatan, semoga Allah melepaskan Anda dari barang seperti itu.”&lt;br /&gt;Para pengikut Imam Ahmad tahu kecenderungan Imam Ahmad kepada Imam Asy-Syafi’i. Dia mewasiatkan kepada mereka untuk membaca buku-bu
